JENDELAISLAM.ID – Orang yang berpuasa, hendaknya memperhatikan adab-adab dalam berpuasa. Sebab, tanpa memperhatikan adabnya, puasa yang dilakukan oleh seseorang mungkin tidak akan membuahkan hasil apa-apa, bahkan hanya menuai kesia-siaan belaka.
Banyak orang yang gagal dalam melaksanakan puasa, karena tidak memperhatikan aturan hukum pelaksanaannya. Bahkan ada yang bersikap masa bodoh, mengabaikan ketentuan-ketentuan pokok, karena menganggap bahwa yang terpenting bagi mereka adalah gugur kewajibannya saja, merasa cukup dengan puasa yang bersifat seadanya. Padahal kualitas puasa yang dilakukan oleh seseorang itu akan menentukan diterima atau tidaknya ibadah puasa tersebut di sisi Allah SWT.
Jika orang berpuasa dengan benar, jaminannya adalah kebaikan baginya. Lebih baik baginya daripada orang yang tidak berpuasa.
Penegasan bahwa puasa itu lebih baik juga secara terang benderang dinyatakan oleh Allah SWT, yakni “….Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. al-Baqarah: 184). Artinya, berpuasa itu lebih baik dibandingkan tidak berpuasa, asalkan tahu caranya, paham ilmunya dan tahu argumentasinya.
Di antara dampak positif puasa adalah fisik lebih sehat, psikis lebih tenang, lebih peka terhadap problem sosial, melatih kesabaran, meredam nafsu dan syahwat dan lainnya. Namun, puasa hanya akan melahirkan rasa lapar dan haus belaka, apabila kita tidak bisa menjaga hal-hal yang berpotensi merusak pahala puasa.
Dalam hadits yang lain, dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Banyak orang yang berpuasa, mereka hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja, dan banyak yang melaksanakan shalat (tarawih), mereka hanya mendapatkan rasa letih dari shalatnya itu” (HR. Ahmad).
Hadits di atas menunjukkan bahwa puasa harus dilakukan dengan baik dan benar, sesuai yang dicontohkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya. Jika tidak mencontoh Nabi, –berdusta misalnya,– maka puasanya mungkin tidak punya nilai apa-apa, sebab Allah SWT mengabaikan puasanya orang yang suka berdusta.
Adab Berpuasa
Dari segi etika atau adab, Imam Ghazali, sang hujjatul Islam, membagi puasa pada tiga kategori:
Pertama, puasanya orang awam, yaitu puasanya orang-orang yang hanya meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan saja. Puasa jenis ini juga disinggung oleh Rasulullah SAW secara langsung, “Betapa banyak orang berpuasa, ia tidak mendapatkan apapun dari puasanya melainkan hanya rasa lapar” (HR. Ibnu Majah).
Kedua, puasa khusus, yaitu puasanya orang yang bukan hanya meninggalkan makan, minum dan berhubungan badan saja, melainkan juga berupaya untuk menjaga anggota badannya dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.
Dapat dimaknai bahwa puasa khusus adalah menahan perut (nafsu makan minum) dan kemaluan (nafsu seks), menahan pendengaran dari perkataan-perkataan yang diharamkan mendengarkannya, dan menahan anggota tubuh yang lainnya dari hal-hal yang diharamkan. Itulah puasanya orang-orang shaleh.
Beberapa indikator puasa khusus ini diterangkan oleh Syekh Ali Ahmad al-Jarjawy dalam “Hikmatut Tasyri’”. Menurut al-Jarjawy, puasa khusus dapat dicapai dengan sempurna dengan beberapa cara berikut:
1. Menundukkan pandangan dari hal-hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah SWT dan melupakan akhirat
Kenapa harus hati-hati dengan pandangan? Karena Rasulullah SAW memberikan warning keras, “Pandangan itu adalah panah berbisa dari panah-panah iblis laknatullah, barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya keimanan yang manisnya akan dirasakan dalam hatinya” (HR. Hakim).
2. Memelihara pendengaran dari hal-hal yang makruh, apalagi yang diharamkan
Allah SWT telah menghinakan orang-orang Yahudi dikarenakan mereka tidak pandai memelihara pendengarannya dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. seperti firman-Nya, “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram” (QS. al-Maidah: 42).
Kehinaan yang didapat oleh orang-orang Yahudi sangat mungkin terjadi pada kaum Muslim apabila melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, menjaga pendengaran adalah sebuah keharusan, lebih-lebih bagi orang yang sedang berpuasa.
3. Memelihara lidah dari ucapan yang kotor dan dusta
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan (tetap) melakukannya, maka Allah tidak akan menghiraukan ia meninggalkan makanan dan minumannya”(HR. Bukhari).
4. Menahan seluruh anggota tubuh dari segala yang diharamkan dan dimakruhkan serta menghindari hal-hal yang syubhat
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram pun jelas, dan di antara keduanya ada musytabihat (perkara-perkara yang samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Dan barang siapa yang telah jatuh ke dalam perkara yang syubhat, maka ia telah jatuh ke dalam yang haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan kambingnya di kawasan terlarang yang hampir kambingnya merumput di dalamnya. Ingatlah bahwa setiap raja mempunyai kawasan terlarang! Ingatlah bahwa kawasan terlarang Allah adalah apa yang diharamkan-Nya”(HR. Bukhari dan Muslim).
5. Tidak terlalu banyak makan sewaktu berbuka
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas bin Malik, “Rasulullah SAW ketika berbuka, beliau makan kurma segar (ruthab). Jika beliau tidak mendapatkannya, beliau berbuka dengan kurma kering (tamr), dan jika tidak mendapatkannya, maka beliau hanya minum air putih sebelum melaksanakan shalat.”
6. Saat berbuka hendaknya hati seseorang berada di antara harapan (raja’), khawatir atau takut, karena sesungguhnya ia tidak mengetahui apakah puasa yang dilakukan diterima di sisi Allah SWT atau tidak
Adapun puasa ketiga, menurut al-Ghazali, dinamakan puasa khushusil khusus, yaitu puasanya orang-orang yang bukan saja menjaga anggota badannya, melainkan juga mampu menjaga hati dan pikirannya untuk senantiasa bertaqarrub pada Allah.
Nah, bila bercermin dari ketiga kategori puasa yang dikemukakan al-Ghazali di atas, kita dapat mengukur puasa yang kita lakukan selama ini berada di posisi mana; apakah puasa orang awam, khusus atau sudah berada di tingkatan yang tinggi, yaitu khushusil khusus.
Bila ternyata, puasa yang kita jalankan sekedar tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami isteri (puasanya orang awam), maka sudah saatnya ditingkatkan lagi dengan menjaga ucapan dan perbuatan dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Penuhi waktu Ramadhan dengan hal-hal yang jauh lebih manfaat agar apa yang kita lakukan mendapat ridha Allah SWT!***
Foto: Pixabay/StayWeird
