JENDELAISLAM.ID – Aleppo dulunya pernah menjadi kota dengan warisan budaya yang tinggi. Kota cantik dihiasi dengan peninggalan budaya luar biasa ini, sekarang kondisinya menyedihkan. Reruntuhan puing-puing bertebaran dimana-mana. Bangunan hancur dan terbakar menjadi pemandangan biasa. Kios-kios pasar terbakar, dan desing-desing peluru menyasar di kota ini.
Kota yang indah ini menjadi zona perang antara rezim pemerintah, Bashar al-Assad, dan kelompok oposisi Suriah. Akibatnya kota budaya ini hancur berantakan. Kota yang dijadikan basis kelompok oposisi ini telah menjadi kota mati pasca insiden saling serang di antara keduanya.
Di Masjid al-Uthmaniya, lubang menganga di atas kubah yang dibangun pada tahun 1728. Lantai beton hancur terkena hantaman rudal, dan kaca dengan lengkungan tinggi di pintu masuk ke ruang shalat juga hancur berserakan. Menurut pengakuan penduduk setempat yang sering shalat di masjid itu, tidak ada pria bersenjata di masjid ini. Akan tetapi para jamaah terpaksa tidak menjalankan jamaah setelah rudal menghajar halaman masjid.
Konflik Suriah masih membara. Alleppo masih terancam hancur dan reruntuhan bangunan masih akan menjadi hiasan kota. Belakangan ini, konflik di sana makin berkepanjangan seiring perseteruan antara Israel dan Palestina yang makin meluas. Pasalnya, Suriah ikut terseret dalam pusaran konflik tersebut, terlibat perseteruan dengan Israel.
Simbol Peradaban Islam
Aleppo merupakan kota terbesar kedua Suriah setelah Damaskus, ibu kota Suriah. Kota Aleppo termasuk kota tertua di dunia. Kota ini dulu bernama halb yang berarti besi atau tembaga. Halb mengacu pada bahasa Amori, karena tembaga merupakan sumber utama logam kawasan ini pada zaman kuno. Halaba dalam bahasa aram berarti putih, mengacu pada warna tanah dan marmer yang melimpah di daerah tersebut.
Letak Aleppo memang sangat strategis sebagai pusat perdagangan. Oleh karena itu sudah sejak lama, banyak bangsa berlomba-lomba ingin menguasai daerah ini. Mulai bangsa Mesir dan Asiria, Persia, Macedonia, Romawi, Arab, Mongol, Kesultanan Ustmaniyyah, hingga Perancis.
Menurut Dr. Syauqi Abu Khalil, penulis buku “Athlas al-Hadits an-Nabawi (Atlas Hadits)”, kota itu pernah menjadi salah satu kota paling penting dalam sejarah Islam. Allepo pun pernah menjadi ibu kota pemerintahan Islam di wilayah Suriah setelah Kota Qinnasrin mulai kehilangan pamor.
Saat itu, Aleppo merupakan kota terkemuka dalam bidang ekonomi, sejarah, artistik, dan kebudayaan Islam. Dari sisi arsitektur, Aleppo juga mampu merepresentasikan sebuah kota Islam. Bagaimana tidak, bangunan berarsitektur Islam sejak abad ke-7 M itu kokoh berdiri. Tak cuma itu, warisan arsitektur dari beragam dinasti seperti Umayyah, Abbasiyah, Hamdaniyah, Seljuk, Zankiyah, Ayubiyah, Mamluk, hingga Usmani masih menghias Kota Aleppo.
Sejarah mencatat, di akhir masa kekuasaan Abbasiyah, Kota Aleppo mengalami masa kemakmuran. Kala itu, kebudayaan, intelektual, dan peradaban berkembang begitu pesat di semua bidang.
Bukti pesatnya peradaban di bumi Aleppo ditandai dengan kemampuan orang-orang Aleppo untuk membuat pakaian yang bagus serta berdirinya istana dan sejumlah masjid terkemuka di kota itu. Allepo pun menjadi semacam museum hidup bagi beragam peradaban. Sebab sejumlah tokoh penting dalam khazanah keilmuwan dan peradaban Islam lahir dari tempat ini, seperti: Abu Firas al-Hamadani dan Abu Tayyib al-Mutanabbi.
Salah satu peradaban Islam yang masyhur di Aleppo adalah benteng Aleppo, sebuah bangunan yang mengelilingi istana di Kota Tua Aleppo di bagian utara Suriah. Benteng ini merupakan kastil tertua dan terluas di dunia. Kompleks megah itu berdiri di sebuah bukit tepat di pusat kota Aleppo, dimana sebelumnya pernah diduduki oleh beberapa penguasa, seperti: dari Yunani, Bizantium, Ayyubiyah, dan Mamluk.
Dalam situs Republikca.co.id (2/8/12) menyebutkan bahwa mayoritas bangunan yang bertahan hingga hari ini diperkirakan berasal dari periode Ayyubiyah. Benteng Aleppo atau Citadel Aleppo itu berbentuk elips dengan panjang sekitar 450 meter dan lebar 325 meter dengan ketinggian 50 meter dari kaki bukit. Benteng tersebut juga dikelilingi oleh parit yang dialiri air, kedalaman parit itu 22 meter dan lebarnya 30 meter.
