Menyambut Ramadhan dengan Cinta

JENDELAISLAM.ID – Saat ada tamu yang Anda nantikan datang, apa yang akan Anda lakukan?

Tentu Anda akan menyambutnya dengan suka cita bukan? Muka berseri-seri dan senyum mengembang. Anda akan siapkan hidangan terenak yang Anda punya. Anda akan memakai pakaian yang bagus dengan wewangian parfum. Anda akan siapkan tempat yang bersih, rapi, dan enak dipandang mata.

Demikian pula saat Ramadhan datang, tentu sebagai orang Islam akan menyambutnya dengan penuh kehangatan. Ramadhan bak tamu agung yang istimewa. Laiknya tamu agung, kita pun perlu mempersiapkan jamuan yang pantas atas kedatangan tamu agung ini. Jamuan yang pantas kita sajikan untuk Ramadhan, berupa amal-amal ibadah, baik yang sifatnya individual maupun sosial.

Ini pula yang Rasulullah SAW contohkan saat menyambut Ramadhan. Raut muka beliau penuh kebahagiaan sembari memanjatkan doa. Diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW ketika telah melihat hilal Ramadhan, beliau berdoa, “Allahumma ahillahu ‘alaina bil yumni wal imani was salamati wal islam. Rabbi wa rabbukallah (Ya Allah, jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah” (HR. Tirmidzi).

Bahkan demikian melimpahnya keberkahan di bulan Ramadhan, sebuah riwayat dari Ibnu Mas‘ud menggambarkan, “Kalau para hamba Allah tahu (secara kasat mata) keberkahan dalam bulan Ramadhan, pasti umatku akan berharap supaya setahun penuh itu bulan Ramadan semua” (HR Ibn Abi al-Dunya).

Rasulullah selalu mengabarkan kepada para sahabatnya mengenai datangnya Ramadhan.

Dari Abu Hurairah yang menyampaikan bahwa Rasulullah SAW pernah berpesan, “Ramadhan itu sungguh telah datang. Ia merupakan bulan berkah. Allah mewajibkan puasa Ramadan kepada kalian. Saat Ramadhan tiba, pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup, dan para setan pun terikat. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tak memperoleh kebaikannya itu tak memperoleh apa-apa” (HR Ahmad).

Nabi Muhammad SAW selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya saat Ramadhan tiba. Atas dasar ini, sebagian ulama menjadikan ini sebagai dasar dalam mengucapkan “Marhaban ya Ramadhan” saat menjelang bulan Ramadhan.

Kegembiraan dan kebahagiaan dalam menyambut bulan Ramadhan mesti ditampakkan satu sama lain.

Persiapan Menyambut Ramadhan

Apa yang perlu disiapkan dalam menyambut bulan suci Ramadhan ini sehingga kita dapat menunaikan dengan maksimal?

Setidaknya, ada dua hal yang perlu kita siapkan dalam menyambut dan memaksimalkan keistimewaan bulan Ramadhan, yakni persiapan lahir dan batin, fisik dan mental, materil dan immateril.

Sebagaimana kita ketahui, kewajiban menjalankan puasa Ramadhan ini merujuk pada firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. al-Baqarah: 183).

Ayat ini menekankan kepada umat Islam untuk menunaikan kewajiban ibadah di bulan suci Ramadhan. Sebuah kewajiban yang juga telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, sebelum Nabi Muhammad SAW, yakni ibadah puasa. Kewajiban untuk menahan diri, tidak makan dan minum, serta menghindari hal-hal yang dapat membatalkan puasa sebagaimana ajaran agama.

Oleh karena itu, perlu persiapan lahiriah, seperti menjalankan puasa sunnah Senin Kamis, puasa bulan Rajab dan Sya’ban, dan puasa sunnah lainnya.

Selain persiapan lahiriah, perlu persiapan batiniah. Di antaranya adalah dengan menanamkan kegembiraan dalam hati, rasa, dan pikiran. Sebab, perasaan dan pikiran gembira saat menyambut sesuatu akan menumbuhkan motif, dorongan dan perasaan kecintaan dalam melakukan sesuatu. Selanjutnya jika motif dan perasaan cinta sudah tumbuh saat melakukan sesuatu, maka akan mendapat hasil yang maksimal.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW mengingatkan kepada kita untuk senantiasa menghadirkan kebahagiaan menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Kegembiraan dan perasaan suka ria ini juga bakal dibalas dengan sebuah keistimewaan pula:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

 “Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”

Selain persiapan lahiriah dan batiniah, yang tidak kalah penting adalah pembekalan diri dengan giat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tuntunan beragama dalam Islam. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengkalibrasi tingkat keimanan dan keyakinan yang mungkin sebelumnya tenggelam dalam hiruk pikuk perhiasan duniawi yang melalaikan.

Aktivitas yang bisa dilakukan adalah aktif mengikuti kajian atau mendengar kajian majelis taklim atau media lainnya tentang tuntunan ibadah bulan Ramadhan. Ikhtiar demikian ini juga perlu dibangun guna menyatukan visi, misi dan tujuan pemahaman diri, khususnya dalam mewadahi kebajikan-kebajikan amal ibadah bulan Ramadhan agar tidak kecewa dan merugi disebabkan kehilangan start point dan peluang-peluang menarik dalam meningkatkan kuantitas kualitas ibadah sepanjang bulan Ramadhan.***

Foto: Pixabay/jsjcreationsmm