JENDELAISLAM.ID – Apa yang terbetik dalam pikiran mengenai hidup yang sejahtera? Apakah kesejahteraan itu identik dengan semua keinginan yang terpenuhi; rumah megah, kendaraan mewah, fasilitas komplit dan semua keinginan terkabul? Ataukah ada makna lain yang lebih utuh di balik kata sejahtera?
Pendapat yang menyatakan bahwa kesejahteraan sosial sama saja dengan terpenuhinya kebutuhan materi, sah-sah saja. Tetapi belumlah cukup. Sebab konsep kesejahteraan sosial, sejatinya bukan materi ukurannya. Mungkin bagi kaum kapitalis yang mengagungkan kepemilikan individu dan kaum sosialis yang bertumpu pada kepemilikan kolektif, bisa membenarkan term di atas.
Tapi bukan demikian maksud agama. Pasalnya, ada problem serius apabila mengacu pada term kesejahteraan ala kaum kapitalis, yaitu sulitnya mengerem keserakahan masing-masing individu. Karena itu kesejahteraan sosial akan sulit terwujud, justru sebaliknya akan melahirkan kesenjangan sosial.
Lihat saja di Indonesia, kekayaan alam yang tata kelolanya dengan paradigma kapitalis, tidak berhasil dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Negeri yang kaya dengan sumber daya alam, nyatanya tetap saja bergelut dengan permasalahan kemiskinan dan masalah-masalah sosial yang akut.
Begitu pula jika mengacu pada term kesejahteraan ala kaum sosialis, maka problemnya adalah rendahnya etos kerja, karena sebagian besar kebutuhan utama individu dipasok oleh negara. Akibatnya, kesejahteraan sosial juga sulit terwujud, justru sebaliknya kemalasan sosiallah yang terjadi.
Namun konsep sejahtera dalam agama, sebagaimana Asep Usman Ismail paparkan dalam buku “Al-Qur’an dan Kesejahteraan Sosial” adalah menggabungkan keduanya.
Menurut penulis buku ini, tiap-tiap orang dipacu agar tetap produktif, namun tetap harus mengerti bahwa di dalam perolehannya ada hak untuk orang lain yang harus diberikan. Sehingga dengan demikian klop, antara ego pribadi yang terkendali yang mewujud dalam kepedulian terhadap sesama.
Asep Usman Ismail, MA, melalui bukunya menawarkan konsep kesejahteraan sosial dalam kacamata agama; berlandaskan ajaran al-Qur’an. Kesejahteraan sosial yang utuh, bukan semu, bukan pula kesejahteraan yang menonjolkan sifat keakuan seseorang, bukan pula kesejahteraan yang hanya mengandalkan derma dari kepentingan kolektif.
Lebih lanjut, ia memaparkan sesungguhnya di dalam al-Qur’an sangat banyak ayat yang menyoroti hal ini. Ada konsep amal shaleh yang memerintahkan untuk bekerja giat; di lain sisi ada perintah untuk berzakat, sedekah, infaq, ada pula al-barr, al-ihsan, al-khair dan al-karam, yang kesemuanya mengajarkan sikap saling berbagi dan berderma.
Semua konsep yang mulia itu harus seiring sejalan dan bila dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari, akan mampu mewujudkan kesejahteraan sosial yang sebenarnya.***
Sumber Foto: Unsplash/Sidik Kurniawan
