Berbagi Tanpa Menyakiti

Pile of red raw meat, ready to be cooked

JENDELAISLAM.ID – Berbagi kepada sesama pada hari raya Idul Adha adalah sikap mulia. Hanya saja, perlu pengelolaan yang baik jika sudah melibatkan massa. Jangan sampai niat baik itu terkotori oleh hal-hal yang tak terpuji; saling sikut, saling dorong, saling injak yang mengakibatkan sejumlah orang menjadi korban.

Sebagaimana kita ketahui, pembagian daging kurban dengan mekanisme menggiring banyak massa acapkali bermasalah. Bukan sekedar benturan fisik semata di antara sesama terjadi, tetapi telah merembet pada sirnanya sikap toleransi, tergerusnya sikap saling berbagi serta munculnya budaya serakah dan menang sendiri.   

Bisa dibayangkan, bila anak-anak kecil hingga para lansia berjuang mendapatkan bagian di tempat yang biasanya kapasitas tidak mencukupi. Mereka berlomba untuk mendapatkannya tanpa peduli keadaan saudara-saudaranya di kanan kiri, tanpa peduli tindakannya bisa menyakiti orang lain.

Yang ada dalam benak mereka, memperoleh sekerat daging secepatnya.  Mereka tidak sadar bahwa memperoleh rezeki yang halal mesti dengan cara-cara halal pula. Tidak dengan sikap gontok-gontokan, saling injak, dan perilaku curang lainnya.

Problem  ini berpangkal pada pembagian melalui kupon, dimana kaum dhuafa yang mendapatkan kupon beramai-ramai mendatangi lokasi pengambilan dengan menyodorkan selembar kupon yang dibagikan.

Banyaknya massa yang punya maksud sama ingin mendapatkan jatah pembagian, sementara jumlah aparat keamanan minim, membuat pembagian yang sedianya bisa tertib berubah runyam.

Semua berebut, berdesakan, ingin mendapatkan bagian terlebih dahulu. Jadilah pembagian tersebut sebagai ajang adu kekuatan, siapa yang kuat fisiknya bisa mendapatkan bagian lebih dahulu dan siapa yang lemah akan kalah.  

Kita tentu belum bisa melupakan tragedi pembagian zakat di Pasuruan Jawa Timur  beberapa waktu lalu. Belasan korban meninggal saat antri untuk mendapatkan uang zakat yang dibagi-bagikan oleh seorang pengusaha Muslim kaya. Nyawa meregang demi sekedar memperolah uang sebesar Rp. 30 ribu. 

Pemandangan tak jauh berbeda juga terjadi saat pembagian daging korban pada hari raya Idul Adha  di beberapa daerah tahun-tahun lalu. Kericuhan terjadi. Di Pengadilan Surabaya, misalnya, jeritan, tangisan, dan suara minta tolong dari sejumlah ibu lanjut usia (lansia) serta anak berusia lima tahun (balita), setelah mereka terhimpit massa yang saling berebut di posisi terdepan, mewarnai pembagian daging kurban.  

Bercermin pada tragedi-tragedi yang tak mengenakkan ini, seharusnya perlu ada cara lain yang lebih aman dan manusiawi. Paradigma lama mestinya diubah agar bisa meminimalisir kemungkinan terjadinya perilaku yang tidak diinginkan saat menerima zakat atau daging kurban. Jangan sampai kejadian demi kejadian yang memprihatinkan terulang. 

Ubah Paradigma 

Dengan mekanisme lama, korban telah nyata di hadapan kita. Pasalnya, paradigma yang seringkali dianut orang, yakni membagikan kupon dengan mengundang mustahik  ke satu titik lokasi, dianggap cara yang tepat. 

Jika mustahik yang diundang tidak seberapa mungkin tak soal, sebaliknya jika mustahik membeludak dan tidak dibatasi, maka pemandangan seperti di atas mungkin tak bisa dihindari. Apalagi tak ada koordinasi dengan aparat keamanan. Inilah konsekwensi yang mesti ditanggung, yang terkadang diabaikan oleh pihak penyelenggara.

