Pertobatan Sang Gembong Perampok dan Gerombolannya

Photographs of the majorelle garden in Morocco, Marrakech, seeing its fauna and vegetation and its colorful architecture.

JENDELAISLAM.ID – Melihat tingkah burung yang menyuapi seekor ular buta, sang gembong perampok itu menangis. Luluh. Ia merasa tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kebaikan si burung itu.

Sifat welas-asih burung kepada ular buta ini, menghunjam ke dalam sanubari sang gembong perampok. Ia yang tadinya berlumur dengan dosa-dosa, berubah menjadi pribadi yang berserah diri kepada Yang Kuasa.

Berikut ini kisah selengkapnya, pertobatan sang gembong perampok sebagaimana terdapat dalam buku “Kemuliaan Taubat; Kisah Orang-orang yang Diampuni” terjemahan dari “at-Tawwaabun”, karya Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisy.

***

Di sebuah gua, tinggallah Akbar Kurdi dan gerombolannya. Tempat itu mereka gunakan untuk bersembunyi. Setiap usai menjalankan aksinya, mereka kembali ke gua. Di situ pula, mereka menyimpan barang-barang hasil jarahannya. 

Biasanya mereka mencegat orang-orang yang melintas di jalanan. Memaksa orang-orang agar mau menyerahkan hartanya. Apabila tak mau, tak segan dipaksa dengan jalan kekerasan.

Tak mengherankan, di lokasi yang kerap jadi bancakan  para perampok itu angker bagi para pejalan. Siapa yang melintas dengan membawa uang atau barang berharga akan jadi sasaran mereka.    

Di sekitar gua itu, tumbuh tiga pohon kurma yang subur. Dua pohon kurma sedang berbuah, segar dan masih muda. Satu pohon lagi tidak berbuah. Saat itu, Akbar Kurdi, sang pemimpin perampok, sedang melihat sekeliling gua. Mendadak, matanya terpaku pada pemandangan di pohon  kurma  

Dilihatnya, seekor burung menclok di salah satu pohon kurma yang berbuah. Binatang itu memetik kurma muda dari pohon kurma yang berbuah. Kemudian berpindah pada pohon kurma yang tidak berbuah.

Bolak-balik burung itu memetik kurma lalu hinggap ke pohon kurma yang tak berbuah. Akbar Kurdi menghitungnya sampai sepuluh kali burung itu melakukannya.

Heran ia melihat hal itu. Penasaran apa sebenarnya yang dilakukan oleh burung tersebut sehingga mondar-mandir dari satu pohon ke kurma ke pohon kurma lainnya.

Karena itu, ia beranjak dari tempat duduknya. Ia melihat lebih cermat. Ternyata di atas pohon kurma itu ada seekor ular besar yang buta. Dan yang lebih menakjubkan, burung yang tadi lalu lalang itu sedang menyuapi buah kurma ke mulut ular. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Sang burung yang baik hati itu penolong ular yang buta.  

Gembong perampok itu tak bisa menyembunyikan perasaan harunya. Ia betul-betul masih belum percaya ada seekor burung bersahabat dengan seekor ular buta. Hebatnya burung itu mencarikan makanan sekaligus menyuapkannya ke dalam mulut sahabatnya yang buta itu.

Melihat hal itu, perasaan Akbar Kurdi tersentuh. Hatinya yang keras seakan luluh. Bayangkan, seekor burung yang naluri hidupnya mengandalkan instingnya saja bisa berbuat mulia pada seekor ular yang notabene adalah binatang berbahaya, bagaimana dengan manusia yang dikaruniai akal dan pikiran.

Batinnya bergejolak. Selama ini Akbar tak peduli kepada orang lain. Justru hidupnya lebih banyak merugikan orang lain. Ia sakiti orang-orang tak bersalah, menzalimi orang lain. Di balik penderitaan yang dialami oleh orang-orang karena harta kekayaannya dirampok, ia justru menari-nari untuk menikmati hasil rampokannya.

Lelaki ini mengingat betul keburukan-keburukan yang telah dilakukannya selama ini. Lalu tanpa disadari, air matanya meleleh.  Ada rasa sesal begitu mendalam dari dalam dirinya. Ini terlihat dari ekspresi mukanya. Raut yang sebelumnya tampak garang, kini tiba-tiba luluh. Bersimpuh di hadapan Sang Ilahi.  

“Ya Rabbi, dia hanya seekor ular yang boleh dibunuh. Akan tetapi, Engkau telah membuat ular ini buta dan telah pula Engkau kuasakan seekor burung yang senantiasa mencukupi kebutuhan makannya. Aku adalah hamba-Mu. Aku mengakui bahwa Engkau adalah Maha Esa. Engkau telah posisikan aku sebagai seorang perampok dan pengganggu jalanan,” ucap Akbar penuh penyesalan.

