JENDELAISLAM.ID -Di sebuah desa yang letaknya di pinggir Sungai Nil Mesir, hiduplah Dzun Nun al-Mishri, seorang sufi yang sebelumnya akrab sekali dengan gaya hidup hedonis, penuh hura-hura, lalu bertaubat.
Lelaki itu terkenal kesalehannya, suka menolong, juga ringan menyumbangkan hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan, walaupun terkadang ia sendiri lebih membutuhkan.
Suatu hari, pakaian Dzun Nun banyak yang kotor, baju yang bersih tinggal sepotong di lemari. Maka, ia pun pergi ke Sungai Nil yang tak jauh dari rumahnya untuk mencuci semua baju kotornya.
Sewaktu mencuci, tanpa sengaja melihat seekor kalajengking besar di sela-sela batu, dekat dengan tempatnya mencuci. Ia tahu bahwa kalajengking memiliki sengatan beracun yang mematikan.
Binatang itu merayap, mendekatinya. Dengan ujung ekor mengerikan, binatang berbisa tersebut seperti akan segera menyengatnya. Tak bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi apabila sengatannya menancap di organ tubuhnya.
Dzun Nun panik. Tak ada kesempatan untuk menghindar. Ia pasrah apa yang akan terjadi, sembari bibirnya merapalkan doa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar terhindar dari ancaman hewan itu.
Dan “kun fayakun”, doanya dikabulkan oleh Allah SWT, kalajengking yang tengah mendekatinya itu seolah ada yang mengomando untuk segera memutar haluan. Binatang beracun tersebut kembali merayap, menyusuri tepian sungai.
Perilaku hewan satu ini menarik bagi Dzun Nun. Karena penasaran, ia kemudian membuntuti kalajengking. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh kalajengking setelah tadi batal menyengat tubuhnya.
Tak dinyana, kalajengking itu mendekati pohon yang rimbun. Di bawah pohon besar nan rindang itu, sudah ada seorang pemuda yang teler, tak sadarkan diri. Entah apa penyebabnya mendadak si kalajengking menghampiri si pemuda mabuk.
Melihat hal ini, Dzun Nun cemas. Dzun Nun khawatir apabila kalajengking itu menyengat si pemuda mabuk. Tentunya, racunnya yang sangat berbisa itu bisa saja mengakhiri hidup pemuda tak berdaya itu.

Illustrasi: Pixabay/Peggychoucair
Kalajengking vs Ular
Belum sirna, kecemasan Dzun Nun saat kalajengking itu mendekat hendak menyengat pemuda mabuk. Tiba-tiba ada pemandangan lain yang sangat mengejutkan.
Ternyata di dekat pemuda itu, muncul seekor ular besar yang siap mematuk sang pemuda. Dari mana datangnya ular besar itu, ia tak mengerti. Pemuda mabuk itu serasa akan menjadi santapan ular besar dan sasaran kalajengking berbisa.
Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Di luar dugaan Dzun Nun. Kedua binatang berbisa itu malah saling berhadapan. Masing-masing menampakkan tampang bengisnya.
Serangga itu merayap perlahan mendekati kepala ular yang lebih dekat dengan pemuda itu. Ia menyerang ular. Keduanya terlibat perkelahian hebat. Kalajengking berhasil melumpuhkan lawannya, ia menyengat kepala ular sehingga ular itu terkapar. Tak berkutik karena terkena bisa kalajengking yang mematikan.
Sesaat kemudian, kalajengking pergi, meninggalkan bangkai ular dan tubuh pemuda yang mabuk berat di bawah pohon itu. Hewan itu kembali menyusuri sungai, entah mau apa.
Pelajaran dari Kalajengking
Kini, perasaan Dzun Nun sudah tenang. Rasa cemasnya yang membuat jantungnya berdegup cepat, sudah lenyap lantaran si kalajengking sudah pergi, dan si ular sudah tak berdaya. Mati.
“Ah, ternyata kalejengking itu menyelamatkan nyawa manusia!” batin Dzun Nun al-Mishri.
Dia takjub, binatang yang semula ia anggap sebagai pembunuh manusia justru telah berjasa menyelamatkan manusia dari maut. Bahkan untuk seorang pemabuk sekali pun. Ia kemudian menghampiri pemuda mabuk itu. Ia duduk di sampingnya.
