Di Era Digital, Manusia harus Bijak Menggunakan Teknologi

JENDELAISLAM.ID – Smartphone kini memang sepertinya tidak bisa lepas dari hidup manusia. Sulit bagi manusia melepaskan ketergantungan dari teknologi satu ini. Mulai dari saat bangun tidur hingga mapan tidur, smartphone hampir selalu lekat dalam genggaman.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan hal ini  dalam acara Pengajian Dosen dan Karyawan Universitas Muhammadiyah Malang pada Rabu (03/07/2024).

Menurutnya, mengendalikan penggunaan smartphone bukanlah hal yang mudah. Ia sering kali melihat pemandangan di mana dua orang duduk berdekatan, namun mereka tidak berbicara satu sama lain. Banyak orang berjumpa, tapi tidak bertemu. Mereka hadir secara fisik, tapi tidak berinteraksi.

Bahkan, aktivitas yang seharusnya khusyuk seperti shalat pun terganggu. Saat imam sedang melantunkan bacaan dengan indah, tiba-tiba dering suara smartphone yang lupa di-silent memecah konsentrasi. Hal-hal kecil seperti itu, bisa sangat mengubah ritme kehidupan manusia.

Haedar menyebut, ternyata media sosial telah menjadi simulakra, yaitu realitas buatan yang awalnya tampak maya, namun kini menjadi nyata dan mempermainkan manusia. Realitas buatan ini, lanjutnya, menciptakan dunia pasca-kebenaran. Ini terlihat dari perilaku netizen saat menyikapi sebuah berita bombastik, dimana orang kadang hanya membaca judul tanpa menelaah isinya, namun langsung membagikannya.

Keberislaman dalam realitas baru ini, kata Haedar, perlu reaktualisasi. Manusia memang tidak bisa lepas dari smartphone, namun ia harus tetap menjadi diri sendiri, terutama sebagai hamba Allah. Tugas umat Islam adalah menjadi pengabdi setia kepada-Nya, tidak menyekutukan-Nya, selalu melaksanakan perintah, dan menjauhi larangan dalam kehidupan yang semakin kompleks ini.

Oleh karena itu, Haedar menyerukan penggunaan teknologi secara bijak, memastikan bahwa tetap dapat berinteraksi secara nyata dengan lingkungan sekitar, serta tidak membiarkan teknologi mendominasi hidup. Hanya dengan begitu bisa tetap menjalani hidup dengan seimbang, sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sumber Teks & Foto: Muhammadiyah Online