JENDELAISLAM.ID – Siapa pun orangnya, ketika menunaikan ibadah haji, sudah barang tentu mendambakan predikat haji mabrur.
Predikat mabrur di sini, bukannya setelah berhaji, ia dipanggil dengan sebutan haji. Bukan itu maksudnya. Apabila itu harapannya, maka hajinya didasari supaya status sosialnya naik di masyarakat.
Atau ada orang pergi haji, namun tutur kata dan perilakunya tak berubah. Sebelumnya, ia biasa menyakiti orang, biasa berkata kasar, iri dengki, sepulang dari ibadah haji, sama sekali tak berdampak apa-apa pada perilakunya, tetap dalam kebiasaan buruknya, maka bisa jadi ibadah hajinya pun tak berbobot. Yang penting, baginya, sebutan haji tersemat di depan namanya.
Atau orang pergi haji dengan motif supaya bisa plesir/berwisata. Memanfaatkan momentum haji untuk mendokumentasikan segudang aktivitas di sana agar orang lain yang melihatnya berdecak kagum, itu pun serasa hajinya tidak tulus. Karena kepergiannya bukan untuk Allah SWT yang memanggilnya, melainkan agar bisa travelling dan berbagi cerita.
Semua laku di atas, bukanlah predikat mabrur yang hakiki.
Padahal ketika Allah SWT mengundangnya ke Tanah Suci sebagai tamu-Nya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, mestinya semua predikat keduniaan dan embel-embel lain, harus ia lepaskan. Fokusnya adalah pengabdian kepada Allah SWT semata dengan menjalani rangkaian ibadah yang rukun, wajib, dan sunnah.
Selagi di sana, dapat memanfaatkan seoptimal mungkin untuk bersujud kepada-Nya. Jika mimpi atau dambaan itu sudah menggebu-gebu sejak lama, mestinya ketika tiba di Tanah Suci, ada kerinduan yang sangat kuat untuk melakukan berbagai kebaikan dan kemuliaan demi kecintaannya kepada Allah SWT, demi kerinduannya kepada Rasulullah SAW, demi meneladani kepatuhan Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS kepada Allah SWT.
Ingat! Predikat mabrur di sisi Allah itu perlu perjuangan sungguh-sungguh. Ada niat, ada ikhtiar untuk senantiasa memperbaiki diri dan sadar bahwa segala aktivitas apapun di dunia sejatinya untuk meraih ridha Allah SWT.
Sebab, kata “mabrur” sesungguhnya bermakna baik. Kebaikan tersebut meliputi apa saja, perilaku, tutur kata, komunikasi dengan Tuhan maupun bermuamalah dengan sesama.
Semestinya, haji bisa memberikan nilai tambah di hadapan Tuhan. Peningkatan kebaikan dari hari-hari sebelumnya. Jika setelah berhaji, orang semakin baik, petanda hajinya membawa kebaikan buat dirinya.
Memang haji mabrur tak dapat diidentifikasi secara pasti. Namun, sebuah hadits menyebutkan beberapa indikatornya. Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang haji yang mabrur, Rasulullah SAW menjawab, “Memberi makan dan bertutur kata yang baik.”
Memberi makan di sini, maknanya luas, yakni kesediaan untuk berbagi dengan sesama serta kesanggupan orang untuk menyumbangkan harta untuk kaum fakir miskin dan kaum dhuafa.
Adapun bertutur kata yang baik, menurut Imam Ghazali, adalah berbudi luhur dan berakhlak mulia.
Setiap pelaku haji, kata Imam Ghazali, harus memperhatikan soal akhlak ini. Inilah makna yang dapat dipahami dari QS. al-Baqarah: 197:
“(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.
Menurut A. Ilyas Ismail, MA, dalam tulisannya “Hakikat dan Indikator Haji Mabrur”, kedua indikator yang disebut Nabi SAW tersebut berdimensi sosial. Ini maknanya bahwa haji mabrur pada dasarnya adalah haji yang dapat membuat pelakunya semakin peduli terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan. Ia dan masyarakat memperoleh kebaikan dari ibadah yang dilakukannya.
Tentu, semua orang yang berhaji tidak ingin tenaga yang dikerahkan, finansial yang dikeluarkan, dan pikiran yang dicurahkan, berakhir dengan sia-sia. Tidak ingin predikat “mabrur” yang digadang-gadang menjadi “mabur” (melayang) begitu saja.
Karena itu, penting bagi orang yang berhaji untuk meluruskan niat, kemudian istiqamah untuk memperbaiki diri. Sabda Nabi SAW, “Bagi haji mabrur, tak ada balasan yang setimpal kecuali surga.”***
Sumber Foto: Unsplash/Windi Setyawan
