Suluh di Dunia Remang-remang, Kenapa Tidak?

JENDELAISLAM.ID – Apa sih yang salah dengan cara dakwah nyemplung di tempat-tempat hitam?

Mungkin bagi banyak orang, syiar di tempat tersebut dianggap tidak pada tempatnya. Pasalnya, agama adalah ajaran yang mulia, suci, dan sakral. Tentu dipertanyakan tatkala agama itu dihembuskan dari tempat yang kotor, hina, dan penuh kemaksiyatan.

Lazimnya, dakwah memang dilakukan di tempat-tempat mulia. Di masjid, surau,  majelis taklim, di tengah masyarakat yang agamis. Karena itu, orang merasa aneh dan sulit menerima ketika ia ditebarkan di tempat yang oleh sebagian orang dianggap menjijikkan karena penuh dengan aroma kemaksiyatan dan dosa, seperti: night club, diskotik, dan tempat hiburan malam lainnya.  Tak ayal akan timbul kontroversi di masyarakat.

Padahal yang perlu dicatat bahwa dakwah adalah jalan kebaikan. Mengajak orang lain menuju ke arah kebaikan meskipun metodenya berbeda-beda. Yang sudah baik, diharapkan akan lebih baik lagi. Yang belum baik, bisa introspeksi dan pelahan menjadi baik. Dan yang sudah rusak mentalitasnya, hitam legam, gelap gulita perilakunya,  entah karena pengaruh lingkungan yang buruk atau tidak pernah mendapatkan pencerahan agama, diharapkan bisa memperbaiki diri dan menemukan kebenaran. 

Namun, jika dakwah hanya menjangkau area-area tertentu yang steril dari maksiyat, maka bagaimana nasibnya area lain yang dikategorikan hitam? Apakah yang hitam akan dibiarkan tetap hitam? Apakah orang yang tahu akan masa bodoh melihat mereka yang sedemikian rupa terjerumus dalam kubangan dosa dan maksiyat?

Justru di sinilah sebenarnya tantangan dakwah. Area hitam adalah lahan yang perlu disemai kebaikan. Tentu saja jalannya akan berliku dan perjuangan mengentaskan kegelapan tidak akan mudah.

Apabila kita menganalogikan lahan perkebunan, maka tanah di area hitam tersebut adalah tanah yang tandus lagi gersang karena tidak mendapatkan siraman air yang cukup dan tidak tergarap. Dikatakan gersang, karena mereka yang hidup di lingkungan penuh maksiyat ini tidak mendapat sentuhan agama, tidak mendapat pencerahan yang bisa menerangi hati mereka.  Sebab, prinsip mereka yang masih di lingkungan gelap, hidup adalah hedon dan materi.

Nah, mindset menganut hedonisme  inilah yang perlu diluruskan. Bahwa hidup tidak semata-mata bersenang-senang dengan memiliki materi yang berkecukupan. Bukan, bukan itu. Bahwa hidup yang hakiki adalah di akhirat. Dimana semua perbuatan yang kita lakukan sewaktu di dunia bakal dipertanggungjawabkan sebenar-benarnya kelak. Seorang bisa selamat manakala di dunia hidupnya penuh dengan kebaikan dan ridha dari Allah SWT. Sebaliknya akan celaka manakala hidup hanya untuk poya-poya, senang-senang, dan sekedar  memuaskan syahwat semata.

Hanya saja, memang caranya perlu dengan cara yang baik, ramah, dan penuh hikmah.  Tidak ada pemaksaan apalagi kekerasan di dalamnya. Artinya, menebarkan kebaikan harus dengan cara yang baik pula. Bisa membawa diri sekaligus bisa membedakan mana yang pantas dan tidak pantas. Misalnya mengajak orang bershalawat, ya sebisa mungkin jamaah dihimbau untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat. Tidak malah sebaliknya, muatannya penuh untaian shalawat dan lantunan al-Qur’an, tetapi jamaah di dalamnya mengenakan pakaian seksi dan mengumbar aurat. Manusia tidak boleh menghakimi, karena dimata Allah, yang dinilai adalah kadar ketakwaannya.***

Foto: Pexels/Sebastiaan Stam