Sunan Gunung Jati: Sang Penyebar Islam di Tanah Sunda

JENDELAISLAM.ID – Sunan Gunung Jati (SGJ) adalah salah satu dari sembilan orang penyebar agama Islam terkenal di Pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan Walisongo. Selain sebagai pemimpin spiritual, sufi, muballigh dan dai pada zamannya juga sebagai pemimpin rakyat karena beliau menjadi raja di Kasultanan Cirebon.

Namun sosok SGJ sampai sekarang ini masih mengundang kontroversi, baik mengenai identitas sebenarnya maupun perjalanan hidupnya.

Ada sebagian pendapat menyebutkan bahwa SGJ adalah Fatahillah atau Faletehan sebagaimana yang dijadikan rujukan dalam buku-buku sejarah Indonesia.

Hoesein Djajadiningrat, dalam disertasinya yang berjudul “Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten”(1913), membuat interpretasi bahwa tokoh Faletehan yang disebut oleh De Barros sama dengan tokoh Tagaril yang disebut Mendez Pinto dan sama dengan tokoh SGJ.

Menurut Dadan Wildan, penulis buku “Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta)”, kesimpulan Hoesein ini didasarkan pada naskah SB (Sajarah Banten) dan sumber primer yang berasal dari berita Portugis, yang dianalisis secara sistematis, namun di dalamnya mengandung kelemahan, yakni pemakaian sumber yang tidak menggunakan sumber yang berasal dari Cirebon. Padahal sesungguhnya peran kedua tokoh itu berpusat dari Cirebon.

Tapi pendapat ini disanggah oleh sebagian kalangan lantaran keduanya adalah tokoh yang berbeda.

Dalam naskah “Carita Purwaka Caruban Nagari” (CPCN) membantah tentang pengidentikkan dua nama tersebut. Menurut naskah ini, dua nama itu adalah jelas merujuk kepada dua tokoh yang berbeda. Fatahillah berasal dari Pasai (Sumatera) dan pernah bermukim di Demak serta memimpin armada Demak untuk menyerang ke Banten dan Sunda Kalapa.

Adapun SGJ adalah keturunan raja-raja Sunda (dari garis ibu) dan penguasa atau ulama dari tanah Arab (dari garis ayah). Ia lahir, dibesarkan dan dididik di tanah Arab, kemudian datang ke Pulau Jawa, tanah leluhurnya dari garis ibu. Ia  pula yang memimpin upaya penyebaran agama dan penegakan kekuasaan Islam di Pulau Jawa bagian barat (tanah Sunda) dengan pusat kedudukannya di Cirebon.  

Masih menurut CPCN, memang antara tokoh SGJ dengan tokoh Fatahillah terjalin hubungan yang erat  baik kekeluargaan, peranan, kedudukan maupun masa hidup. SGJ adalah mertua Fatahillah, karena puteri SGJ yang bernama Nyai Ratu Ayu dinikahi oleh Fatahillah. Nyai Ratu Ayu waktu itu (1524) bermukim di Demak dan merupakan janda Pangeran Sabrang Lor, putera Sultan Demak, yang meninggal tahun 1521 dalam ekspedisi armada Demak ke Malaka.

Keduanya memainkan peranan penting dalam rangka penyebaran agama dan penegakan kekuasaan Islam di Banten dan Sunda Kalapa. Keduanya pernah memegang pemerintahan di Cirebon, yaitu SGJ memerintah tahun 1479 – 1568, tetapi sejak tahun 1528 – 1552 pelaksanaan pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada Pangeran Pasarean (puteranya).  Dan sejak 1552 – 1568, pelaksanaan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Fatahillah (menantunya), karena SGJ memusatkan perhatian dan kegiatannya pada upaya penyebaran agama Islam. Dan Fatahillah memerintah secara penuh (tidak mewakili mertuanya) pada tahun 1568 – 1570.

Para peziarah berdatangan dari berbagai daerah (Foto: Tangkapan Layar Youtube YPM Journey)

Misi Utamanya adalah Berdakwah

Menurut pendapat kedua (tokoh Fatahillah tidak identik dengan Syarif Hidayatullah), SGJ atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.

Dalam CPCN dan BC (Babat Cirebon) diceritakan bahwa SGJ belajar ke Mekkah pertama kepada Najmuddin al-Kubra. Lalu selama dua tahun belajar kepada Ibn Athaillah al-Iskandari al-Syadzili di Madinah, menurut Bruinessen (1999), ia menerima pembaitan menjadi penganut tarekat Syadziliyah, Syattariyah dan Naqsyabandiyah.

Naskah-naskah tradisi Cirebon juga memberikan informasi bahwa setelah Syarif Hidayatullah berusia 20 tahun, ia berniat menjadi guru agama Islam. Karena itu ia belajar ke Makkah, ke Baghdad untuk belajar tasawuf. Setelah tamat, ia kembali ke negerinya, pergi ke tanah Jawa melalui Gujarat dan Samudera Pasai untuk menyebarkan agama Islam di tanah asal ibunya, Cirebon.

Seusai menimba ilmu di tanah Arab, Syarif pun mendarmabaktikan dirinya sebagai guru agama menggantikan kedudukan Syekh Datuk Kahfi di Gunung Sembung yang agak jauh dari istana. Karena perannya dalam agama Islam begitu besar, masyarakat setempat kemudian memberikan gelar kepadanya Syekh Maulana Jati atau Syekh Jati.

