Denyut Islam di Kampung Mlangi Yogyakarta

JENDELAISLAM.ID – Apabila Anda sedang berada di Kota Gudeg, sempatkanlah untuk mengunjungi Kampung Mlangi. Sebab kampung ini berbeda dengan kampung-kampung lain di Yogyakarta.

Mlangi adalah sebuah kampung yang memiliki perjalanan sejarah Islam yang panjang. Di kampung ‘wisata reliji’ ini tumbuh dan berkembang puluhan pesantren.

Pesantren tertua yang masih berdiri hingga sekarang adalah Pesantren al-Miftah (lahir tahun 1920-an). Kemudian menyusul kemudian Pesantren as-Salafiyyah, al-Falakhiyyah (pesantren putri pertama di Mlangi), al-Huda, as-Salamiyyah, an-Nasyath, Hujatul Islam, ar-Risalah, al-Ikhsan, dan Pondok Pesantren lainnya.

Pesantren di Mlangi ini unik. Karena pesantren di Mlangi dilahirkan oleh masyarakat sehingga antara pesantren dan masyarakat merupakan suatu komunitas sosial yang sama. Sementara pesantren-pesantren lain rata-rata lahir karena tokoh atau kyai.

Sembari belajar di lembaga pendidikan formal, masyarakat setempat menjadi santri kalong yang menuntut ilmu di pondok pesantren yang ada di Mlangi. Karena itu, jangan heran apabila cara berbusana penduduk sekitar pun terlihat Islami. Yang laki-laki sehari-harinya biasa bersarung, baju koko dan berkopiah. Sedangkan yang perempuan biasa terlihat mengenakan kebaya dan kerudung.

Kendati mayoritas pesantren di Mlangi ini mengikuti tradisi salaf, namun pesantren tetap bersikap terbuka. Sebab kebanyakan lembaga pendidikan formal tempat para santri belajar, baik di lingkungan Mlangi maupun di luar Mlangi, sudah mengikuti kurikulum yang berlaku pada umumnya. Sehingga santri yang kental dengan nuansa tradisional, sedikit banyak juga sudah berpikiran lebih moderat.

Clifford Gezt, antropolog asal AS, yang meneliti budaya Jawa, pernah menyatakan bahwa Kampung Mlangi ini termasuk memiliki tingkat relijiusitas tinggi, di dalamnya terdapat santri tradisionalis yang berbaur dengan santri modernis.  

Lahir dari Mulangi

Tempat bersejarah di Mlangi yang masih bisa kita saksikan sekarang ini adalah bangunan Masjid Pathok Negoro Mlangi. Kompleks pemakanan mengelilingi masjid ini. Dan yang paling tersohor adalah makam Mbah Kyai Nur Iman.  

Siapa Kyai Nur Iman? Beliau adalah sosok yang pertama membuka kampung ini hingga menjadi kampung santri seperti sekarang ini. Nama Mlangi tak lepas dari nama Kyai Nur Iman yang sebenarnya adalah kerabat Hamengku Buwono I, bernama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo.

Dulu, Sandiyo (Nur Iman) pernah belajar di Pesantren Gedangan Pasuruan Jawa Timur di bawah asuhan Kyai Abdullah Muhsin. Sang kyai memberikan julukan Nur Iman lantaran tindak tanduk muridnya yang satu ini sangat arif dan bijak.

Sang kyai juga berpesan agar Nur Iman senantiasa menyampaikan amar makruf nahi munkar. Di samping itu, pesannya adalah agar berjuang menegakkan Islam serta mendirikan pesantren.

Sepulangnya dari mondok, ia menerima hadiah berupa tanah oleh Hamengku Buwono I, yang tak lain adalah adiknya sendiri. Kebetulan saat itu Keraton Yogyakarta sudah berdiri usai penandatanganan Perjanjian Gianti (1755).

Tanah hadiah inilah yang kemudian bernama ‘mlangi’, dari kata bahasa Jawa ‘mulangi’ yang berarti mengajar. Dinamai demikian, sebab daerah itu digunakan oleh Mbah Kyai Nur Iman untuk mengajar agama Islam.

Beliaulah yang akhirnya membuka lahan yang dulunya berupa hutan belantara ini menjadi perkampungan yang bernuansa Islam.