Alangkah ironisnya karena niat mulia berbagi kepada dhuafa, di dalamnya terdapat pula perilaku-perilaku yang justru kontradiktif, seperti saling sikut, berdesakan dan terkadang perkelahian antar sesama karena berebut. Rasa persaudaraan, saling peduli, toleransi kepada sesama seolah hilang begitu saja berganti dengan sikap keserakahan dan menang-menangan. Padahal semangat berbagi mestinya juga berlaku bagi kalangan mustahik.

Anehnya lagi, tak sedikit orang yang cenderung memonopoli daging kurban.  Berbagai cara mereka tempuh, dengan mengantri kembali atau menyuruh anak-anaknya untuk ikut mengantri. Malah yang lebih memalukan, ada orang/keluarga yang berpura-pura miskin padahal sebenarnya keluarga tersebut masih berkecukupan, tak terlalu miskin. Mereka masih bisa membeli daging. Tapi, demi sekerat daging kurban, harga diri dan rasa malu mereka gadaikan. 

Harus dipikirkan bahwa niat baik seyogyanya dibarengi dengan mekanisme yang baik pula. Selain itu, mengundang massa di satu tempat perlu dikaji ulang; seberapa efektifnya mekanisme seperti itu serta bagaimana faktor keselamatan orang.  Salah-salah bisa jadi riya bagi orang yang berkurban bila ada secuil harapan munculnya popularitas di mata umat lantaran dirinya dicap sebagai dermawan. 

Saatnya paradigma lama berubah. Tak perlu mengundang kaum dhuafa datang di satu tempat dengan berbekal selembar kupon, namun pihak penyelenggaralah yang menyisir langsung ke lapangan dengan membagikannya kepada mustahik.

Dengan mekanisme seperti ini, banyak hal positif yang bisa kita ambil.

Pertama, pembagian bisa lebih tepat sasaran karena langsung tahu kondisi orang tersebut berhak menerima atau tidak.

Kedua, lebih merata sehingga menghindari penumpukan pembagian pada sebagian orang sementara dhuafa lain tidak mendapatkan bagian.

Ketiga,  mengikis kecurangan dan keserakahan orang. Mengingat tak sedikit orang yang berbuat culas untuk mendapatkan bagian lebih banyak dengan sistem kupon.

Bentuk kongkritnya bisa dengan memberikan kewenangan kepada lembaga semacam amil zakat yang benar-benar profesional dan amanah untuk mengurusnya.   

Atau bisa juga bekerja sama dengan pemerintah-pemerintah desa, daerah, untuk membantu penyelenggaraan pembagian tersebut. Katakanlah, lokasi pembagian tidak tersentral di satu titik melainkan dipecah dalam berbagai titik, dimana setiap titiknya dipasrahkan kepada pihak-pihak yang berwenang (RT dan aparat-aparat keamanan setempat, misalnya, yang bisa mendata daftar kaum dhuafa di kampungnya).

Dengan demikian, tak ada penumpukan massa, pembagian juga bisa diatur sedemikian rupa serta keamanan bisa dikendalikan.  

Berbagi dengan Kasih Sayang

Bersamaan dengan hari raya Idul Adha, berbagi adalah suatu hal yang sangat mulia meski agama tetap menganjurkan berbagi di sepanjang waktu. Akan tetapi berbagi bertepatan pada hari raya Idul Adha terasa punya arti lebih.

Di samping, ada nilai historis yang terus terkenang sepanjang massa yakni peristiwa pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS terhadap putranya, Ismail AS, sebagai penghambaan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Esensi berkurban adalah implementasi  kepedulian dan tanggung jawab sosial umat kepada kaum dhuafa.

Di negara-negara Islam, tak ketinggalan di Indonesia, berbagi pada hari Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban telah menjadi tradisi yang mendarah daging. Sudah pasti masyarakat senang menerima pembagian daging kurban tersebut apalagi orang-orang yang taraf hidupnya serba kekurangan.

Dengan berkurban, ada nuansa kebersamaan antara masyarakat yang mampu dengan masyarakat kurang mampu. Masyarakat yang mampu memberikan sebagian rezekinya berupa daging hewan kurban kepada golongan masyarakat tidak mampu  sehingga tidak ada kesan adanya kesenjangan di antara mereka.

Tentu indah bila kita dapat berbagi kepada sesamanya dengan penuh kasih sayang tanpa ada yang tersakiti. Semuanya bisa bergandeng tangan.***

Sumber Foto: iStock