Sang Nabi, dari Ummi menjadi Jenius

JENDELAISLAM.ID – Pemahaman banyak orang tentang Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini adalah Nabi penutup yang ummi, tidak bisa baca-tulis. Itulah keterangan yang sering kita terima dari ustadz, kyai atau siapapun. Apalagi dalam nash-nash al-Qur’an menyebutkan ke-ummi-an Muhammad secara jelas.

Tapi ini terdengar aneh bagi kita. Bagaimana tidak? Nabi yang cerdas, paham dan hafal betul tentang isi al-Qur’an dikatakan ummi (buta huruf). Di samping itu banyak bukti sejarah yang bertolak belakang dengan pernyataan bahwa Muhammad adalah ummi. Nabi adalah seorang pemimpin yang hebat di Madinah. Beliau memiliki puluhan staf ahli –setara dengan menteri dalam kabinet. Ada staf ahli di bidang keuangan, bidang perekonomian, pertahanan dan militer, sampai pada sekretaris negara dan pemerintahan.

Bahkan punya sekretaris khusus dalam bidang penyusunan wahyu yang beliau terima selama masa kerasulan, untuk dijadikan kitab yang sistematis. Penyusunan kitab al-Qur’an itu langsung di bawah pengawasan beliau. Data lain, Nabi saw. juga sering mengirimkan surat kepada pemimpin-pemimpin negara tetangga agar mereka mau masuk Islam. Surat-surat itu itu bertanda tangan dan berstempel Muhammad.

Agus Mustofa, penulis buku “Metamorfosis Sang Nabi”, cukup jeli dalam hal ini. Menurutnya, nash-nash al-Qur’an yang berbicara tentang ke-ummi-an Nabi memang benar. Semua ini adalah bagian dari skenario Allah untuk menjaga kemurnian dan keotentikan al-Qur’an dari tuduhan orang kafir yang ragu terhadap al-Qur’an. Nah, jika Muhammad bisa membaca dan menulis, akan muncul tuduhan yang sangat memojokkan bahwa al-Qur’an adalah buatan Muhammad. Dalam hal ini, ke-ummi-an Muhammad bukan melemahkan posisi Nabi tapi justru memperkuatnya karena menunjukkan bahwa al-Qur’an benar-benar bukan buatan Nabi melainkan wahyu Allah.

Namun ke-ummi-an Muhammad, masih menurut Agus Mustofa, tidaklah seterusnya. Ummi-nya Muhammad adalah di masa-masa sebelum diangkat menjadi rasul. Semuanya berubah setelah beliau menjadi rasul dengan turunnya wahyu pertama di gua Hira. Wahyu pertama (al-Alaq: 1-5) inilah yang mengindikasikan bahwa Nabi mulai belajar membaca dan menulis. Berangsur-angsur Muhammad diajari baca tulis oleh Allah melalui Malaikat Jibril yang kemudian mengantarkannya menjadi ilmuwan yang jenius.

Setelah wahyu pertama juga sudah menyinggung soal belajar dengan pena (al-Alaq: 4), ayat lain pun mempertegas lagi yakni pada QS. al-Qalam (pena). Wahyu ini bukan sebuah kebetulan semata, melainkan penegasan yang disengaja bahwa seorang muslim dimulai dari keteladanan Rasulnya—harus pandai membaca dan menulis tentang segala ilmu pengetahuan yang dihamparkan Allah.

Dengan demikian, ada benang merah antara ke-ummi-an Nabi dengan  data-data sejarah yang ada. Bahwa Nabi sebelumnya buta huruf memang benar, tapi kemudian Nabi menjadi tokoh yang cerdas, jenius (bisa baca tulis) juga benar. Tidak ada pertentangan bukan?***