Kemudian setelah beberapa lama tinggal di desa Sembung, ia memperluas medan dakwahnya hingga ke Banten. Ternyata Bupati Kawunganten yang keturunan Pajajaran juga tertarik, sehingga ia masuk Islam dan memberikan adiknya untuk diperisteri. Dari perkawinan dengan Nyai Kawunganten ini lahirlah Pangeran Sabakingkin, yang kelak dikenal sebagai Maulana Hasanudin, pendiri Kerajaan Banten.

Sepulangnya dari Banten, pada tahun 1479, Syarif Hidayatullah dinobatkan menjadi pimpinan oleh Pangeran Cakrabuwana yang sebelumnya berkuasa di Cirebon. Dan sejak saat itulah, Syarif Hidayatullah memimpin Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.

Rupanya penobatan tersebut juga disambut meriah oleh para wali tanah Jawa dengan memberikan gelar Panetep Panatagama Rasul di tanah Sunda. Artinya,  martabatnya telah sama dengan para wali lainnya.

Penobatan ini secara tidak langsung merupakan pengumuman dari Walisongo kepada ulama dan muballigh di pulau Jawa –khususnya di Jawa Barat—untuk mengikuti segala petunjuk Syarif Hidayatullah dalam melaksanakan syiar Islam.

Seperti para wali lainnya, Syarif Hidayatullah pun dekat dengan masyarakat. Memahami, menyelami kebiasaan mereka serta membimbingnya ke jalan yang lurus. Namun, tidak dengan cara yang keras atau frontal melainkan dengan kelembutan hati agar misi dakwah tersampaikan.            

Ia pun mendirikan sarana ibadah masjid agung dan masjid-masjid jami’ di wilayah bawahan Cirebon. Tidak ketinggalan pula, dibangun sarana dan prasarana umum seperti keraton, sarana transportasi melalui jalan laut, sungai dan jalan darat, serta membentuk pasukan keamanan.

Dadan Wildan menilai, salah satu keberhasilan dakwah Syarif Hidayatullah adalah pengamalan petatah-petitih (ungkapan atau ucapan yang mengandung ajaran hidup berupa nasehat, pesan, anjuran, kritik dan teguran) yang disampaikan melalui tradisi lisan secara turun-temurun.

Petatah-petitih tersebut biasanya tentang nilai ketakwaan, keyakinan dan kedisiplinan, kearifan dan kebijakan, serta kesopanan dan tata krama. Petatah-petitih ini kemudian diakomodasi oleh kerabat keraton dengan bahasa Cirebon sekarang. 

Simbol-simbol sosial dan budaya yang tampak pada pemerintahan Syarif Hidayatullah pun dapat dilihat dari berbagai aspek yang sebagian masih terlihat jelas pada masa kini.  Simbol-simbol yang berasal dari ajaran Islam adalah syariat (yang disimbolkan oleh wayang). Wayang adalah perwujudan dari manusia sebagai hamba, sedangkan dalang adalah Allah sebagai pengatur), kemudian tarekat (disimbolkan oleh barong), hakekat (disimbolkan oleh topeng), ma’rifat (disimbolkan oleh ronggeng). Simbol-simbol tersebut seringkali muncul dalam berbagai acara yang menjadi tradisi dan perayaan-perayaan keislaman yang berasal dari tradisi Walisanga, termasuk SGJ.

Ekspansi Wilayah

Meski pengaruh Syarif Hidayatullah dalam penyebaran Islam terus berkembang di daratan Sunda, terutama Cirebon dan Banten, bukan berarti tanpa hambatan. Karena diam-diam, kerajaan Pakuan dan Galuh di Jawa Barat mulai pasang kuda-kuda. Mereka tidak ingin daerah kekuasaannya direbut oleh Syarif Hidayatullah.

Di lain hal, Portugis juga mulai melakukan ekspansi di Asia Tenggara dan akhirnya berkonspirasi dengan kerajaan Hindu Pakuan di awal abad 16.  Pakuan ingin menghentikan pengaruh Syarif Hidayatullah yang menjalar di tanah Sunda.

Kedatangan armada Portugis diharapkan dapat menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan karena kerajaan Pakuan sudah tidak memiliki lagi kota pelabuhan di Pulau Jawa setelah Banten dan Cirebon menjadi kerajaan-kerajaan Islam.

 Mengetahui gelagat ini, Syarif Hidayatullah menginstruksikan Pati Unus (menantunya) untuk membentuk armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di Pulau Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara.

Sayangnya, ekspedisi Pati Unus di tahun 1521 gagal sehingga memaksa Syarif Hidayatullah merombak pimpinan armada gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai, untuk menggantikan Pati Unus yang gugur di Malaka, sebagai panglima dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Pulau Jawa.

Pertempuran tak terelakkan. Akhirnya 1527, armada Islam berhasil memukul Pakuan dan Portugis. Dengan ini, jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten – Cirebon dan dirubah nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah.

Kendati demikian, perebutan pengaruh antara Pakuan – Galuh dengan Cirebon – Banten tetap berlangsung. Hanya saja, Pakuan dan Galuh yang telah kehilangan banyak wilayah sulit menjaga keteguhan moral para pembesarnya. Satu per satu dari para Pangeran, Putri Pakuan di banyak wilayah jatuh ke dalam pelukan agama Islam. Begitu pula sebagian panglima perangnya.  

Peninggalan Purbakala

 Proses Islamisasi di tanah Sunda, Cirebon khususnya, yang dilakukan SGJ ini bisa dilihat dari beberapa peninggalan penting yang masih dapat disaksikan hingga sekarang. Seperti sisa-sisa keraton Istana Dalem Agung Pakungwati, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Masjid (tajug) Jaglagrahan dan makamnya.  Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun pada tahun 1568 M. Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati.***

(Dari berbagai sumber & Foto: Tangkapan Layar Youtube ASKAMZA Channel)