JENDELAISLAM.ID – Karena dibelit masalah ekonomi, Abu Nawas terpaksa menjual keledai kesayangannya. Sebenarnya ia tak tega menjual keledai itu, karena keledai itu merupakan kendaraan Abu Nawas satu-satunya.
Abu Nawas hendak membawanya ke pasar. Akan tetapi sekelompok pencuri telah mengetahui rencana Abu Nawas. Mereka sepakat akan memperdaya Abu Nawas.
Ketika Abu Nawas berisitrahat di bawah pohon, salah seorang pencuri mendekat dan berkata, “Apakah kau akan menjual kambingmu?”
“Ini keledai, bukan kambing?”
“Kalau engkau yakin itu keledai, jual saja ke pasar dan tanyakan kepada mereka!” kata pencuri tersebut.
Abu Nawas melanjutkan perjalanannya sambil mengendarai keledainya. Tiba-tiba pencuri kedua menghampiri. “Mengapa engkau menunggang kambing?” tanyanya.
“Ini bukan kambing, tapi keledai,” jawab Abu Nawas.
“Kambing kok dikatakan keledai. Dasar orang aneh!” kembali pencuri kedua berusaha mengakali Abu Nawas.
“Kalau ini kambing, aku tidak menungganginya,” jawab Abu Nawas.
“Kalau kau tak percaya, pergilah ke pasar dan tanyakan pada orang-orang di sana!”
Abu Nawas belum terpengaruh dan tetap berjalan menuju pasar. Lalu pencuri ketiga mencegatnya lagi, “Hai Abu Nawas, akan kau bawa kemana kambing itu?”
Kali ini Abu Nawas tak segera menjawab. Ia mulai ragu, sudah tiga orang mengatakan kalau hewan bawaannya adalah kambing. Pencuri ketiga tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia makin merecoki otak Abu Nawas.
“Sudahlah biar pun kau bersikeras hewan itu keledai, nyatanya itu adalah kambing. Kambing… kambiiing….!”
Abu Nawas berhenti sejenak di bawah pohon. Pencuri keempat melaksanakan strategi busuknya. Ia duduk di samping Abu Nawas dan mengajaknya berbincang-bincang.
“Ahaa… bagus sekali kambingmu ini!” pencuri keempat membuka percakapan.
“Kau juga yakin ini kambing?” tanya Abu Nawas.
“Lho? Jelas sekali kalau hewan ini adalah kambing. Kalau boleh aku ingin membelinya?”
“Berapa kau membayarnya?”
“Tiga dirham!”
Tanpa pikir panjang, Abu Nawas setuju. Setelah menerima uang dari pencuri keempat kemudian Abu Nawas langsung pulang. Setiba di rumah, isteri Abu Nawas memarahinya.
“Jadi keledai itu hanya engkau jual tiga dirham lantaran mereka mengatakan bahwa keledai itu kambing?”
Abu Nawas tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan ocehan istrinya dengan setia sambil menahan rasa dongkol. Kini ia baru sadar bahwa dirinya telah diperdayai oleh komplotan pencuri yang menggoyahkan akal sehatnya.
Setelah menyadari dirinya telah ditipu oleh komplotan pencuri, Abu Nawas merencanakan sesuatu. Ia pergi ke hutan mencari sebatang kayu untuk dijadikan sebuah tongkat yang nantinya bisa menghasilkan uang. Ternyata rencana Abu Nawas berjalan mulus. Hampir semua orang membicarakan kejaiban tongkat Abu Nawas.
Berita ini juga terdengar oleh komplotan pencuri yang telah menipu Abu Nawas. Mereka langsung tertarik. Bahkan mereka melihat sendiri ketika Abu Nawas membeli barang atau makan tanpa membayar tetapi hanya dengan mengacungkan tongkatnya. Mereka berpikir kalau tongkat itu bisa dibeli, maka tentu mereka akan kaya karena hanya dengan mengacungkan tongkat itu, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.
“Apakah tongkatmu akan dijual?” kata salah seorang di antara mereka.
“Tidak,” jawab Abu Nawas.
“Tapi kami berani membeli dengan harga yang tinggi,” jawab yang lain.
“Berapa?”
“Seratus dinar uang emas.”
“Tetapi tongkat ini adalah tongkat wasiat satu-satunya yang kumiliki,” kata Abu Nawas sambil tetap pura-pura tidak ingin menjualnya.
Abu Nawas diam beberapa saat seperti merasa keberatan sekali.
“Baiklah kalau begitu,” kata Abu Nawas sambil menyerahkan tongkatnya.
Setelah menerima seratus dinar uang emas, Abu Nawas segera pulang. Para pencuri segera mencari warung terdekat untuk membuktikan keajaiban tongkat yang baru mereka beli. Seusai makan, mereka mengacung-acungkan tongkat itu kepada pemilik kedai. Tapi apa yang terjadi, justru pemilik kedai marah kepada mereka.
“Apa maksudmu mengacungkan tongkat itu padaku?” katanya.
“Bukankah Abu Nawas juga mengacungkan tongkat ini dan engkau membebaskannya?” tanya pencuri tersebut.
“Benar. Tetapi engkau harus tahu bahwa Abu Nawas menitipkan sejumlah uang kepadaku sebelum makan di sini!”
“Gila! Ternyata kita tidak mendapat keuntungan sama sekali menipu Abu Nawas. Kita malah rugi besar!” umpat para pencuri dengan rasa dongkol.***
Sumber Foto: Shutterstock
