JENDELAISLAM.ID -Setiap 12 Rabiul Awal, kaum Muslim di berbagai dunia, merayakan hari Maulid Nabi SAW atau hari kelahiran Nabi. Banyak negara, seperti: Malaysia, Brunei Darussalam, Mesir, Yaman, Aljazair, Maroko, tak terkecuali Indonesia, menjadikan tanggal tersebut dengan peringatan maulid.
Betapa pun Nabi SAW dan para sahabat tidak pernah merayakannya, peringatan tersebut tidaklah bertentangan dengan teologi agama karena di dalamnya sarat dengan nilai kebaikan. Kita mafhum, sesuatu yang baik dan membawa kemaslahatan tak perlulah dipersoalkan bahkan sebaliknya perlu ditradisikan.
Justru melalui Maulid Nabi, kita bisa melakukan refleksi; apakah kita benar-benar sudah mencintai Nabi SAW? Apakah kita menjalani hidup ini sudah sesuai dengan ajarannya?
Cara Kita Mencintai Nabi
Biarlah ada yang kurang sreg (kontra) terhadap peringatan maulid, namun kita tidak perlu terjebak dalam kontroversi tersebut. Sebab, haflah yang sudah menjadi rutinitas tahunan itu diisi dengan beragam kebaikan yang bernuansa agamis; ada ceramah agama, pembacaan shalawat Nabi SAW, pembacaan maulid, pembacaan tilawatil Qur’an dan kadang ada pula santunan untuk kaum dhuafa.
Dakwah bil-lisan sebagaimana dilakukan oleh para muballigh pada peringatan maulid, adalah bagian dari implementasi QS.an-Nahl: 125 dan QS. al-Ashr: 3, “Dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”.
Shalawat yang kerap menggema juga bagian pengamalan QS. al-Ahzab: 56, “Hai orang-orang yang beriman, bershawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.
Nah, semua kebaikan di atas bila ditarik benang merahnya merupakan bagian upaya kita mencintai Nabi SAW. Sebab pelajaran dari peringatan maulid adalah mengkaji ulang nilai-nilai dari sejarah kelahiran Muhammad SAW untuk kita teladani. Dengan cara inilah bisa menambah ketakwaan dan keimanan.
Kita justru bersyukur ada momentum untuk mengenang sekaligus merenungi makna kelahiran Nabi.
Mengaktualisasikan Pesan Nabi
Yusuf Qardhawi, salah seorang ulama Mesir kontemporer, berpendapat sejatinya memperingati Maulid Nabi adalah mengingat kembali sejarah kehidupan Nabi SAW, mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah swt tegaskan sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Karena itu hal terpenting dalam memperingati Maulid Nabi SAW adalah bagaimana kita mau meneladani dan melanjutkan misi kenabian. Misi Nabi adalah membawa risalah dari Allah, yaitu menyampaikan Islam untuk menjadi jalan hidup (way of life) dan membawa keselamatan bagi seluruh alam.
Mestinya, keteladanan Rasul ini, kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan siapa pun yang betul-betul mengimani sekaligus mengamalkan ajaran Nabi yang mengantarkan pada cinta Allah, garansinya adalah curahan kasih sayang Allah yang tak terhingga (QS. Ali Imran: 31).
Maka dengan berpatokan ayat di atas, apabila kita acuh terhadap ajaran Nabi SAW. Meski sudah menyatakan kalimat syahadat, jangan terlalu berharap kasih sayang Allah akan menghampiri kita. Yang ada mungkin malah bisa sebaliknya, kasih sayang bisa jadi berubah menjadi malapetaka; hujan yang mestinya membawa berkah bisa berubah menjadi banjir, laut yang indah nan melimpah hasilnya bisa jadi tsunami, angin semilir dan sejuk bisa menjadi badai dan topan, bumi yang nyaman ditinggali bisa menjadi hunian yang menakutkan (karena gempa), dan masih banyak kemungkinan buruk yang mengerikan.
Jadi bila kita mau merenung, bisa jadi berbagai krisis yang melanda negeri ini, seperti: korupsi terjadi dimana-mana, kerusuhan merajalela, bencana silih berganti, pudarnya sikap welas asih antar-sesama, tergerusnya sikap nguwongke (memanusiakan), lebih senang mengadu-domba, menipu, marah, mendengki, sombong dan zalim adalah beberapa ekses akibat sikap kita yang melenceng dari agama. Lantaran kita tidak mau menghadirkan peranan Allah dan masa bodoh dengan apa yang sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Penutup
Seremoni maulid tidak akan membawa pengaruh apa-apa ketika perilaku kita masih belum berubah; masih diselimuti kegelapan dan masih dilumuri kepicikan. Jangan terlalu berharap ada solusi kongkrit atas krisis yang muncul di negeri ini apabila kita belum mencintai Nabi SAW sebenar-benarnya! Jangan bermimpi akan ada perubahan yang baik, apabila kita tetap abai dan terus-terusan menyerimpung pesan-pesan Nabi SAW.
Akhirnya, kembali pada kita masing-masing, mau tidak memberangus perilaku dan sikap mental kita yang kotor, selanjutnya memulai segala sesuatunya dengan perilaku yang bersih. Kita perlu segera memulai dari diri sendiri (ibda’ binafsik)! Jadikan, momentum Maulid Nabi sebagai semangat untuk meneladani Nabi SAW dan melanjutkan misinya!***
Foto: YT ABJ
