Abu Nawas Berlagak Gila

JENDELAISLAM.ID – Suatu saat Abu Nawas dipanggil ke istana. Ia diperintah Sultan Harun ar-Rasyid untuk mengubur jenazah bapaknya, Syeikh Maulana. Namun, Abu Nawas mencium gelagat bahwa ada tujuan lain di balik pemanggilan dirinya, yakni ia akan diangkat sebagai hakim istana menggantikan bapaknya.

Mendengar rencana tersebut, Abu Nawas mendadak gila. Usai pemakaman bapaknya, ia mengambil sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang pisang sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya. 

Bahkan keesokan harinya, ia mengajak anak-anak kecil pergi ke makam bapaknya. Di atas makam bapaknya, ia mengajak mereka bermain rebana dengan suka cita. Dan semua orang semakin heran melihat kelakuannya, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati bapaknya.

Hingga suatu hari, beberapa orang utusan dari Sultan Harun ar-Rasyid datang menemui Abu Nawas agar ia mau segera menghadap kepada Sultan.

“Untuk apa Sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya,” jawab Abu Nawas enteng.

“Kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu.”

“Hai Perdana Menteri, sudahlah jangan banyak bicara. Cepat ambil kudaku ini, mandikan di sungai supaya bersih dan segar,” kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.

Mereka geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas kemudian menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka melaporkan keadaan Abu Nawas yang sepertinya sudah tak waras kepada sultan. Sang sultan pun marah dan memerintahkannya kembali untuk menjemput Abu Nawas kalau perlu dengan paksa.

Spontan, mereka segera beranjak dari tempat itu. Dan dengan paksa Abu Nawas dihadirkan di hadapan raja. Lagi-lagi tingkah Abu Nawas tak berubah, tetap ugal-ugalan.

Sultan merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah pada pengawalnya untuk menghajar dan memukuli sebanyak 25 kali. Abu Nawas lemas.  Setelah itu, disuruh keluar istana. Ketika sampai pintu gerbang kota, ia dicegat penjaga.

“Hai Abu Nawas, tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Jika diberi hadiah oleh Baginda, maka engkau akan membagi dua, engkau satu bagian dan aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku?”kata penjaga gerbang.

“Apakah kau benar-benar menginginkan hadiah yang diberikan kepadaku?”

“Ya, tentu itu sudah merupakan perjanjian kita?”

“Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian.”

“Wah, ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu kau kan sudah sering menerima hadiah dari baginda.”

Tanpa banyak bicara, Abu Nawas mengambil sebatang kayu agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak 25 kali. Orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas gila. Beberapa saat kemudian penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan. Abu Nawas pun dihadirkan.

“Hai Abu Nawas, benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak 25 kali pukulan?” tanya Sultan kepada Abu Nawas.

“Ampun, Baginda, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya.”

“Apa maksudmu?”

“Baginda, hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah sepakat bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda, maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya, satu bagikan untukku. Nah, pagi tadi hamba menerima hadiah 25 kali pukulan, maka aku berikan pula hadiah 25 kali pukulan kepadanya.”

“Hai Penunggu Gerbang, benarkah kau mengadakan perjanjian seperti itu?”

“Benar, Tuan. Tapi hamba tak mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan.”

“Hahahaha…! Dasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!” sahut Baginda. “Abu Nawas tidak bersalah bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka memeras orang. Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu, aku akan memecat dan menghukummu.”

“Ampun Tuanku.,” sahut penjaga gerbang.

“Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab, jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba.”

Sultan terkejut atas protes Abu Nawas, namun ia tertawa terbahak-bahak, “Hahahaha… jangan khawatir, Abu Nawas.”

Ia kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira. Tetapi sampai di rumahnya, ia masih bersikap aneh dan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.

Suatu hari, Sultan mengadakan rapat dengan para menterinya. Ia berkata, “Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai hakim?”

“Sebaiknya orang lain saja, Tuan, mengingat tingkah laku serta otak Abu Nawas semakin parah,” kata perdana menteri.

“Tuanku, Abu Nawas telah gila karena itu ia tak layak,” tambah yang lain.

“Baiklah, kita tunggu dulu sampai 21 hari setelah meninggalnya bapaknya. Jika tidak sembuh-sembuh juga, kita cari yang lain saja.”

Kini telah satu bulan Abu Nawas dianggap gila. Maka, Sultan segera mengangkat orang lain menjadi hakim. Begitu mendengar orang lain diangkat menjadi hakim, Abu Nawas mengucapkan syukur sekaligus heran mengingat reputasi hakim baru tersebut tidaklah baik.

Kenapa Abu Nawas enggan diangkat menjadi hakim, karena sewaktu ayahnya sakit parah berpesan, “Anakku, aku hampir mati. Ciumlah telinga kanan dan kiriku.”

Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. Ia cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang kiri berbau busuk. Sang bapak mengisahkan asal-usul bau itu bahwa suatu hari ia didatangi dua orang yang mengadukan permasalahan. Yang seorang ia dengar keluhannya, yang lain tak didengar.

“Inilah resiko menjadi hakim. Jika kelak kau menjadi hakim, maka kau akan mengalami hal yang sama. Namun jika kau tidak suka menjadi hakim, buatlah alasan yang rasional agar kau tidak dipilih sebagai hakim kerajaan,” kata sang bapak pada Abu Nawas.

Rupanya pesan ini direnungkan Abu Nawas hingga ia memutuskan tidak mau diangkat menjadi hakim. Hanya untuk menghindarkan diri diangkat menjadi hakim, ia rela bertingkah seperti orang gila.***

Sumber Foto: Pixabay/Tonw