JENDELAISLAM.ID – Niat berkunjung ke Tanah Suci, terpaksa harus mereka urungkan lantaran pertemuannya dengan gadis yang sangat menderita. Hidupnya berbalut kepedihan dan trauma berkepanjangan. Makan dari pemberian orang lain, bangkai dan sisa-sisa makanan.
Istirahat di Tengah Perjalanan
Rombongan itu tampak letih, setelah menempuh perjalanan panjang. Meski demikian, rasa letih itu tak begitu mereka rasakan, karena keinginan untuk segera tiba di tanah kelahiran Rasul, serta berziarah ke tempat-tempat suci.
Abdullah bin Mubarak, pemimpin rombongan, merasa bahagia sekali jika keinginannya berziarah di bumi Rasul menjadi kenyataan. Ia melupakan kelelahan. Terlebih saat melihat pemandangan indah, deretan gubuk, dikelilingi pepohonan menghijau dan beberapa ekor domba di sekitarnya.
“Sekarang, kita istirahat dulu. Perjalanan dari Khurasan sampai sini sudah lumayan jauh,” kata Ibnu Mubarak pada wakilnya.
“Baik, Tuan,” jawab wakil itu.
“Berikan hak pada tubuhmu, juga unta dan kuda-kuda ini. Mereka butuh istirahat, makan dan minum.”
“Benar, Tuan. Mereka tampaknya juga butuh istirahat,” jawab wakilnya.
Rombongan berhenti. Mereka segera turun dari kuda dan unta lantas membersihkan pakaian mereka dari debu-debu jalanan. Ibnu Mubarak sendiri segera mencari tempat yang agak sepi. Ia hamparkan kain putih, lantas menghadap kiblat untuk menunaikan shalat. Beberapa pasang mata takjub melihatnya. Pasalnya, dalam keadaan letih sekali pun, pemimpin rombongan itu tetap selalu ingat kepada Allah.
“Hebat, Ibnu Mubarak,” ujar salah seorang di antara mereka.
“Apa yang membuatmu kagum, kawan?” tanya lelaki berjenggot tebal dengan uban di wajah dan rambutnya.
“Aku sering memikirkan pemimpin rombongan kita itu. Aku hampir tak percaya, apa yang terjadi di hadapanku? Jarang sekali aku menemukan orang sepertinya. Zuhud sekaligus bisnisman yang tangguh,” demikian lelaki tadi memberikan penilaian.
“Benar, kawan? Mukmin sejati tentu bisa melihat apa saja dengan nur Allah. Ia bisa memilah antara urusan dunia dan akherat, termasuk pimpinan kita ini. Ia pintar dan berwibawa. Kapasitas keilmuwannya tak diragukan,” ujar lelaki berjenggot sambil gelengkan kepala.

Illustrasi: Rombongan melakukan perjalanan jauh (Foto: Unsplash/Sergey Pesterev)
Bertemu Gadis Malang
Tetiba, salah seorang menyela di tengah pembicaraan mereka berdua, “Apa yang sedang kalian bicarakan? Kalian tahu, burungku yang gemuk telah mati sebelum sempat kusembelih.”
“Tenang, kawan. Tak usah khawatir,” hibur lelaki berjenggot tersebut.
Sambil menenteng burungnya, lelaki tersebut menuju tong sampah yang terletak dekat gubuk penduduk.
Tanpa disadari, Ibnu Mubarak yang baru selesai shalat memperhatikannya. Kemudian menghampiri.
“Mari kita sama-sama ke gubuk penduduk itu, supaya kita tahu yang terjadi di sana. Paling tidak, tahu keadaan orang-orang di sekitarnya,” ajak Ibnu Mubarak.
Ibnu Mubarak berjalan ke arah perkampungan bersama pemilik burung yang sudah mati itu. Mendadak ia melihat seorang anak gadis terburu-buru menuju arah tong sampah dan menyambar bangkai burung itu. Dengan penuh keheranan, Ibnu Mubarak membuntutinya.
Anak gadis itu terkejut saat Ibnu Mubarak memergokinya. Wajahnya pucat seketika, memandang Ibnu Mubarak dengan takut seolah memohon belas kasihan hingga air matanya terburai.
“Ampun, Tuan. Apa yang hendak Tuan lakukan pada saya?” tanya gadis itu gemetar.
“Tak usah takut, Nak. Kenapa kau pungut bangkai burung ini? Ini sampah, jangan dibuat mainan,” Ibnu Mubarak menenangkannya.
Setelah agak tenang, anak tersebut mengangguk.
“Sudah dua hari, saya dan saudara laki-laki saya kelaparan. Sakit, Tuan,” paparnya dengan isak tangis.
“Maksudmu?”
“Kami akan memakan burung ini.”
“Kalian berdua hendak memakannya?”
“Lapar sekali, Tuan. Kami sudah tak tahan lagi.”
“Astaghfirullah… ini haram, Nak.”
“Daripada kami mati kelaparan, Tuan.”
