Sudahkah Kita Mengakrabi al-Qur’an?

JENDELAISLAM.ID – Tahukah kita bahwa sebelum beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, Umar bin Khattab adalah orang yang sangat menentang Nabi Muhammad SAW. Ia membenci Rasulullah SAW karena dianggap sebagai pemecah belah kesatuan masyarakat Makkah. Kemudian memutuskan ingin membunuh Nabi SAW dengan pedang di tangannya.

Namun hatinya luluh setelah melihat saudara perempuan dan iparnya melantunkan bacaan ayat al-Qur’an. Amarah dan emosi yang meluap-luap seketika longsor. Betapa dahsyatnya ayat-ayat suci ketika dibacakan.

Di hadapan Nabi, Umar berikrar syahadat. Sontak, para pengikut Nabi SAW lantang mengumandangkan takbir. Sejak Umar masuk Islam, dakwah Nabi tak lagi sembunyi-sembunyi dan tertutup. Tetapi berani terbuka karena Umar memperkuat barisan Nabi dalam syiar Islam.

Umar bin Khattab RA hanyalah salah satu orang yang mendapatkan hidayah melalui al-Qur’an. Di luar itu, begitu banyak orang yang mendapat hidayah karena terinspirasi dari ayat al-Qur’an. Sebab fungsi al-Qur’an, memang hudal lin-nas (petunjuk bagi manusia).  

شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الۡهُدٰى وَالۡفُرۡقَانِۚ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. al-Baqarah:185).

Dalam ayat di atas, dijelaskan al-Qur’an merupakan petunjuk. Kitab petunjuk yang memiliki keistimewaan, selain sebagai kitab penyempurna dari kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelumnya, juga sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Sayang, dalam tataran praktis, banyak umat Islam yang masih abai terhadap kitab suci ini. Dalam arti, interaksi dengan al-Qur’an masih sangat minim bila dibandingkan intensitas kita berinteraksi dengan yang lain semisal gadget. Kita masih belum istiqamah mendaras al-Qur’an, apalagi mengamalkan apa yang terkandung dalam al-Qur’an.

Jangan-jangan kita mengaku sebagai orang Islam, mengaku sebagai orang mukmin, namun jarang sekali menyentuh mushaf. Jarang membacanya atau bahkan merenungi maknanya. Padahal kita nyata-nyata menyatakan bahwa al-Qur’an adalah sebagai pedoman hidup (way of life).

Jangan sampai kita digolongkan umat yang mengabaikan al-Qur’an seperti dinyatakan Allah SWT.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an ini diabaikan” (QS. al-Furqan: 30).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, kata “Mahjura” dapat diartikan sebagai tidak mempelajarinya, tidak menghafalkannya, tidak mengimaninya, tidak menjalankan perintahnya, tidak mau mentadabburinya, atau berpaling menuju kepada sesuatu yang lain, serta tidak menjadikan al-Qur’an sebagai bahan rujukan maupun pedoman hidup.

Coba apabila keakraban kita terhadap al-Qur’an bisa seakrab gadget kita! Kita fungsikan gadget sebatas alat bantu kita untuk melakukan/mendapatkan manfaat dan kebaikan. Kita akrabi al-Qur’an dengan membaca lebih intens dan benar. Kita pahami maknanya. Kita renungi kandungan di dalamnya. Kita amalkan dalam laku keseharian. Kita jadikan acuan utama dalam menjalani kehidupan. Maka sudah barang tentu, hidup kita akan tenang, damai, dan bahagia di dunia dan akherat.***

Foto: Pexels/belal obeid