“Hai, anak muda, tadi, seekor kalajengking datang ke sini dan membunuh ular ini yang hendak menggigitmu,” ucap Dzun Nun.
Lantas ia membacakan sebuah syair:
“Wahai orang yang sedang terlelap!
Tuhan yang Agung menjagamu
dari setiap bahaya yang datang dalam gelap
Pantaskah mata tertidur dari Yang Kuasa
Sementara berbagai nikmat-Nya diberikan kepadamu”
Mendengar ada orang di sampingnya sedang menyenandungkan syair, si pemuda mabuk itu pelahan sadarkan diri. Begitu bangun, ia kaget bukan kepalang karena di sampingnya sudah ada orang asing sedang melantunkan syair.
Dzun Nun memintanya tetap tenang. Lalu menjelaskan kepada si pemuda tentang apa yang baru saja terjadi. Setelah mendengar penjelasan Dzun Nun, barulah pemuda itu sadar. Betapa Allah SWT menyelamatkan dirinya dari kematian melalui perantara seekor kalajengking. Padahal dirinya adalah tukang mabuk.
“Ya Tuhanku, seperti ini tindakan-Mu kepada orang yang berbuat maksiat kepada-Mu, apalagi kepada orang yang taat kepada-Mu,” ucapnya.
Tak lama kemudian, pemuda tersebut insaf. Ia menyadari semua kesalahannya dan berniat serius untuk memperbaikinya.
Sastrawan yang Saleh
Dzun Nun memang seorang sastrawan yang saleh. Bukan kepada si pemuda mabuk saja, ia perlihatkan syair penuh makna, melainkan juga kepada teman-temannya. Sampai menjelang ajal di pembaringan pun, sewaktu sahabat-sahabatnya menanyakan, “Apa keinginanmu?”
Lantas dijawabnya, “Sebelum aku meninggalkan dunia, walaupun hanya sesaat, aku dapat mengenal-Nya.”
Sehabis itu, ia masih sempat melantunkan bait syairnya:
“Ketakutan menyia-nyiakanku
Kerinduan melahapku
Cinta memperdayakanku
Allah kembali menghidupkanku”
Keesokannya, sang sufi tak sadarkan diri. Di malam saat ia meninggal dunia, tujuh puluh orang berjumpa dengan Nabi SAW dalam mimpi mereka. Semuanya meriwayatkan bahwa Nabi SAW berkata, “Sahabat Allah datang. Aku keluar untuk menyambutnya.”
Saat Dzun Nun meninggal dunia, terlihat tulisan berwarna hijau di keningnya yang berbunyi, “Ini adalah sahabat Allah, ia wafat dalam cintanya kepada Allah.”
Tanda kesalehan sang pujangga ini juga terlihat ketika para pengiring menggotong kerandanya ke pemakaman, burung-burung datang dengan mengepakkan sayapnya, melindungi usungan jenazahnya dari sengatan sinar matahari, mulai dari rumah hingga ke pemakaman.
Begitu pun tatkala seorang muadzin melafalkan adzan, tepatnya di kalimat syahadat, jenazah mendadak mengangkat satu jarinya hingga keluar dari selubung kerandanya.
Ini membuat para pengiring kaget. Mereka mengira jenazah hidup lagi. Akan tetapi setelah dicek, jenazah benar-benar sudah meninggal dunia. Hanya saja, jari telunjuk menunjuk. Beberapa orang berusaha mengembalikan posisi jari semula, namun merkea tidak mampu sehingga tetap jari Dzun Nun tetap menunjuk seperti isyarat kesaksian bahwa Allah adalah Esa.
Siapa sebenarnya Dzun Nun al-Mishri? Dia punya nama asli Abul Faidh Nun Tsauban bin Ibrahim al-Mishri (w. 245 H/859 M). Ayahnya berasal dari Naubi (sebuah negara di Timur Laut Afrika, berbatasan dengan Mesir dan Laut Merah, Padang Libya dan Khartum). Beliau adalah seorang sufi Mesir, sangat terhormat, alim, wara’, kharismatik, dan sastrawan pada masanya. (Berbagai sumber)***
Sumber Foto: Pixabay/waldryano
