Pemerintah Pastikan Kualitas dan Nutrisi Makanan Jamaah Haji dengan Pemeriksaan Ketat

Lakukan Pengecekan Sampel, Pastikan Kelayakan Makanan buat Jemaah Haji Lakukan Pengecekan Sampel, Pastikan Kelayakan Makanan buat Jemaah Haji

JENDELAISLAM.ID – Pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kualitas dan kandungan gizi dalam makanan yang disajikan kepada jamaah haji.

Oleh karena itu, sebelum makanan disajikan, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) selalu memeriksa sampel makanan terlebih dahulu.

“Kami memeriksa setiap sampel menu makanan yang akan disajikan kepada jamaah haji, mulai dari nasi dengan lauk-pauknya, buah-buahan, hingga air mineral yang diberikan,” kata Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, Ali Machzumi, setelah memeriksa makanan jamaah haji di Madinah pada Jumat (17/5/2024).

“Makanan yang kami anggap tidak layak, setelah kami cek dan cicipi sampelnya, harus dikembalikan kepada perusahaan katering,” tambahnya.

Misalnya, menu khusus untuk jamaah lanjut usia (lansia) harus lebih lunak dibandingkan menu untuk jamaah lainnya, sehingga mudah dikonsumsi oleh lansia.

“Selain itu, proses mencicipi sampel makanan ini sangat penting untuk memantau kebersihan dan kelayakan menu demi menjaga kesehatan jamaah haji,” ujar Ali Machzumi.

Makanan yang disajikan kepada jamaah haji dikemas dalam kotak aluminium foil yang tertutup rapat. Semua penyedia katering yang bekerja sama dalam penyediaan konsumsi jamaah haji setiap hari sebanyak tiga kali (pagi, siang, dan malam) akan mengirimkan sampel makanannya ke seksi konsumsi PPIH Daker.

β€œTim konsumsi menilai dari segi rasa, keseimbangan gizi, dan tampilan. Termasuk juga waktu pengolahan. Menu untuk lansia mendapat perhatian khusus, terutama kepadatan nasi dan lauknya diuji coba,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa dia dan timnya juga memeriksa ketidaksesuaian tingkat kematangan, rasa, aroma, tekstur, dan tampilan. Jika tidak memenuhi standar, akan ada evaluasi dan tindak lanjut atas kekurangannya.

“Misalnya, jika makanan sampelnya basi atau rusak, kami akan berkoordinasi dan ada kemungkinan penghentian kerja sama jika kesalahannya fatal,” tutur Ali.***

Sumber Teks & Foto: Kemenag