JENDELAISLAM.ID – Siapa bilang, sampah itu tidak berguna? Sampah itu tetap ada gunanya jika orang mengerti. Asal sampah itu masih bisa bermanfaat setelah dipilah, kemudian ditanam di tempat yang baik, dirawat dengan telaten, dipupuk penuh kasih sayang, sampah itu nantinya akan membawa kebaikan.
Hal ini pernah KH. Masrur Ahmad MZ, sampaikan saat penulis berkunjung di kediamannya di kompleks Pesantren al-Qodir, bawah lereng Merapi, Desa Wukirsari, Cangkringan, Yogyakarta. Ia begitu getol ngopeni anak-anak santri dengan beragam latar belakang yang mondok di tempatnya, yang mungkin dianggap tidak baik dimata masyarakat.
“Aku itu ibarat tong sampah. Tempat yang menampung beraneka ragam sampah rumah tangga. Kendati demikian, sampah-sampah tersebut ada sebagian yang masih bisa dimanfaatkan. Aku bisa nithili (baca: menjumputi) dari sampah-sampah tersebut. Ada sampah gabah, yang bila disemai akan tumbuh padi, ada sampah biji buah yang jika ditanam lagi, kemungkinan akan bias tumbuh dan berbuah. Dan sampah-sampah-sampah lain, yang menurut kebanyakan orang sudah tak berguna sama sekali.”
Kyai Masrur adalah pengasuh Pesantren al-Qodir. Pesantrennya terbilang unik. Disebut demikian karena selain yang menghuni adalah santri biasa untuk ngaji, juga ada santri-santri istimewa yang berlatar belakang pecandu narkoba, punya gangguan mental, depresi, dan sebagainya. Bahkan tidak sedikit, anak pejabat yang kecanduan narkoba, didandani mentalnya di tempat ini.
Bagaimana komentar Kyai Masrur soal ini?
Seperti ucapannya di atas tadi, dia menganalogikan dirinya sebagai tempat sampah. Menurutnya, sampah-sampah itu masih bisa dipilah-pilah. Masih bisa dimanfaatkan. Ada sampah organik yang nantinya bias diolah menjadi pupuk kompos. Ada sampah plastik yang bias didaur ulang untuk dijadikan bahan material pembuatan karpet, misalnya. Ada pula biji-bijian yang bila disemai lagi akan tumbuh tanamana yang mungkin menghasilkan. Dan sisanya ada sampah yang benar-benar sudah tak bisa diambil manfaatnya, dibuang dan dimusnahkan. Dalam bahasa Mbah Masrur, kita bisa nithili dari sampah-sampah tersebut untuk diambil manfaatnya. Selagi masih ada nilai manfaat, sampah tetap punya nilai jual.
Dus, itu pula yang diterapkan Kyai Masrur saat ngopeni santri-santrinya yang sudah dianggap sampah oleh masyarakat. Entah karena perilakunya yang sudah tak bisa diampuni dimata masyarakat, karena kasus narkoba, atau mereka yang punya gangguan mental yang oleh keluarganya kemudian dibina di Pesantren al-Qodir.
Oleh Kyai Masrur, mereka diperlakukan tidak seperti sampah, melainkan dimanusiakan. Tidak didiskriminasi, tetap ditangani secara manusiawi. Dengan cara ini mereka tidak dianggap sebagai sampah masyarakat, tetapi dihargai kemanusiaannya sehingga lebih cepat menyadarkan diri dan membangkitkan semangatnya sebagai manusia yang lebih baik. Manusia yang berjalan di muka bumi sesuai dengan tuntunan-Nya.
Tak selamanya yang tampak tak baik, terus tidak berguna selamanya. Sesuatu yang tampak tak berguna, tak selamanya tidak berguna. Tidak. Tetapi yang semula tidak baik secara kasat mata, bisa menjadi baik dan lebih baik lagi, asal dithitili dan mendapat penanganan yang baik. Sebab, baik atau tidak baik itu juga tergantung bagaimana caranya kita menyikapi dan memperlakukannya.
“Sebaik apapun seseorang jika tidak mendapatkan pendidikan dan gemblengan mental yang baik, bukan tidak mungkin bisa menjadi tidak baik. Sebaliknya, sekotor apapun orangnya apabila mendapat perlakuan baik dan nutrisi pendidikan mental yang baik, bukan tidak mungkin akan berubah menjadi baik. Sebab faktor lingkungan punya andil besar dalam membentuk karakter seseorang,” ujarnya.***
Sumber Foto: TL Al-Qadir Channel
