Skema Murur Berdampak Positif pada Kesehatan Jamaah

JENDELAISLAM.ID – Pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 1445 H/2024 M, pemerintah melalui Kementerian Agama menerapkan skema murur pada pergerakan jamaah saat puncak haji dari Arafah ke Muzdalifah, lalu Mina (Armuzna).

Kebijakan ini mendapat apresiasi dari Kementerian Kesehatan karena berdampak positif dengan berkurangnya jamaah kelelahan pasca Armuzna dibanding tahun lalu.

Murur adalah mabit (menginap) dengan cara melintas di Muzdalifah setelah menjalani wukuf di Arafah. Jamaah melintasi kawasan Muzdalifah dengan tetap berada di atas bus, tanpa turun dari kendaraan, dan bus terus melaju membawa jamaah menuju tenda Mina.

“Kami menilai murur atau melintas di Muzdalifah dari Arafah, ini merupakan terobosan yang sangat bagus dari Kemenag,” ujar Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Liliek Marhaendro, di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, Senin (24/06/2024).

Menurutnya, kebijakan ini membawa dampak positif pada kesehatan jamaah. Indikatornya, jamaah yang kelelahan usai Armuzna jauh berkurang dibanding tahun sebelumnya.

Baca juga: Penerapan Skema Murur Efektif, Jamaah Tiba di Mina Tepat Waktu

Berdasar pengalaman, kata Liliek, jamaah yang kelelahan karena wukuf, dan dalam kondisi sakit tahun lalu, yang mendapat perawatan meluber hingga lobi KKHI. Tahun lalu sampai ada 60 orang mendapat perawatan di lobi KKHI.

Namun, tahun ini, tambahnya, semua jamaah yang mendapat keluhan kesehatan berada di ruang perawatan, bahkan bed-nya masih tersisa.

Hasil inspeksi Kementerian Kesehatan pemerintah Arab Saudi ke KKHI, kata Liliek, jamaah yang dirawat di KKHI sebagian besar dinilai layak untuk bisa kembali ke hotel. Artinya, imbuh Liliek, kebijakan murur di Muzdalifah memberikan dampak kesehatan yang cukup bagus buat jamaah.***

Sumber Teks & Foto: Kemenag