Pesantren Al-Raudlah Kajen Terapkan Pendekatan Kultural dalam Menciptakan Lingkungan yang Ramah Santri

JENDELAISLAM.ID – Pengasuh Pesantren Al-Raudlah Kajen, Margoyoso Pati, Jawa Tengah, KH. Muhammad Farid Abbad, mengatakan upaya untuk mencegah terjadinya kekerasan atau mewujudkan relasi ramah anak di pesantren bisa menggunakan pendekatan kultural yakni personal dan emosional (ikatan batin) dengan para santri.  

Pria yang akrab dipanggil Gus Faried ini mengatakan bahwa pendekatan yang digunakan dalam menciptakan pesantren ramah santri di pesantrennya adalah pendekatan kultural. Pesantren itu ibarat rumah bersama baik bagi santri, pengurus maupun pengasuh. Relasinya seperti bapak dengan anak dan kakak dengan adik.

“Setiap hari, saya pribadi atau abah dan ibu berinteraksi (dengan santri), tidak hanya saat ngaji dan kegiatan pesantren saja. Namun, setiap hari itu kadang ngobrol, makan jajan bersama dan ngopi bersama. Itu adalah mekanisme kultural. Hingga saat ini kita hapal satu persatu nama-nama santri kita,” jelasnya, pada Sabtu (09/11/2024).

Tak dimungkiri, di lingkungan pesantren terjadi kasus perundungan. Sebab, salah satu budaya santri yang cukup kental adalah gojlok-gojlokan. Ia sebagai pengasuh memantau selama 24 jam sehari agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.  ​

Apabila terjadi kasus gojlok-gojlokan yang mengarah pada perundungan, ia dengan sigap akan menegur santri tersebut dan menyelesaikannya secara kekeluargaan. Menurutnya, ia bisa tahu apa masalah yang dihadapi santri lewat aduan dari pengurus atau mendengar langsung dari kamarnya. Karena kamar tidurnya berhadap-hadapan dengan kamar santri.

“Teguran pasti ada, sanksi atau punishment yang mendidik kita lakukan. Tapi konflik dan kebencian itu penting untuk kita hilangkan (antara) kelompok-kelompok yang merundung dan yang dirundung. Kenapa di Al-Raudlah sangat minim terjadi perundungan, karena kedekatan kita dengan santri tidak ada sekat atau jarak,” ungkapnya.  

Gus Farid juga menjelaskan bahwa di pesantren Al-Raudlah membuka konseling santri yang berada dinaungan Divisi Crisis Center. Divisi ini menerima aduan, curhatan, masukan dan kritik santri dan berdiri sejak tahun 2020. Melalui media ini, santri dapat menyampaikan keluh kesah, tekanan dalam pembelajaran dan masalah lainnya. 

Gus Faried berharap Crisis Center ini tidak hanya menjadi ruang konseling semata, namun juga pengembangan bakat. “Artinya atau tidak hanya masalah yang kita tangani. Tentu manusia mempunyai dua dimensi, dimensi kelebihan dan kekurangan. Maka Crisis Center mempunyai dua sisi itu. Pertama, menyelesaikan kekurangan-kekurangan para santri. Di sisi lain, kita melihat kemampuan para santri yang layak untuk ditumbuh-kembangkan,” ujarnya.

Pengurus sekaligus Santri Senior Pesantren Al-Raudlah, Khoirul Intifaul Ma’robby, mengatakan, sepanjang pengalamannya mondok di sini, pola pengasuhan santri mengedepankan empati dan tanpa kekerasan fisik maupun mental.

Menurutnya, pesantren ini dapat dikategorikan ramah anak. Relasi antar-santri dan santri terhadap guru terjadi dalam hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang. Ini terbukti saat ada santri melakukan kesalahan, pengurus atau guru tidak memberi hukuman fisik atau marah, namun dilakukan pembinaan dan bimbingan terhadap santri tersebut.

Menurutnya, pola relasi antar-santri dibangun dengan dasar kasih sayang dan saling menghormati sehingga tidak terjadi gesekan seperti perundungan maupun kekerasan fisik. Bahkan santri senior diberi tugas untuk menjadi mentor belajar dan penyesuaian diri bagi santri-santri junior atau adik kelas.

“Kami menyediakan ruang konseling atau guru pembimbing khusus yang bisa menjadi tempat santri berbicara jika mengalami masalah. Hal ini membuat santri merasa didengar dan tidak takut untuk melapor jika merasa tidak nyaman atau mengalami kesulitan,” kisahnya.

Ia berharap, pesantren al-Raudlah dan pesantren lain konsisten menciptakan tempat belajar santri yang aman dan damai. Serta tidak terjadi kekerasan baik secara fisik dan mental antar-santri maupun oleh atau kepada guru.***  

Sumber: NU Online & Foto: Pes. Al-Raudlah