JENDELAISLAM.ID – Menyaksikan bencana yang terus terjadi di negeri ini, pikiran kita bertanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada planet tempat kita berpijak dan tinggali ini?
Apakah ini protes bumi terhadap penghuninya yang berperilaku begitu ceroboh, padahal bumi memberikan segalanya?
Kita tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa siklus alam atau kondisi cuaca ekstrim adalah penyebabnya.
Tentu saja, semua hal tersebut terjadi atas kehendak Sang Pencipta, tetapi jika kita memikirkannya dengan lebih cermat, pasti ada alasannya mengapa Allah menciptakan situasi ini. Karena rahmat atau musibah dari Allah, juga terkait dengan perbuatan kita. Tidak ujug-ujug terjadi.
Sejarah masa lalu mengajarkan kita bahwa perilaku manusialah yang memicu terjadinya bencana. Sebagian besar bencana disebabkan oleh perbuatan manusia yang melampaui batas. Bacalah kembali kisah-kisah bencana di zaman kaum Luth, kaum Nuh, kaum ‘Ad (kaum Nabi Hud), dan sebagainya.
Pentingnya Harmonisasi
Seperti kita ketahui, bencana di negeri ini seakan susul-menyusul. Banjir belum usai, muncul gempa. Disusul lagi dengan gunung meletus, dan seterusnya.
Ini adalah bukti bahwa hubungan kita dengan alam kurang harmonis. Kita tidak bersahabat baik dengan alam, kita hanya berusaha mengeruk sebanyak mungkin tanpa memperhatikan kebutuhan alam.
Banyak orang sudah tahu, dampak dari pembabatan hutan, pendangkalan sungai, pembuangan limbah sembarangan, penambangan pasir sembarangan, pembangunan yang tak ramah lingkungan. Namun manusia seringkali mengabaikan keseimbangan.
Di akhir firman-Nya, Allah SWT kerap menggunakan “afala tatafakkarun… afala ta’qilun… afala tatadabbarun”, ini mengindikasikan bahwa semua ciptaan dan kejadian, baik bencana maupun rahmat, harusnya membuat manusia berpikir. Artinya jika ada musibah, pasti ada yang salah dari diri kita. Di sinilah, perlunya harmonisasi antara manusia dan alam.
Jika kita berperilaku baik terhadap sesama, terhadap alam, dan terhadap Tuhan yang menebarkan kemakmuran di muka bumi, ada kemungkinan bencana tidak akan sering terjadi.

Penulis bersama Prof. KH. Ali Yafie di kediamannya usai sesi wawancara (Dok. Pribadi).
Kapitalisme Modern
Banyak data yang telah dipaparkan oleh para aktivis lingkungan yang menunjukkan bahwa banjir, tanah longsor, penurunan permukaan tanah, dan banjir disebabkan oleh kerusakan ekologi yang parah.
Padahal agama dengan jelas menyatakan bahwa alam seisinya ini adalah untuk manusia. Namun pada kenyataannya, kita salah memahami, bukannya menjaga alam agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang, kita malah mengeksploitasi habis-habisan demi mendapatkan keuntungan.
Dalam QS. al-Baqarah: 29, menyebut bahwa semua alam diciptakan untuk manusia, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”, namun rupanya nafsu untuk menguras habis lebih menguasai dalam diri tanpa berpikir bahwa ada kewajiban untuk merawat demi keberlangsungannya.
Dalam buku, Merintis Fiqih Lingkungan Hidup, Prof. KH. Ali Yafie menyebutkan bahwa faktor utama ancaman lingkungan hidup ini karena banyak negara di dunia, termasuk di Indonesia, yang telah menganut konsep kapitalisme modern.
Konsep ini, kata KH. Ali Yafie, hanya mengejar pertumbuhan ekonomi belaka. Dampaknya, eksploitasi alam yang tak terkendali skala besar, dengan konsekuensi yang jelas bagi rusaknya lingkungan.
Padahal pemujaan terhadap teknologi dan orientasi mengejar pertumbuhan ekonomi semata ini, lanjut KH. Ali Yafie, justru menenggelamkan manusia ke dalam ego-nya hingga menafikan lingkungan hidup di sekitarnya.
Karena itu, agama mengingatkan dan menyadarkan manusia bahwa persoalan lingkungan hidup tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab manusia untuk memelihara dan menjaga alam. Manusia dituntut untuk meyakini bahwa menjaga dan berbuat baik kepada lingkungan adalah menjaga iman itu sendiri. Ini merupakan realisasi dari menjadi seorang khalifah (khalifah fi al-ardh).
Menurut KH. Ali Yafie, menjaga alam dan lingkungan adalah kewajiban. Sama wajibnya menjaga diri, akal pikiran, harta, keluarga, serta agama. Semua komponen dasar ini perlu dilindungi oleh setiap individu.
Sulitnya Mengerem Keserakahan
Sementara itu, Prof. Dr. Mujiyono Abdillah, MA, Direktur LPER (Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat), menyatakan bahwa masalah kerusakan alam lebih kompleks. Di antara sekian banyak faktor, lanjut Mujiyono, salah satu pemicunya adalah kemiskinan di negeri ini.
Tekanan ekonomi (kemiskinan) membuat banyak orang menghalalkan segala cara untuk mengisi perutnya. Jika mereka tinggal di daerah pegunungan, hutan lindung di sekitarnya ditebangi untuk tujuan pertanian, dan bantaran sungai dimana tanaman musiman tidak diperbolehkan, mereka terpaksa menggarap lahan pinggiran sungai.
Faktor lainnya, imbuh Mujiyono, adalah keserakahan manusia. Praktik ilegal logging terjadi dimana-mana dan alam menjadi tidak seimbang. Banyak orang yang merusak alam dengan alat berat untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Tuntutan hidup yang materialistis, hedonis, dan mewah, membuat manusia menjadi gelap mata dan buta, tidak peduli dengan bahaya yang bisa datang kapan saja.
Dua hal ini sangat penting, tegas Mujiyono, namun sering luput dari perhatian pemerintah. Di satu sisi, aparat tidak menindak tegas terhadap pelaku pelanggaran, dan di sisi lain, pemerintah acuh tak acuh terhadap keberadaan masyarakat miskin, padahal kelompok ini juga harus dijamin kehidupannya secara layak.
Lebih dari itu, kita sendiri tidak menyadari betapa pentingnya menjaga keseimbangan alam. Padahal, semua makhluk hidup di planet ini saling bergantung satu sama lain. Dengan kata lain, hubungan kita dengan alam bersifat simbiosis mutualisme (saling menguntungkan).
Oleh karena itu, selama manusia sulit mengerem keserakahannya, maka jangan harap bencana itu akan berhenti bahkan bisa jadi eskalasinya semakin hebat.***
Sumber Foto: Pixabay/15299
