Batal Mencuri, Mendapat Isteri

JENDELAISLAM.ID – Di Kota Damaskus terdapat masjid namanya Masjid Jami’ at-Taubah. Masjid itu tergolong besar dan dan bagus. Tinggal di dalamnya seorang ahli ibadah bernama Salim al-Masuthi. Meski lelaki tersebut cukup berilmu, namun miskin.

Hebatnya, dalam kondisi serba susah, lelaki tersebut tak mau menggadaikan keimanannya demi sesuap makanan untuk mengisi perutnya yang tiap hari kekurangan makan.  Di dalam masjid,  ada sebuah bilik kecil. Di situlah, ia tinggal.

Suatu hari, ia belum makan selama dua hari. Karena tidak ada makanan yang bisa dimakan serta tidak ada uang sama sekali untuk membeli. Perutnya keroncongan.

Pada hari ketiga, Salim belum mendapatkan makanan secuil pun. Jika dibiarkan bisa membahayakan dirinya yang sudah teramat lemah. Terlintas di pikirannya bahwa dalam kondisi darurat dan terpaksa, secara hukum dibolehkan bagi seseorang memakan makanan yang dilarang bahkan boleh mencuri sekedar untuk memenuhi kebutuhan makan.

Kondisi terpaksa inilah yang kini dialaminya, tak ada jalan lain untuk mendapatkan makanan sementara tubuhnya makin payah.

Akhirnya, Salim berniat mencuri makanan sekedar untuk menyambung hidupnya yang kini di ambang kematian. Ia keluar dari bilik  lantas melihat lantai atas yang berdekatan dengan atap rumah yang berada di sebelahnya.

Ia memanjat dan sampailah di atas rumah itu. Dilihatnya, seseorang berada di ujung ruangan. Ia menyelinap agar tidak diketahui.

Pandangannya beralih ke rumah sebelahnya, lalu berjalan menuju dapur dengan hati-hati. Tampak, ada terong rebus siap santap di depan matanya. Lelaki yang kelaparan itu mengambil satu lantas menggigitnya sekali tanpa mempedulikan panasnya.

Tatkala nafsu untuk memenuhi perutnya sudah memuncak, ia sadar akan perbuatannya, ia mengambil makanan milik orang tanpa izin pemiliknya.

“Astagfirullah al-adzim… A’udzu billah, aku ini cukup tahu. Kenapa masuk rumah orang dan mencuri?” batinnya sembari mengembalikan terong itu ke tempat semula.  

Dalam perjalanan ke masjid, ia membatin, “Soal hidup atau mati, Allah-lah yang mempunyai wewenang, karena itu jika dirinya ditakdirkan untuk mati hari ini, ia tidak bisa menolak. Sebaliknya, jika Allah masih memberikan umur panjang, maka tak seorang pun bisa menghentikannya. Alhamdulillah, Allah masih menjagaku dari nafsu untuk mencuri.”

Kebahagiaan Tak Diduga

Sesampainya di masjid, Salim melihat seorang Syeikh tengah memberikan ceramah agama. Ia tak dapat sepenuhnya mendengarkan ceramah yang disampaikan seraya menahan rasa lapar yang melilit perutnya.

Usai kajian dan orang-orang sudah bubar, tetiba seorang perempuan bercadar berbisik kepada Syeikh. Sang Syeikh menoleh ke sekelilingnya. Dilihatnya hanya ada Salim yang kelaparan yang masih berada di majelis itu.

“Apakah engkau sudah berkeluarga?”  tanya Syeikh.

“Belum,” jawabnya.

“Apakah engkau mau menikah?”

Lelaki itu diam seribu bahasa. Tak tahu bagaimana menjawabnya, sebab kebutuhan mendesak saat ini yang dirasakannya adalah kebutuhan perutnya yang belum diisi hingga memasuki hari ketiga.

Syeikh mengulang pertanyaannya.

“Wahai Syeikh yang mulia, bagaimana aku menikah sementara sepotong roti pun aku tidak punya?” akhirnya Salim menjawab.

“Allah-lah yang mengatur rezekimu. Perempuan itu mengatakan kepadaku bahwa suaminya telah meninggal dunia. Ia pendatang di kota ini dan hanya memiliki seorang paman yang sudah lanjut usia. Ia punya warisan rumah dan peninggalan lain dari almarhum suaminya. Ia ingin memiliki suami lagi agar tak hidup sendirian. Apakah engkau mau menikahinya?”

Seketika, lelaki itu bingung. Sebab mengurus kebutuhan dirinya saja begitu berat sampai-sampai timbul niatan mencuri. Namun, setelah dinasehati Sang Syeikh dengan bijak, ia pun sulit menolak.

Tak menunggu waktu lama, keduanya akhirnya menikah di tempat itu. Dua saksi dengan wali paman perempuan tersebut didatangkan. Sementara mas kawinnya yang membayar adalah Sang Syeikh.

“Bagaimana mungkin semua ini terjadi begitu cepatnya. Sungguh tak terbayang olehku ternyata Allah SWT  membukakan jalan untuknya menata hidup yang lebih baik?”  batin Salim.

Dalam tempo singkat, kelaparan yang menghantui dirinya tergantikan oleh kebahagaiaan. Bukan sekedar kebutuhan lahirnya yang akan didapatkan, kebutuhan batin pun yang sama sekali tak terlintas di benaknya bakal terpenuhi. Berumah tangga dengan seorang janda yang katanya sudah mempunyai tempat tinggal tetap.

Mungkinkah ini jawaban yang Allah berikan padanya di saat dirinya kalut karena rasa  lapar, namun ia masih mampu menahan diri, ia masih memegang teguh keimanannya sehingga akhirnya mengurungkan niat buruknya. Wallahu a’lamu.  

“Subhanallah. Maha Suci Allah. Engkau Maha Tahu segalanya, terima kasih ya Allah,” tak henti-hentinya Salim melafadzkan kalimat itu.

Buah Mampu Menahan Diri

Akad nikah selesai. Keduanya resmi menjadi pasangan suami isteri. Keduanya langsung menuju rumah tinggalan almarhum suami perempuan itu. Namun, betapa terkejutnya Salim. Tak dinyana, ternyata rumah itu adalah rumah yang pernah dimasukinya saat dirinya kelaparan dan hendak mencari makanan. Ia baru menggigit terong itu kemudian diurungkan mengingat dosanya.

Tak kuasa ia menahan air matanya yang bercucuran di kedua pipinya.  Teringat kenangan pahit yang belum lama dilakukannya di rumah itu.

“Ada apakah suamiku?” tanya sang isteri.

Salim masih menangis tak mampu mengungkapkan perasaannya.

“Suamiku, ceritakan saja, apa yang membuatmu menangis seperti ini!“

Perlahan, lelaki itu membuka mulutnya. Dengan suara terbata-bata mengisahkan pengalaman pahitnya apa adanya kepada isterinya.

“Ini adalah buah amanah. Engkau mampu menahan diri dari keinginan mengambil terong yang bukan hakmu. Mungkin inilah ganjaran dari Allah, engkau dikaruniai seorang isteri!” jawab isterinya.***

(Diadaptasi dari 1001 Kisah Teladan, karya Hani al-Haj, Pustaka Kautsar, Jakarta, 2004).

Sumber Foto: Pexels/Humeyra