Pakar Tafsir Jabarkan Terkait Peristiwa Nabi Yunus dan Ikan Paus

JENDELAISLAM.ID – Selama ini, ada pemahaman banyak orang melalui berbagai cerita bahwa Nabi Yunus itu masuk ke dalam perut ikan paus.

Namun Pakar Tafsir al-Qur’an, KH. Musta’in Syafi’i, menjelaskan bahwa Nabi Yunus tidaklah ditelan sampai masuk perut ikan paus, melainkan posisinya masih di dalam mulut.

Kenapa posisinya masih di dalam mulut? Kyai Musta’in mendasarkan pandangannya pada al-Qur’an Surat (QS) ash-Shaffat: 182.

Ia menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber pada “Seminar al-Qur’an Multaqo Nasional Ulama al-Qur’an” yang digelar oleh Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) di Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Rabu (26/06/2024).

“Nabi Yunus ditampani ikan itu bukan masuk perut, tapi faltaqama luqmah. Luqmah masih dikunyah (masih di mulut),” katanya.

Menurut Kyai Musta’in, jika yang dimaksud telan sampai masuk perut tentu bukan kata iltaqama yang digunakan, melainkan bala’a. Hal ini bisa dilihat pada QS. Hud: 44 yang menceritakan perintah Allah SWT agar bumi lekas menyerap air.

“(Kata) Iblai itu biar cepat menyerap air,” jelas kyai pengajar Tafsir al-Qur’an di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang,  Jawa Timur itu.

Penjelasan bahwa Nabi Yunus tidak ditelan dan masuk ke dalam perut dan justru ada di mulut ini, makin menemui kebenaran dengan adanya penemuan ilmiah.

Ikan dengan besar 35 kali lebih besar dari gajah itu, menurutnya, tidak bernapas dengan insang, melainkan dengan paru-paru.

Ikan besar itu akan naik ke permukaan untuk mengambil udara. Karenanya, Nabi Yunus bisa bertahan hidup di mulut ikan tersebut karena adanya udara yang masuk. Adapun QS. ash-Shaffat: 144 yang menyebut bahwa Nabi Yunus niscaya akan tetap dalam perut sampai hari kebangkitan itu harus dikaitkan dengan ayat sebelumnya. Hal itu akan terjadi jika Nabi Yunus tidak membaca tasbih.

“Nyantol di mulut, tidak masuk ke perut karena tasbihnya Nabi Yunus,” ujar kiai kelahiran Paciran, Lamongan, Jawa Timur itu.

Multaqo Nasional Ulama al-Qur’an ini berlangsung pada 26-27 Juni 2024 dengan berbagai acara penting, seperti: Seminar al-Qur’an tentang Tantangan Dakwah al-Qur’an di Era Digital, Bahtsul Masail Qur’aniyah, Diskusi Program Strategis JQHNU dan Sinergi dengan Lembaga lain yang Sejenis, serta Penghargaan kepada Tujuh Individu dan Tujuh Institusi yang Berdedikasi Tinggi terhadap Pengembangan al-Qur’an di Indonesia.***  

Sumber Teks & Foto:  NU Online