Urip iku Urup

JENDELAISLAM.IDUrip itu hidup.  Urup itu menyala. Maknanya, hidup itu harus menyala seperti cahaya yang menerangi sekelilingnya. Atau hidup itu bagai lentera yang menerangi kegelapan. Secara terminologi, orang hidup itu harus bisa memberi manfaat kepada liyan.

Mafhum mukhalafah  (makna tersiratnya)-nya adalah hidup jangan sampai gelap gulita. Gelap tak banyak memberi manfaat kepada liyan.

Kok bisa? Bagaimana mau menerangi liyan, jika diri sendiri berselimut gulita.

Tentu saja, tak ada maksud untuk mendiskreditkan para penyandang disabilitas. Sama sekali tidak. Sebab, semua berpeluang mendedikasikan hidupnya untuk  urup. Tapi maksud gulita di sini adalah orang yang tak bisa memberi kemanfaatan pada lainnya.

Falsafah Jawa di atas memang punya makna yang dalam. Kurang lebihnya ini sejalan dengan sabda Nabi SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada manusia.”

Bagaimana manusia bisa memberikan kemanfaatan kepada liyan? Banyak hal bisa dilakukan. Yang punya ilmu, bisa dengan pengajaran. Yang kaya, bisa dengan hartanya. Yang punya skill, bisa dengan keahliannya. Begitu pun orang bisa berbuat baik dengan tenaganya.

Seseorang yang memiliki ilmu agama kemudian mengajarkannya kepada orang lain dan membawa kemanfaatan bagi yang lainnya lagi, maka ini adalah sebuah manfaat yang sangat besar. Bahkan bisa termasuk amal jariyah,  “Jika seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak shaleh yang mendoakan orang tuanya”  (HR. Muslim)

Pun manusia yang memiliki materi cukup bisa memberikan manfaat, maka ini merupakan nilai tambah yang sangat besar. Bentuknya bisa bermacam-macam; seperti: infaq, zakat, sedekah, hadiah dan sebagainya. Tentu yang kemanfaatannya lebih besar adalah pemberian kepada orang yang sangat membutuhkan.

Dan jangan lupa, orang yang berbuat baik meski tidak dengan harta juga termasuk bisa memberi kemanfaatan. Seulas senyum yang ikhlas pun termasuk kebaikan. 

Itulah hidup yang sesungguhnya. Lantaran berguna untuk sesama. Sebaliknya, tak bisa disebut hidup jika tak bisa bermakna untuk yang lain. Maka seyogyanya di dunia, orang mendedikasikan “Urip” untuk “Urup”.   

Jika kita menjadikan “urip adalah urup” dalam keseharian, maka segala kesombongan, egoisme,  iri dengki, dan permusuhan yang bersemayam dalam diri, insyaallah akan terkikis. Jiwa lapang bercahaya bagai lentera menerangi kegelapan.***

Sumber Foto: Pixabay/705847