Jauhi Sifat Kemaruk!

JENDELAISLAM.ID – Tahukah Anda apa itu “kemaruk”? Kata ini pengucapannya hampir serupa dengan kata “cengkaruk”. Sama-sama tiga suku kata. Sama-sama berasal dari bahasa Jawa. Namun keduanya punya makna berbeda.

Yang pertama punya sinonim dengan kata “nggragas” yang bermakna rakus, tamak, atau serakah, selalu tidak puas. Sedangkan yang kedua berarti panganan yang dibuat dari nasi yang dikeringkan kemudian disangrai. 

Yang akan kita preteli di sini adalah kata pertama. Kata “kemaruk” yakni sifat yang melekat pada diri manusia yang biasanya mengarah ke sifat buruk. Sifat “nggragas” ini identik dengan sifat tidak pernah puas dengan apa yang didapat hingga tak peduli kepada liyan.

Akibatnya, orang kerap merasa kurang sehingga “harus” mendapatkan apa yang diinginkannya, tak jarang memaksakan kehendaknya.

Bagi yang punya kekuasaan, orang yang punya karakter rakus ini, akan cenderung menyalahgunakan kekuasaannya (abuse of power).Bahkan bila perlu, mengintimidasi liyan yang dianggap tak sepaham, tak sepemikiran, tak satu suara. Prinsip orang kemaruk adalah “pokoknya”, apa yang dikatakannya harus diikuti, apa yang diinginkannya, harus didapatkan.

Saat ini, banyak orang yang laku kesehariannya dirasuki oleh kata satu ini. Ya “kemaruk”.

Tentu saja, kalau orang dilabeli “kemaruk” sudah pasti tidak akan mau. Mengingat, ia berkonotasi negatif.  Sifat negatif, tentu tidak akan mau dilekatkan kepada seseorang. Sebab, tiap orang biasanya ingin kelihatan putih bersih dan tidak ternoda di hadapan liyan.

Nabi SAW pernah menyinggung model orang yang tidak akan pernah puas ini, “Seandainya anak keturunan Adam diberi satu lembah penuh dengan emas niscaya dia masih akan menginginkan yang kedua. Jika diberi lembah emas yang kedua, maka dia menginginkan lembah emas yang ketiga. Tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat” (HR. Bukhari dari Ibn Zubair).

Orang kemaruk harta sudah banyak contohnya. Mulai dari Qarun hingga keturunannya di zaman modern sekarang ini. Harus diakui, harta itu memang bawaannya membuat orang tidak pernah puas.  Semua ingin memperoleh yang banyak, setelah didapat ingin bertambah lagi, sampai tidak pernah puas. Sedikit saja berkurang gelisah.

Banyak realita di masyarakat yang mengisahkan tentang keluarga yang berebut warisan. Sesama saudara saling bermusuhan dan berakhir dengan putusnya tali silaturahim. Demi harta pula, orang tega membunuh.

Orang kemaruk kekuasaan pun demikian, biasanya memiliki penyakit post-power syndrome. Dirinya merasa punya tahta, merasa paling hebat dan digdaya, merasa paling tahu segalanya, yang lain dianggap bodoh. Inilah jika sifat kemaruk senantiasa bersemayam dalam diri seseorang.

Memang harta, politik, dan apapun dalam dunia itu perlu atau penting. Manusia memerlukan urusan dunia seperti di atas.

Seorang sufi ternama, Jalaluddin Rumi, bahkan menyatakan, “Bila orang-orang shaleh apatis diri, jangan salahkan kalau orang zalim yang berkuasa.”  Sebuah pernyataan yang terbilang ekstrem dari sosok sufi yang menganjurkan hidup zuhud.

Seorang Muslim harus berikhtiyar semaksimal mungkin memilki kekayaan dengan cara yang halal dan baik. Agar nantinya bisa mentasarrufkan hartanya untuk kemaslahatan umat.

Namun, bukan berarti, ia boleh tamak atau rakus. Tidak demikian. Sebab, tamak/kemaruk merupakan salah satu penyakit hati. Suatu penyakit yang bisa menjadikan manusia kalap, individualis, egois, menabrak aturan, tidak peduli dengan orang lain, dan sifat negatif lainnya.

Islam justru mengajarkan agar orang menghormati, menghargai dan peduli sesama. Ia juga mengajakan untuk bersikap syukur dan qana’ah atas anugerah dari Allah SWT.

Jangan karena azas manfaat harta dan kuasa, kemudian menjadikan kita menghalalkan segala cara.  

Oleh karena itu, jika jiwa dirasuki keinginan menggebu-gebu untuk memiliki sesuatu dengan menerjang apa saja, tanpa peduli terlarang oleh agama, norma, dan sebagainya, maka waspadalah. Yang demikian ini adalah penyakit hati yang akan menggerogoti kesadaran kita hingga bisa menghempaskan kita dalam kubangan dosa dan kehinaan.

Semoga kita dijauhkan dari sifat satu ini.***

Sumber Foto: Berita Langitan