Mengendalikan Nafsu

pexels - joel zar
JENDELAISLAM.ID – Inti dari puasa adalah pengendalian diri. Tidak boleh makan dan minum di siang Ramadhan, berkata kotor, iri dengki, sombong, hubungan suami isteri di siang hari Ramadhan, dan segala macam nafsu yang bisa merusak ibadah puasa. Termasuk pengendalian nafsu di dalamnya adalah godaan budaya konsumerisme.Sudah bukan rahasia lagi, masyarakat cenderung konsumtif saat bulan Ramadhan tiba. Misalnya, saat berbuka puasa dengan hidangan berlimpah. Ini bisa jadi karena kapitalisme memang menempatkan konsumsi sebagai titik sentral kehidupan masyarakat.Perilaku ini juga tidak terlepas dari peran media massa. Coba tengok saja, iklan-iklan televisi, radio, media cetak termasuk iklan outdoor bertebaran dan menghipnotis umat Islam untuk menjadi manusia konsumtif.Memang benar, Ramadhan adalah bulan sangat mulia. Pahala yang akan didulang pun dilipatgandakan. Beberapa riwayat yang kuat sanadnya menceritakan bahwa Ramadhan adalah kesempatan untuk mendapatkan dan mencari pahala sebanyak-banyaknya.Jadi, wajar apabila orang Islam antusias menyambutnya. Namun yang patut disayangkan, penyambutan itu kadang tak selaras dengan pesan penting Ramadhan. Tak sedikit orang cenderung keblabasan.Seperti kita lihat, saat Ramadhan, nafsu orang berbelanja meningkat tajam. Mulai dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan, disesaki oleh manusia. Apa yang mereka lakukan? Jawabnya adalah memenuhi kebutuhannya (juga keinginannya) dalam rangka menyambut Ramadhan.Banyak orang seakan berlomba untuk menumpuk kebutuhannya, bahkan barang yang tidak (belum) penting pun masuk dalam daftar belanja. Mereka rela merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan barang yang diinginkannya.Dan menariknya, meski harga naik, tetap juga dibeli. Tak soal, apakah barang yang dibelinya itu memang dibutuhkan atau tidak, yang penting keinginan terpenuhi.Disadari atau tidak, sebenarnya masyarakat sudah terbius oleh berbagai iklan yang digelontorkan begitu jor-joran. Iklan-iklan itu datang silih berganti, seperti gadis cantik yang memenuhi alam bawah sadar hingga banyak orang yang tergoda.Akhirnya, yang biasa tiap hari, makan dengan menu ala kadarnya, tapi saat Ramadhan tiba, menunya istimewa dan berlimpah. Yang di hari-hari biasa tidak ada makanan tambahan, saat Ramadhan sengaja diadakan untuk buka puasa (ifthar), bahkan melimpah.Yang sehari-hari menggunakan baju Muslim biasa, saat Ramadhan tak sedikit yang belanja pakaian baru untuk digunakaan saat tarawih dan sebagainya. Yang terlihat dari cara penyambutan semacam itu justru jauh dari kesan cukup dan sederhana yang diajarkan oleh Islam.Tak ada yang salah dalam hal ini. Namun cara yang tak pas ini bisa menjadi pembenaran atas sikap konsumsi yang berlebihan. Berawal dari pembenaran tersebut bisa berujung pada budaya konsumerisme. Jika suatu hal sudah menjadi kebiasaan, maka akan tercipta sebuah kebudayaan dan akan dianggap sebagai sebuah kelaziman.Dari budaya seperti ini, bisa melahirkan individu/kelompok masyarakat yang konsumtif, dan pemborosan. Ini akan menggerus substansi dan nilai dari ibadah puasa itu sendiri.Jadinya, nilai-nilai yang terkandung sudah tidak selaras dengan praktik yang ada. Padahal tujuan puasa salah satunya adalah mengekang hawa nafsu. Nafsu yang bukan hanya makan minum, melainkan juga nafsu untuk melakukan hal-hal yang berlebihan dan tidak ada manfaatnya.Justru, budaya konsumtif itu bertolak belakang dengan tuntunan Nabi SAW. Sebab saat berbuka, Rasulullah SAW hanya memakan tiga biji kurma dan segelas air putih, lalu segera berwudhu untuk mengerjakan shalat Maghrib berjamaah.Itu artinya, puasa Ramadhan bukan hanya menahan rasa lapar dan haus, melainkan juga menahan nafsu dan mengendalikan gaya hidup konsumtif.  Esensi puasa Ramadhan juga mengajarkan agar umat Islam mengikuti kesederhanaan Nabi SAW. Bukankah dalam sebuah hadits, Nabi SAW mengatakan, “Berhentilah kamu makan sebelum kenyang.”Semestinya, Ramadhan punya pesan agar kita membumikan arti kesederhanaan. Ia sejatinya juga bisa membakar ego kita yang takabur, angkuh, riya’ dan segala sifat yang  tidak baik. Bukan itu saja, Ramadhan juga mengajak kita untuk peduli terhadap lingkungan sosial sekitar. Kita bisa lebih peka karena banyak orang yang membutuhkan uluran tangan. Karena itu, akan lebih baik mengalihkan sebagian harta kita itu untuk orang-orang yang kurang beruntung.Nah, apabila perilaku Nabi Muhammad SAW, kita jadikan role model dalam menjalankan ibadah puasa, maka budaya konsumtif tidak akan pernah ada pada diri kita.***Sumber Foto: Pexels/Joel Zar