JENDELAISLAM.ID – Banyak umat Islam mengaku dirinya Muslim dan Mukmin, namun tidak dekat dengan kitab sucinya, al-Qur’an. Malahan sepertinya jauh dari kitab yang seharusnya menjadi kompas kehidupan kita.
Kita biarkan kitab suci tersebut berserak di rak/lemari dengan debu melekat di cover dan lembaran-lembarannya. Tanpa kita sentuh, tanpa kita buka, tanpa kita baca, apalagi kita renungkan maknanya.
Ironis memang, tapi demikianlah kenyataannya. Al-Qur’an seakan hanya menjadi hiasan rumah belaka. Simbol bahwa kita adalah Muslim dengan kitab al-Qur’an yang kita punya. Sangat menyedihkan.
Tak dimungkiri, memang banyak di antara kita yang abai terhadap kitab suci ini. Dalam arti, interaksi dengan al-Qur’an masih sangat minim bila dibandingkan intensitas kita berinteraksi dengan yang lain. Kita masih jarang sekali memegang al-Qur’an, kita masih jarang sekali membaca al-Qur’an, kalau pun sudah bisa membaca mungkin belum bisa istiqamah, belum mendaras al-Qur’an, apalagi mengamalkan apa yang terkandung dalam al-Qur’an.
Jangan-jangan kita mengaku sebagai orang Islam, mengaku sebagai orang beriman, namun jarang sekali menyentuh mushaf al-Qur’an. Jarang membacanya atau bahkan merenungi maknanya. Padahal kita nyata-nyata menyatakan bahwa al-Qur’an adalah sebagai pedoman hidup (way of life).
Kedudukan al-Qur’an
Bagi umat Islam, al-Qur’an adalah segalanya. Ia adalah hujjah utama dan tertinggi di antara hujjah-hujjah yang lain. Seperti kita tahu, 4 hujjah rujukan kita adalah al-Qur’an, hadits, ijma’, serta qiyas. Ini dikukuhkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadtis:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
“Aku telah tinggalkan kepada kalian dua hal yang jika kalian berpegang teguh kepadanya tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan sunah nabi-Nya” (HR. Malik dalam al-Muwatha).
Ini maknanya, al-Qur’an sangat fundamental dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, selagi kita berpedoman, merujuk, berpedoman pada keduanya, berdasar hadits di atas, kita tidak akan tersesat.
Kitab suci al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat Islam, yang sama sekali tidak ada keraguan di dalamnya. Kitab yang diberkahi. Petunjuk bagi umat, jauh lebih akurat dari GPS (Global Positioning System) mana pun. Tidak ada satu pun orangnya yang mampu menandingi keistimewaan al-Qur’an.
Begitu pentingnya, al-Qur’an dalam kehidupan umat Islam. Jelas di sini, al-Qur’an bagi orang Islam adalah petunjuk dan pedoman yang ingin selamat dunia dan akherat. Sumber segala hukum yang harus diikuti dalam hidupnya.
Keutamaan al-Qur’an
Soal keutamaan al-Qur’an, jelas al-Qur’an tidak ada bandingannya dengan kitab-kitab atau buku lain. Tidak ada yang bisa membantah soal itu.
Saking, utama dan mulianya, bahkan membacanya saja, sudah ada nilainya. Apalagi jika mau memaknai, merenungi, dan menjadikan acuan sebagai laku keseharian.
Imam Nawawi dalam kitab “Riyadhus Shalihin” menerangkan bab khusus tentang keutamaan membaca al-Qur’an:
Pertama, al-Qur’an akan menjadi syafaat atau penolong di hari kiamat untuk para pembacanya.
عن أَبي أُمامَةَ رضي اللَّه عنهُ قال: سمِعتُ رسولَ اللَّهِ ﷺ يَقُوْلُ
اقْـرَؤُا القُـرْآنَ فإِنَّهُ يَأْتى يَـوْم القِياَمةِ شَفِيْعاً لِأصـْحَابِهِ
“Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat” (HR. Muslim).
Kedua, orang yang mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an merupakan sebaik-baik manusia.
عن عُثْماَنَ بن عَفَّانَ رضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُوْلُ الله ﷺ: خَيْرُكُـمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمـهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Tirmidzi).
Ketiga, untuk orang-orang yang mahir membaca al-Qur’an, maka kelak ia akan bersama para malaikat-Nya.
عن عَائِشَةَ رضِيَ اللهُ عَنْهاَ قاَلَتْ: قال ﷺ: الَّذِي يَقْرأُ القُرآنَ وَهُو ماهِرٌ بِهِ معَ السَّفَرةِ الكرَامِ البررَةِ
Dari Aisyah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang membaca al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka kelak ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat kepada Allah” (HR. Bukhari Muslim).
Keempat, untuk mereka yang belum lancar membaca dan mengkhatamkan al-Qur’an, tidak boleh bersedih, sebab Allah tetap memberikan dua pahala.
وَالَّذِى يَقْرَاُ القُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيه وَهُوَ عَلَيهِ شَاقٌ لَه أَجْرَان
Rasulullah bersabda, “Dan orang yang membaca al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala” (HR. Bukhari Muslim).
Kelima, al-Qur’an dapat meningkatkan derajat kita dimata Allah.
عن عمرَ بن الخطَّابِ رضي اللَّه عنهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ:
إِنَّ اللهَ يرفَعُ بِهذَا الْكِتابِ أَقواماً ويضَعُ بِهِ آخَرين
Dari Umar bin Khatab ra, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (al-Qur’an), dengan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain” (HR. Muslim).
Keenam, siapa yang membacanya meski satu huruf, akan mendapatkan kebaikan berlipat-lipat.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
Abdullah bin Mas’ud RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “Alif Lam Mim” satu huruf, melainkan ‘Alif’ satu huruf, ‘Lam’ satu huruf, dan ‘Mim’ satu huruf” (HR Tirmidzi).
Kesimpulan
Al-Qur’an adalah anugerah besar dari Allah SWT. Oleh karena itu, kita mesti mensyukuri atas anugerah ini, nikmat yang tidak terkira. Jangan sampai kita justru tergolong umat yang mengabaikan al-Qur’an seperti dinyatakan Allah SWT.
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an ini diabaikan” (QS. al-Furqan: 30).
Dalam “Tafsir Ibnu Katsir”, kata “Mahjura” diartikan sebagai tidak mempelajarinya, tidak menghafalkannya, tidak mengimaninya, tidak menjalankan perintahnya, tidak mau mentadabburinya, atau berpaling menuju kepada sesuatu yang lain, serta tidak menjadikan al-Qur’an sebagai bahan rujukan maupun pedoman hidup.
Jadi, alangkah meruginya kita yang mengabaikan begitu saja.
Coba apabila keakraban kita terhadap al-Qur’an bisa seakrab gadget kita! Kita akrabi al-Qur’an dengan membaca lebih intens dan benar. Kita pahami maknanya. Kita renungi kandungan di dalamnya. Kita amalkan dalam laku keseharian. Kita jadikan acuan utama dalam menjalani kehidupan. Maka sudah barang tentu, hidup kita akan tenang, damai, dan bahagia di dunia dan akherat.***
Foto: Pixabay/Cahiwak
