JENDELAISLAM.ID – Puasa adalah ritual yang sangat menarik. Banyak aspek positif yang bisa dipetik dari diperintahkannya kita untuk berpuasa. Fisik, sosial, spiritual, mental.
Puasa merupakan satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Seorang mukmin dengan puasanya, akan diberi pahala yang luas dan tidak terbatas. Sebab, puasa itu hanya diperuntukkan bagi Allah yang kedermawanan-Nya sangat luas. Dengan puasa, dia akan memperoleh ridha Allah.
Puasa, menurut Wahbah az-Zuhaili, dalam buku “Puasa dan Iktikaf”, merupakan madrasah moralitas yang besar dan dapat dijadikan sarana latihan untuk menempa berbagai macam sifat terpuji.
Puasa adalah jihad melawan nafsu, menangkal godaan-godaan dan rayuan-rayuan setan yang terkadang terlintas dalam pikiran. Puasa bisa membiasakan seseorang bersikap sabar terhadap hal-hal yang diharamkan, penderitaan, dan kesulitan yang kadangkala muncul di hadapannya.
Pada saat dia melihat hidangan makanan lezat di hadapannya, yang baunya menyeruak sampai ke perut, atau dia melihat air tawar yang sejuk menari-nari di hadapannya, maka pada saat itu pula dia harus menahan diri dari semuanya dan menunggu sampai waktu yang diizinkan oleh Tuhannya tiba.
Puasa mendidik seseorang untuk bersikap jujur dan merasa diawasi oleh Allah SWT. Baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keramaian, karena saat itu tidak seorang pun yang mengawasi orang yang berpuasa selain Allah SWT.
Puasa mengajarkan sikap disiplin dan ketepatan, karena puasa menuntut orang yang berpuasa untuk makan dan minum pada waktu yang telah ditentukan. Puasa dapat menimbulkan solidaritas di kalangan umat Islam.
Puasa dapat menumbuhkan naluri kasih sayang, ukhuwah dan perasaan keterikatan dalam tolong menolong yang dapat menjalin rasa persaudaran sesama umat Islam.
Tetapi itu semua harus dilakukan dengan benar. Niat benar, cara benar, diimbangi dengan pengetahuan seputar puasa yang memadai. Jika tidak, puasa yang kita lakukan bisa berujung pada kesia-sian. Yakni tidak memperoleh makna dan manfaat yan sesungguhnya, kecuali hanya dapat lapar dan haus.
Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga” (HR. Ahmad, Ibnu Majah).
Fenomena banyak orang berpuasa, namun hanya mendapat lapar dan haus terjadi karena puasa hanya dilakukan secara fisik (menahan makan/minum) tanpa menjaga hati dan anggota tubuh dari maksiat, dusta, ghibah, perbuatan sia-sia, dan sebagainya.
Apakah kita mau puasa yang kita lakukan hanya menghasilkan itu saja? Tentu tidak bukan.
Dengan berpuasa mestinya menjadikan kita lebih baik daripada tidak berpuasa. Bukankah Allah SWT menyatakan bahwa “… Berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. al-Baqarah: 184).***
Foto: Pixabay/milaoktasafitri
