JENDELAISLAM.ID – Anda ingin menjadi manusia hebat? Bisa. Semua orang juga bisa. Asalkan mampu mendayagunakan segenap potensi: insting, waktu, daya pikir, dan energi. Setiap manusia itu bisa menjadi hebat, karena sejak awal Allah menciptakan manusia sebagai makhluk hebat, “Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk” (QS. at-Tin: 4).
Bahkan dengan kehebatannya, manusia pun bisa menundukkan bumi langit dan seisinya atas kuasa Allah, “Tidakkah kamu lihat bahwa Allah telah menundukkan untukmu segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, lalu dia menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin” (QS. Luqman: 20).
Akan tetapi untuk menjadi hebat tidaklah gampang. Banyak lelaku yang harus dijalani.
Menurut Ibrahim Elfiky dalam buku “Excellent Life”, banyak manusia inginnya menjadi hebat, tetapi banyak yang tidak berbuat apa-apa untuk mewujudkannya. Ini sungguh bertolak belakang.
Padahal yang perlu diingat bahwa menjadi manusia hebat bukanlah tanpa masalah, bukanlah tanpa rintangan. Namun manusia hebat apabila menghadapi kesulitan, ia langsung berpikir cara memecahkannya; apabila ada tantangan, ia langsung berpikir menghadapinya, setelah itu bertawakkal dan senantiasa lapang atas pemberian Allah SWT.
Ketika manusia ingin menempuh jalan menuju hebat, harusnya jangan pernah berhenti sebab rintangan apapun. Perjalanan menuju hebat pastilah menemukan beragam aral rintangan dan problem yang mungkin saja tidak mengenakkan. Karena itu, gagal adalah hal biasa untuk meraih hebat. Sesungguhnya itu bukanlah kegagalan melainkan pengalaman, cobaan dan pembelajaran.
Bukankah segala sesuatu punya makna karena ada makna yang berlawanan. Tidak ada rasa nyaman tanpa ada rasa capek. Tidak ada keberhasilan tanpa kegagalan. Tidak ada malam tanpa ada siang. Tidak ada sehat tanpa ada rasa sakit. Tidak ada kemudahan tanpa ada kesulitan. Begitu pula jalan menuju hebat. Hanya saja hebat di sini bukan saja hebat di dunia saja, melainkan hebat di dunia dan akherat.
Ketika kesuksesan hanya diraih di dunia, sejatinya tidak akan merasakan kebahagiaan yang utuh. Bisa saja merasakan kenyamanan atau kebahagiaan parsial, tetapi sebenarnya tidak akan merasakan kebahagiaan hakiki. Harta tidak akan memberi kesehatan dan kelapangan jiwa, tidak juga kedamaian dan ketenangan sejati.
Untuk itulah, agar manusia bisa hebat dunia di akherat, harus dibarengi dengan bergantung kepada Allah (taat, ikhlas, tawakkal, shalat, doa, dzikir, sedekah, toleran dan sebagainya), akhlak mulia dan usaha serius (komitmen, determinasi dan disiplin).***