Lantas lelaki itu mengambil pedangnya. Ia patahkan pedangnya menjadi dua.  Setelah itu, ia pukulkan kedua tangannya pada hamparan pasir, menggenggam pasir dan menaburkan di atas kepalanya.

 “Lepaskan aku dari belenggu dosaku ini, ya Rabb! Lepaskanlah aku!” teriak Akbar.

Mimpi Berbuah Pertobatan

Mendengar teriakan Akbar yang keras, seluruh kawan-kawannya yang berada di tempat itu, segera terbangun dari tidurnya.

“Ada apa denganmu? Sungguh engkau telah mengganggu tidur kami!” tanya mereka.

Setelah mengambil nafas dalam-dalam, gembong perampok itu mulai mengurai mimpinya.

“Aku melihat kebaikan seekor burung yang menolong seekor ular yang buta. Padahal kita tahu, ular adalah binatang berbahaya dan boleh dibunuh, tetapi burung itu malah menolongnya dengan penuh kerelaan. Bandingkan dengan kita! Kita ini manusia yang punya akal dan nurani, tetapi perilaku kita bejat, kalah dengan burung itu,” kisahnya.

“Terus?”

“Aku sadar. Selama ini, aku jauh dari kebajikan, dan mulai saat ini aku ingin memulai hidup baru. Hidup yang lebih baik,” sahutnya.

Mendengar kesadaran Akbar, seketika mereka yang sebelumnya juga berprofesi sebagai perampok pun lebur mengikuti jejak pimpinannya.

“Kita sebelumnya juga orang-orang yang jauh dari kebajikan, dan saat ini kita pun tersadarkan kembali.”

Setelah itu, gerombolan perampok itu menanggalkan pakaian-pakaian mereka. Dan sejak saat itu, mereka mengenakan pakaian ikhram. Keadaan ini berlangsung hingga tiga hari lamanya. Berturut-turut. Dengan pakaian ihram, mereka terus berteriak-teriak sembari menangis tersedu-sedu. Bahkan dalam keadaan linglung pun, mereka terus berteriak karena dosa-dosa yang telah mereka perbuat.

Di hari ketiga pertobatan mereka, tiba-tiba muncul seorang wanita buta duduk di pintu desa. Wanita buta itu bertanya, “Adakah di antara kalian yang bernama Akbar Kurdi?”

 “Ya, apakah engkau ada perlu dengannya?” jawab salah seorang mantan gerombolan perampok itu.

“Ya, tiga hari berturut-turut aku telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Dalam mimpi itu, beliau bersabda, “Berikan kepada Akbar apa yang ditinggalkan oleh putramu!”

Setelah itu, si wanita buta mengeluarkan enam puluh lembar kain. Sebagian kain itu mereka gunakan sebagai sarung. Dan mereka kembali melanjutkan perjalanan memasuki daerah pedesaan hingga tiba di rumah masing-masing. Sejak saat itu, mereka bertekad menghapus lembaran hitam yang berlumur dosa dan mengisi hari-harinya dengan pertobatan.

Pelajaran dari Burung

Mimpi Akbar Kurdi memang unik. Bagaimana bisa, seekor burung menyayangi seekor ular buta yang sukanya membelit batang-batang pohon kurma. Burung baik hati itu, tiap hari selalu mencarikan makan untuk teman satunya itu. Ia petik buah kurma mentah lalu disuapkannya pada sahabatnya yang buta itu. Perilaku burung dan ular itu lalu membuahkan kesadaran Akbar Kurdi.

Dari sini, ada pelajaran penting. Bahwa binatang itu punya rasa menyayangi kepada sesama binatang. Artinya, binatang saja punya sifat welas asih terhadap sesama binatang meski berbeda jenisnya, apalagi manusia yang dikarunia akal pikiran serta nurani. Harusnya manusia bisa lebih melakukan hal itu. Bukan malah mementingkan ego-nya, menyenangkan diri sendiri.

Bukankah menolong itu lebih utama dan dapat mengalahkan ketakutan? Sekali pun ular itu membahayakan bagi yang mendekatinya, si burung mengabaikan ketakutannya. Dia malah menolong dan bersahabat dengan ular. Burung itu menanggalkan ketakutannya biar dapat menolong ular yang buta.

Bagaimana dengan manusia? Kita sering membaca teladan Nabi SAW, betapa rasa kasih sayangnya kepada sesama, termasuk pada orang yang memusuhinya sekali pun, Nabi SAW tetap mengedepankan sifat welas asih. Dengan sikap ini, mereka yang tadinya memusuhi dakwah Nabi SAW, justru takluk dan akhirnya berikrar syahadat.***

Foto:  iStock