JENDELAISLAM.ID – Imam Besar Masjid Nabawi, Syekh Ahmad bin Ali al-Hudzaify, memuji perkembangan ilmu keislaman yang ada di Pesantren Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini dibuktikan dengan lahirnya banyak ulama dan karya-karya yang diakui secara internasional.
Ahmad Ginanjar Sya’ban, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menceritakan bahwasanya Imam Besar Masjid Nabawi banyak memuji tentang tradisi keilmuan yang berkembang di lingkungan pesantren dan NU. Menurut Imam Besar Masjid Nabawi, sebagaimana dinukil Ginanjar, tradisi keilmuan pesantren NU merupakan tradisi keilmuan yang sangat dalam, mengakar, dan lama.
Ginanjar menyampaikan hal itu selepas pertemuan dengan Ketua Umum PBNU di Lantai 3 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (09/10/2024).
Selain itu, lanjut Ginanjar, Syekh Ahmad juga menyebut bahwa salah satu Ulama Makkah Syekh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki memiliki hubungan dengan tradisi keilmuan Islam di Indonesia dan juga dengan para kyai NU.
Syekh Ahmad mencontohkan kitab “Tafsir Munir” yang dikarang oleh Syekh Nawawi Banten. Syekh Nawawi ini, kata Syekh Ahmad, adalah Mahaguru Ulama Nusantara pada zamannya yang mengajar menulis dan menulis karya hingga wafat di Makkah.
“Syekh Nawawi juga terhitung sebagai satu guru utama dari pendiri Jam’iyyah NU, yaitu Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari,” ujarnya.
Karya lain yang membuat Imam Besar Masjid Nabawi merasa kagum lagi adalah kitab “Tafsil al-Ibriz” karya KH. Bisri Mustofa. Di samping itu, karangan Kyai Bisri yang lain juga disebutkan terjemah Jawa Pegon atas terjemah ‘al-Fiiyah Ibnu Malik’ juga karya-karya yang lain.
Di sisi lain, Syekh Ahmad juga mengapresiasi pola keberagamaan di Indonesia yang harmonis, rukun, dan toleran tanpa ada konflik berarti. “Beliau mengatakan bahwa Muslim Indonesia dan kehidupan di Indonesia bisa dijadikan cerminan dan contoh bagi umat Muslim di belahan Muslim lain,” jelasnya.
Hadir dalam pertemuan di kantor PBNU tersebut: Syekh Ahmad bin Ali al-Hudzaify (Imam Besar Masjid Nabawi), Faisal Abdullah al-Amudi (Duta Besar Kerajaan Arab Saudi), Gus Yahya (Ketua Umum PBNU), KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun (Katib Syuriah PBNU), Zulfa Mustofa (Wakil Ketua PBNU) serta Habib Hasan al-Bahas (Ketua LAZISNU).***
Sumber: NU Online