Selain menyelenggarakan pengajian, Mbah Kyai Nur Iman juga mengusulkan pendirian Masjid Jami’ Pathok Nagoro Mlangi. Masjid inilah pada akhirnya menjadi peninggalan bersejarah dan masih berdiri perkasa di Mlangi. Warga sekitar biasa menyebutnya dengan nama Masjid Gedhe.

Masjid ini merupakan bangunan paling legendaris di Mlangi yang sudah ada sejak sekitar abad 18. Sekali pun sudah mengalami pemugaran, arsitekturnya masih asli. Di antaranya adalah gapura masjid dan dinding sekitar masjid yang desainnya seperti bangunan keraton.  

Adapun makam Kyai Nur Iman sendiri terletak tidak jauh dari masjid, melewati pintu makam sebelah selatan masjid. Makam itu terletak di sebuah bangunan seperti rumah dan dikelilingi cungkup dari bahan kayu. Makam itu kerap dikunjungi oleh para peziarah sepanjang tahun, terutama lebih ramai saat bertepatan dengan haul (wafatnya Kyai Nur Iman) yang jatuh pada malam 15 Syura. 

Berdenyut Setiap Saat

Dusun Mlangi adalah salah satu dusun yang ada wilayah Desa Nogotirto Kec. Gamping Kab. Sleman dengan luas kurang lebih 34.4371 ha. Karena cikal bakal Mlangi lahir dari sentuhan seorang ulama bernama Mbah Kyai Nur Iman yang mengabdikan diri untuk agama dan umat selama hidupnya, maka wajar bila Mlangi lekat dengan kehidupan Islam. 

Berkat kontribusi besar Mbah Kyai Nur Iman, pesantren menjamur sehingga kehidupan masyarakat yang agamis berdegup di kampung ini. Ini bisa dilihat dalam aktivitas masyarakat sehari-hari, baik di lingkungan pesantren yang padat dengan kegiatan ngaji, di madrasah-madrasah, dan di majelis-majelis taklim (seperti: di Masjid Jami’ Mlangi maupun makam Mbah Kyai Nur Iman yang kerap dikunjungi oleh para peziarah).

Mengingat lingkungan yang kondusif, tak ayal bila tradisi dan amalan agamis masih kuat di Mlangi. Di antara tradisi-tradisi itu adalah ziarah kubur, membaca Shalawat Tunjina (untuk memohon keselamatan di dalam hajatan-hajatan), membaca Shalawat Nariyah, manaqiban, barzanji, dan sebagainya.

Bahkan saat Ramadhan tiba, kampung ini semakin semarak dengan berbagai kegiatan keagamaan. Mulai dari tadarus, pengajian anak-anak, pengajian umum, pengajian kitab, dan sebagainya. Tak sedikit pula masyarakat dari luar yang datang untuk menimba ilmu (thalabul ilmi) agama khusus Pasanan (bulan Ramadhan saja).  

Sebab biasanya, pesantren-pesantren di Mlangi menyelenggarakan paket Ramadhan berupa kajian kitab Kuning yang meliputi pelajaran akidah, akhlak, tasawuf, fiqih, muamalah, tafsir, hadits dan lainnya. Memang pengajian kitab kuning di luar Ramadhan sudah biasa di pesantren, namun pada hari Ramadhan akan lebih intens dan padat kajiannya.  

Di sisi lain, Mlangi juga terkenal dengan kampung wirausaha. Pasalnya sudah sejak lama kampung ini dikenal sebagai salah satu penghasil tekstil terkemuka. Pada tahun 1920, usaha tenun dan batik cetak marak di kampung ini hingga tahun 1965-an. Sayangnya, usaha ini memudar seiring dengan merebaknya batik sablon yang menguasai pasar. Kalau pun ada usaha batik yang tersisa adalah batik Sultan Agung yang juga mulai meredup di akhir 1980-an.

Namun demikian, usaha konveksi; seperti: celana batik, peci, jilbab dan sebagainya masih berjalan hingga kini. Pasarnya tentu saja di sekitar Yogyakarta sendiri, seperti: Malioboro, Borobudur, dan beberapa daerah di luar Yogyakarta.***

Sumber Foto: Mlangi.id