Kemudian anak tersebut menceritakan kisah pahit hidupnya, bagaimana ia hidup bersama saudaranya tanpa sandaran yang pasti. Makan dari sedekah, bangkai dan sisa-sisa makanan.
“Di mana ayahmu, Nak?”
Air mata mengalir deras di atas kedua pipi anak tersebut. Raut mukanya tampak sedih.
“Dulu kami hidup bahagia bersama keluarga. Apapun yang kami inginkan terpenuhi. Kami tak pernah merasakan pedihnya dunia dan cobaan hidup. Rasanya kami tak mungkin hidup susah. Tapi suatu hari, mereka datang…”
Gadis tersebut tak sanggup melanjutkan ceritanya. Hatinya sedih. Dirangkulnya bahu gadis itu oleh Ibnu Mubarak. Dengan penuh kasih sayang seraya berkata, “Teruskan ceritamu, Nak! Siapakah gerangan mereka yang datang itu?”
“Serigala.”
“Serigala?”
“Benar. Serigala manusia. Sekelompok orang yang menancapkan rasa permusuhan pada kami. Mereka merampok semua kekayaan kami, menganiaya ayah, kemudian membunuhnya. Lalu kami tak punya siapa-siapa lagi. Hingga seperti inilah keadaan kami, hanya tinggal selembar sarung yang kami kenakan.”
Gadis itu diam mematung. Di tangannya masih memegang bangkai burung.
Batal Haji karena Peduli Orang Miskin
Ibnu Mubarak linglung. Pikirannya bingung dihadapkan pada pilihan antara dirinya dan gadis itu.
Hampir tiap tahun, ia berangkat haji ke Baitullah bersama rombongannya dan bersedekah pada orang-orang tak mampu. Sedangkan gadis di hadapannya hidup sebatang kara bersama saudaranya. Hanya bangkai yang bisa dimakan. Ayahnya teraniaya dan terbunuh. Hidupnya hampa, menderita, takut dan lapar.
Kepala Ibnu Mubarak serasa dipenuhi bayang-bayang kesedihan yang mendalam. Terlintas olehnya, gambaran orang-orang lemah yang selalu kekurangan makan, orang-orang tertindas yang merindukan keadilan, ribuan air mata yang menetes setiap malam di gubuk-gubuk dan sekelompok orang yang hidup seperti mayat, dikubur, dilipat serta dihantam gelombang siksa.
Pelupuk mata Ibnu Mubarak tak kuasa. Ia menangis tersedu-sedu. Ia orang besar tapi takluk di hadapan gadis tersebut.
“Panggil, wakilku kemari sekarang juga! Kita telah kecolongan,” perintah Ibnu Mubarak pada salah seorang anggota rombongan.
Tak berapa lama sang wakil datang.
“Berapa uang yang kau pegang?”
“Seribu dinar, Tuan.”
“Ambil dua puluh! Sisanya serahkan padaku!”
Selepas menerima uang, Ibnu Mubarak menghampiri gadis tersebut, penuh kasih sayang.
“Uang ini untukmu, Nak. Mudah-mudahan ini bisa mengakhiri cobaanmu sehingga kau tak perlu memakan bangkai lagi. Temui saudaramu! Belikan dia makanan dan pakaian! Semoga Allah menyertai kalian.”
“Tuan menghina saya, ya?”
“Tidak, Nak. Ini semua untukmu. Percayalah!”
“Ii.. ini ba… ba… banyak sekali, Tuan Raja?”
“Aku bukan Raja, Nak. Aku manusia biasa, sama sepertimu.”
Dengan perasaan haru, gadis itu menerimanya. Ia seolah tengah bermimpi. Ia bergegas menuju gubuknya dengan perasaan sangat bahagia. Sementara Ibnu Mubarak segera bergabung dengan rombongan.
“Bagaimana kita bisa sampai ke tanah kelahiran Rasul dengan uang hanya dua puluh dinar, Tuan?” tanya wakil lirih pada pimpinannya.
“Itu cukup buat kita kembali dan itu lebih baik buat kita daripada berangkat haji tahun ini,” jawab Ibnu Mubarak.
Tanpa buang waktu, sang pimpinan berseru kepada rombongan, “Saudara-saudara, sekarang kita pulang. Insya Allah, tahun depan kita berangkat lagi. Ayo jalan!”
Akhirnya rombongan berbalik, tak meneruskan perjalanan melainkan kembali pulang.
Dalam perjalanan pulang, rombongan tak henti-hentinya membicarakan kejadian tadi, di samping pembatalan haji juga sikap mulia yang ditunjukkan pimpinannya. Sementara Ibnu Mubarak hanya bisa menangis mengenang peristiwa yang menyayat hatinya.
(Dialihbahasakan oleh Herry Munhanif dari al-Qalb al-Kabir dalam buku Dumu’ul Amir, karya Najib al-Kaelani, Muassasah ar-Risalah, Cet. 4, 1987).
Sumber Foto: Pexels/Tima Miroshnichenko
