JENDELAISLAM.ID – Sajriah masih mengenakan mukena ketika Kiai Khalilurrahman dan tim dari Daerah Kerja (Daker) Makkah mengunjungi kamarnya di Hotel Al-Hasan (113) wilayah Syisyah pada Selasa (28/5/ 2024). Pada waktu itu, ia baru saja menyelesaikan istirahat setelah menjalani rutinitas paginya.
Sebagai jamaah haji disabilitas (tuna netra), Sajriah ramah menyambut kedatangan rombongan Khalililurrahman, Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah. Hafida Jufri, perawat pendampingnya, juga ikut hadir.
Sambil menunggu puncak haji, Khalilurrahman menyarankan Sajriah untuk beribadah di hotel saja, mengingat kondisi usianya yang sudah lanjut dan cuaca yang sangat panas.
“Buat jamaah yang sepuh-sepuh, mendapatkan kemuliaan keringanan, rukhsah. Jadi, jika tidak mampu, setelah wukuf bisa langsung kembali ke hotel. Ada yang disebut safari wukuf,” ujar Kiai Khalil.
Sajriah, yang berusia 65 tahun, sadar akan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk menjalani ibadah haji secara normal, seperti berjamaah ke Masjidil Haram.
Sebelum meninggalkan kamarnya, Kiai Khalil meminta Sajriah untuk mengirimkan Alfatihah, mendoakan keselamatan dan kesehatan bagi seluruh jamaah haji Indonesia dan petugas haji.
Sajriah, seorang jamaah asal Pare Pare, Sulawesi Selatan, kemudian mengangkat tangan untuk berdoa dan membaca Alfatihah. Kiai Khalil memimpin doa tersebut, dan semua yang ada di kamar itu ikut berdoa.
Hafida Jufri, yang juga bertindak sebagai penerjemah, mengatakan bahwa semangat berhaji Sajriah sangat mengagumkan.
Dia menambahkan bahwa saat berada di Madinah, Sajriah sering melaksanakan salat di Masjid Nabawi karena dekat dengan hotelnya. Namun, di Makkah, situasinya berbeda karena jaraknya yang cukup jauh dari Masjidil Haram.
Hafida juga menyebut bahwa Sajriah dalam kondisi sehat dan tidak memiliki penyakit bawaan. Selain vitamin C dan minyak kayu putih, tidak ada obat lain yang dibawanya.***
Sumber Teks & Foto: Kemenag
