Munggahan Tradisi Penanda Ramadhan Tiba

oppo_0

JENDELAISLAM.ID – Menjelang bulan Ramadhan, ada kesibukan lain yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia.  Bentuknya beragam.  Ada yang berziarah ke makam wali, makam orang tua, ada juga yang mandi sebagai simbol mensucikan diri, saling bersilaturrahmi dan bermaaf-maafan, berbagi sedekah dengan makanan yang khas, serta menghadirkan seorang ustadz untuk memberikan tausiyah berharga.  

Di berbagai daerah, tradisi seperti di atas sudah lumrah dan mungkin telah hidup secara turun-temurun. Masing-masing daerah memiliki istilahnya sendiri-sendiri, namun dengan tata cara dan semangat yang mungkin tidak jauh berbeda.

Bagi masyarakat Sunda dan sebagian Jawa Tengah, praktik yang dilakukan menjelang datangnya Ramadhan ini dikenal dengan istilah munggahan. Disebut munggahan (munggah berarti naik, meningkat) karena perlambang upaya manusia terutama di bulan suci Ramadhan untuk mencapai derajat kemuliaan yang lebih tinggi di mata Tuhan.

Mengingat, bulan suci Ramdhan merupakan bulan yang mulia, karena itu mesti dipenuhi dengan perilaku yang bermartabat. Sehingga diharapkan setelah seseorang sukses melalui ibadah di bulan suci Ramadhan, nantinya akan menjadi sifat-sifat baik yang berlanjut di bulan-bulan berikutnya. 

Munggahan, dapat dikatakan, adalah bentuk refleksi kegembiraan dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Karena munggahan begitu penting dimata masyarakat, wajar jika banyak orang yang merantau ke luar daerah kembali pulang ke kampungnya hanya sekedar tidak ingin melewatkan tradisi munggahan. Mereka rela meluangkan waktunya, meninggalkan rutinitas hariannya di tanah perantauan, agar bisa kumpul dan bersilaturrahmi kepada keluarga barang sehari, dua hari. 

Tetapi yang tetap tinggal di kota pun terkadang tak mau melewatkan acara munggahan. Tak mengherankan jika kita acapkali menjumpai di instansi pemerintah, instansi swasta, serta komunitas-komunitas masyarakat, menyelenggarakan acara munggahan.

Bentuknya biasanya berupa pengajian yang menghadirkan seorang ustadz yang memberikan ceramah agama dan tanya jawab sambil berkumpul, makan bersama, silaturahim sambil bermaaf-maafan.

Di samping menjalin kebersamaan dan kekeluargaan, juga mempersiapkan diri secara baik untuk menyambut bulan suci. Karena itu, biasanya ceramah akan banyak mengupas betapa pentingnya nilai ibadah di bulan Ramadhan, amalan-amalan apa saja yang perlu dikerjakan dan sebagainya.

Bagian yang cukup penting dari tradisi munggahan adalah saling meminta maaf antar sesama. Ini dilakukan sebagai  sarana pembersihan diri, mungkin di setiap hubungan keseharian, komunikasi yang terjalin baik kata maupun laku kepada siapa pun, memunculkan salah paham dan khilaf.  Karena puasa yang benar memerlukan hati yang bersih, ikhlas serta menjauhkan tindakan-tindakan yang kotor.

Nilai-nilai Luhur

Serangkaian tradisi munggahan menjelang puasa itu sesungguhnya punya nilai yang luhur.

Pertama, sebagai sarana membina hubungan sosial kemasyarakatan yang harmonis.  Dengan berkumpul, bersilaturrahmi, mendengarkan ceramah agama menjelang Ramadhan dan bermaaf-maafan sebenarnya merupakan wahana perekat sosial.  Masing-masing merasa membutuhkan dan tidak ada yang merasa lebih terhormat dibanding lainnya. 

Mereka yang jauh-jauh dari perantauan rela pulang agar bisa menyambangi keluarga dan sanak famili. Demikian pula yang ada di kampung menanti kehadiran familinya yang berada jauh di perantauan. Tatkala momentum munggahan tiba, inilah saat yang penting untuk lebih mempererat tali persaudaran.

Kedua, membersihkan jiwa dan raga. Ramadhan adalah bulan mulia, karena itu mandi menjelang puasa Ramadhan dianggap sebagai simbol membersihkan jasmani dari noda. Sedangkan pencerahan melalui ceramah agama bisa menjadi modal awal untuk menata jiwa agar nantinya bisa menjalankan ibadah Ramadhan dengan baik.

Ketiga, berbagi bersama. Mereka yang datang dari tanah rantau, terutama yang sukses karirnya, seringkali membagi-bagikan sedekahnya kepada saudara-saudara atau orang-orang yang miskin bila momentum tiba.  Inilah satu sarana bagi orang  untuk membagi kebahagiaan bersama.

Tetapi berbagi juga bisa diberikan dari orang yang hidup kepada orang (keluarganya) yang sudah meniggal. Sehari atau dua hari menjelang Ramadhan tiba, masyarakat biasanya tak mau melewatkan waktunya untuk menyambangi makam keluarga yang telah meninggal dunia dengan membaca doa-doa.  Artinya, orang yang memanjatkan doa dengan mendatangi makam keluarganya  telah memberikan semacam aliran bekal  –jika pahala dari doa tersebut diterima oleh Allah SWT, yang penting.

Demikianlah sekelumit tentang munggahan. Tradisi yang baik, sarat dengan nilai yang luhur. Selagi munggahan tak menyimpang dari koridor agama, agaknya perlu terus dihidupkan.***

Foto: HM