JENDELAISLAM.ID – Petuah bijak Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah menyentuh pada akar permasalahan politik dan kepemimpinan pada zamannya yang dipenuhi dengan fitnah dan pertentangan.
Kejernihan pemikiran dan kejujuran dalam menghadapi kondisi politik yang kompleks menjadi sorotan utama dari nasihat-nasihatnya.
Berikut adalah lima nasihat terbaik yang dapat kita petik dari kitab tersebut:
1. Pengkhianatan Disangka Kecerdikan
“Sungguh, pemenuhan janji adalah kembaran kebenaran. Aku tidak mengetahui perisai yang lebih baik, terhadap serangan dosa, daripada itu. Orang yang menyadari realitas bahwa ia akan kembali ke akhirat, tak pernah berkhianat. Kita berada di suatu masa ketika orang memandang pengkhianatan sebagai kebijaksanaan. Pada hari ini, orang jahil menamakannya dengan hebatnya kecerdikan. Ada apa dengan mereka?” kata Ali bin Abi Thalib.
Ali bin Abi Thalib menegaskan pentingnya memenuhi janji sebagai suatu bentuk kebenaran yang tak tergantikan. Ia menyesalkan bahwa pada zamannya, pengkhianatan seringkali disamakan dengan kecerdikan, padahal seharusnya hal tersebut dianggap sebagai tindakan yang buruk.
2. Allah Mematahkan Leher Seorang Tiran
“Sesungguhnya, Allah Swt. tidak mematahkan leher seorang tirani yang lalim di dunia ini sebelum memberikan kepadanya waktu dan kesempatan, dan tidak memulihkan tulang patah dari suatu umat sebelum Dia menimpakan cobaan dan kesusahan kepada mereka. Bahkan penderitaan dan kesengsaraan lebih kecil yang masih akan menimpamu cukuplah untuk memberi pelajaran. Tidak setiap yang mempunyai hati itu cerdas, dan tidak setiap yang berpendengaran itu mendengar, dan tidak setiap yang berpenglihatan itu melihat,” kata Ali bin Abi Thalib.
Ali bin Abi Thalib mengingatkan bahwa kezaliman dan ketiranan tidak akan bertahan selamanya. Allah akan menegakkan keadilan dan mematahkan leher para tiran. Kesengsaraan yang mereka alami adalah tanda-tanda bahwa kebenaran akan datang.
3. Menjadi Rakyat yang Baik dan Menjadi Pemimpin yang Baik
“Apabila engkau memilih orang lain (maksudnya tidak memilih Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah) maka aku akan menghormati hukum negara sebagaimana warga yang suka damai. Tidak pernah aku mencoba menghasut untuk memberontak. Tetapi jika engkau telah bertekad untuk membaitku, ingatlah bahwa apabila engkau mengernyitkan dahi atau berbicara menentangku (kudeta), maka aku akan memaksamu melangkah pada jalan yang benar. Dan dalam hal kebenaran, aku tidak akan peduli terhadap siapapun,” ujar Ali bin Abi Thalib.
Ali bin Abi Thalib menegaskan bahwa ia akan menghormati hukum negara jika orang lain dipilih sebagai pemimpin, tetapi jika ia dipilih, ia akan mengikuti prinsip-prinsip kebenaran tanpa kompromi.
4. Kepemimpinan Umat Bukanlah Alat Duniawi
“Apabila engkau menghendakiku (maksudnya mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin umat) demi tujuan-tujuan duniawimu, maka aku tidak siap melayani sebagai alatmu. Tinggalkan aku dan pilihlah orang lain yang mungkin memenuhi tujuanmu. Engkau telah melihat kehidupan masa laluku bahwa aku tidak bersedia mengikuti apapun selain al-Qur’an dan Sunnah Nabi, dan tidak akan melepaskan prinsip ini untuk mendapatkan kekuasaan,” kata Ali bin Abi Thalib.
Ali bin Abi Thalib menolak menjadi alat untuk tujuan-tujuan duniawi. Baginya, kepemimpinan haruslah didasarkan pada prinsip-prinsip Al-Qur’an dan Sunnah, bukan untuk memenuhi ambisi duniawi seseorang.
5. Janganlah Terpaut dan Berharap pada Penguasa Tiran
“Hingga manusia mulai berpikir bahwa dunia terpaut pada Bani Umayah, akan mencurahkan kesejahteraan pada mereka, dan mengantarkan mereka kepada sumber-sumbernya yang jernih untuk mengairi, dan bahwa cambuk dan pedang mereka akan disingkarkan dari rakyat. Barang siapa berpikir demikian, maka ia salah. Tetapi, ada beberapa tetes dari kenikmatan hidup yang akan mereka isap untuk sementara, kemudian mereka muntahkan seluruhnya,” kata Ali bin Abi Thalib.
Ali bin Abi Thalib mengingatkan agar tidak terpaut dan berharap pada penguasa tiran. Meskipun mereka sementara dapat menikmati kekuasaan dan kenikmatan duniawi, kebenaran akan selalu menang pada akhirnya.
Kelima petuah bijak Ali bin Abi Thalib tersebut memberikan pandangan yang tajam dan jernih tentang politik dan kepemimpinan, serta mengingatkan akan pentingnya memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran dalam setiap tindakan dan keputusan.
Dengan memahami dan mengamalkan nasihat-nasihat tersebut, kita dapat menjadi bagian dari perubahan positif dalam dunia politik dan kepemimpinan, menuju kemaslahatan bagi umat manusia.
Sumber Teks: Nahjul Balaghah & Foto: Pexels/Pixabay