Penguasa Aleppo pertama, Saif ad-Daulah (944 – 967 M) membangun benteng sebagai pusat kekuatan militer daerah kekuasaannya. Kemudian Nuruddin Mahmud (1147 – 1174 M) menambahkan beberapa bangunan baru seperti masjid kecil dan pada masa pemerintahan Dinasti Ayyubiyah di bawah kekuasaan Sultan al-Zahir al-Ghazi (1186 – 1216), Benteng Aleppo mengalami rekonstruksi besar-besaran.
Tambahan cukup signifikan yang terjadi pada masa pemerintahan al-Ghazi adalah masjid agung citadel. Masjid yang dibangun pada 1214 itu terletak di titik tertinggi benteng yang menaranya berdiri setinggi 21 meter. Menara itu mampu memperluas jarak pandang dan pertahanan benteng tersebut. Menara masjid itu memiliki dua peran sekaligus, yakni agama dan militer.
Kemudian peninggalan bersejarah yang ada di Aleppo adalah Masjid al-Ghada’iri, masjid ini adalah peninggalan Khalid bin Walid, panglima Muslim setelah menguasai Aleppo. Ada juga Masjid Aleppo yang dibangun oleh Sulaiman bin Abdul Malik (Umayyah). Masjid ini meniru arsitektur Masjid Damaskus. Pada menaranya ada inskripsi yang bertuliskan tahun 1090 dan nama Maliksyah (penguasa Seljuk), Kadi bin al-Khashshab, dan Tutusy (penguasa Seljuk 1078). Mihrabnya dibangun kembali oleh Qalawun (Sultan Mamluk) setelah dibakar oleh Hulagu Khan. Sultan Nasir Muhammad bin Qalawun membangun mimbarnya (Timur-tengah.com).
Dengan melihat kejayaan peradaban Aleppo yang bersejarah, maka pada 2006, pantaslah apabila Islamic Educational Scientific and Cultural Organization (ISESCO)—organisasi kebudayaan Organisasi Konferensi Islam (OKI)—mendaulat Aleppo sebagai ibu kota kebudayaan Islam. Aleppo dinilai mampu mewakili tipe kota Islam yang ideal dalam konteks toleransi hubungan beragama.
Sayangnya, seiring dengan munculnya konflik di Suriah, menjadikan wajah Aleppo tampak kusut dan muram. Kota yang cantik nan indah bersalin rupa dengan kota yang menyedihkan. Di berbagai sudut kota, bangunan runtuh dan air mata kesedihan warganya berderai-derai.
Menata Hidup Baru
Kehidupan masyarakat Muslim Aleppo sebelum pecah konflik sebenarnya baik-baik saja. Mereka hidup rukun, toleran, damai di tengah dalam keragaman dan perbedaan. Mereka bisa menjalankan aktivitas ekonomi secara nyaman. Mereka bebas menjalankan kehidupan beragama tanpa saling curiga.
Sayang perang mengubah segalanya. Ketenangan dan kenyamanan itu menjelma menjadi suara hingar bingar mesiu, ledakan rudal, dan dentuman bom. Korban bergelimpangan di reruntuhan gedung, di jalan-jalan dan di sungai-sungai.
Selama krisis, kerugian materi pun tak terbilang. Banyak warga yang terusir dari kampungnya sendiri. Jumlah mereka yang kehilangan tempat, pekerjaan, keluarga, materi dan lainnya, mencapai ratusan ribu orang bahkan lebih. Situasi ini akan makin memburuk manakala kedua belah pihak antara rezim pemerintah dan oposisi tetap bersikeras. Kondisi Suriah, juga kota Aleppo khususnya akan semakin runyam. Sebab tidak ada yang menang dalam perang.
Aleppo salah satu kota indah lengkap dengan warisan peradaban, tak pelak akan terus menjadi ajang pertempuran. Saat ini kondisi Aleppo masih rawan dan mencekam. Namun demikian tak menyurutkan asa masyarakat untuk meniti kehidupan baru lagi. Tentu harapannya di tengah berkecamuknya perang, ada dialog antar kedua belah pihak agar sepakat untuk menghentikan peperangan dan gencatan senjata. Pemerintah harus legowo menerima tuntutan masyarakat luas tanpa melakukan tindakan represif lagi, sementara oposisi juga harus menghentikan tindakan anarkis dan destruktif.
Tak ada yang diuntungkan dalam perang. Namun, perang hanya menyisakan kerusakan, kehancuran, dan permusuhan. Akan lebih baik, semua mau mengakhiri agar kehidupan berjalan normal seperti sediakala, warga bisa menjalankan aktivitas keagamaan, sosial, ekonomi, pendidikan dalam situasi yang nyaman, tentram dan kondusif.
Perbedaan semestinya tidak sampai mengganggu kebersamaan, perbedaan semestinya tidaklah menimbulkan masalah besar. Namun perbedaan adalah keniscayaan dalam hidup bermasyarakat yang tidak perlu disikapi secara berlebihan. Perbedaaan justru menumbuhkan sikap saling menghormati dan memahami pentingnya hidup bertoleransi.***
Foto: Pixabay
