JENDELAISLAM.ID – Musim hujan datang, banjir pun datang. Bencana banjir menghampiri berbagai wilayah di Indonesia. Terang saja, bukan saja merepotkan dan menyusahkan masyarakat, melainkan juga memakan korban jiwa dan kerugian yang tak terbilang.
Banjir memang selalu membayang tatkala musim hujan tiba. Terutama saat memasuki bulan-bulan yang intensitas curah hujannya tinggi. Mereka yang tinggal di bantaran kali, yang berada di daerah-daerah langganan banjir atau yang berada di tepi pantai yang sewaktu-waktu rob bisa datang, harus selalu siaga.
Bahkan di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Jakarta, Bandung, dan lainnya seolah banjir menjadi rutinitas tahunan. itu sudah sepatutnya dijadikan pelajaran serius bagi semuanya di tahun-tahun selanjutnya. Ironisnya, banyak orang masa bodoh dan menganggap sebagai sebuah kebiasaan dan cukup pasrah saja.
Padahal jika mau merenung, ini sesungguhnya peringatan keras agar tidak seenaknya mengelola lingkungan hidupnya. Sayang sekali, banyak manusia buta dan tuli terhadap tanda-tanda yang dihadirkan oleh alam. Padahal tidak mungkin bencana datang tanpa ada sebab. Banjir adalah akibat ulah manusia. Manusialah yang sebenarnya mengundang datangnya banjir.
Ingat, Tuhan yang menciptakan manusia dan alam semesta, telah mengaruniakan kekayaan alam yang berlimpah. Tapi mungkin manusia tidak sadar, bumi, alam dan kekayaannya yang mereka huni ini telah mereka eksploitasi sedemikian rupa.
Hutan dikonversi menjadi kawasan pemukiman, pertanian dan perindustrian secara tidak ramah lingkungan dan berlebihan. Itulah faktanya. Akibatnya, ekosistem alam tidak seimbang; banjir datang menyambangi, erosi dan longsor terjadi, permukaan air tanah menurun. Otomatis, semakin banyak perusakan terhadap lingkungan, maka semakin besar pula dampak buruknya terhadap manusia, termasuk pada mereka yang tak berdosa.
KH. Ali Yafie dalam bukunya “Merintis Fiqih Lingkungan” menyatakan, agama sesungguhnya mengajarkan hidup selaras dengan alam. Manusia mestinya mewujudkan segala perilakunya dengan kasih sayang terhadap seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Karena itu, manusia yang merusak, berarti ia tidak mengimplementasikan ajarannya. Tuhan sendiri mewanti-wanti untuk tidak merusak alam (QS. al-A’raf: 56).
Mengingat begitu pentingnya menjaga alam ini, KH. Ali Yafie menilai sudah saatnya menjaga lingkungan (hifdzul bi’ah) dimasukkan ke dalam komponen dasar beragama, selain lima komponen yang sudah ada, yakni hifdzun nafs (menjaga jiwa), hifdzul aql (menjaga akal), hifdzul mal (menjaga harta), hifdzun nasl (menjaga keturunan) dan hifdzud din (menjaga agama). Sebab, hifdzul bi’ah menyangkut kepentingan kehidupan manusia. Seluruh manusia berkepentingan terhadap kebersihan lingkungan, terhadap keselamatan lingkungan.
Maka dari sini, menjaga lingkungan sama dengan menjamin kelangsungan hidup manusia dan segala yang ada di alam dan sekitarnya. Kebalikannya, merusak alam adalah ancaman serius bagi kelangsungan hidup alam dan segala isinya.
Perlu Kesadaran Diri
Sebelum ada kesadaran dalam diri masing-masing bahwa alam harus kita jaga dan itu bagian dari mensyukuri anugerah dari Tuhan, maka bencana seperti bencana tidak akan segan-segan terus mendatangi.
Selagi, manusia masih terus menyombongkan diri dengan mementingkan syahwatnya yang luar biasa, terus-terusan mengeksploitasi alam hingga menyebabkan rusaknya lingkungan dan hancurnya ekosistem, penanganan banjir tidak akan tuntas. Selagi manusia tetap masa bodoh dan egois; buang sampah sembarangan, menempati lahan yang terlarang untuk pemukiman, dan sebagainya, jangan harap bencana serupa akan berakhir.
Selain rehabilitasi, normalisasi, revitalisasi dan perbaikan sarana fisik lainnya, yang esensial sebenarnya adalah kesadaran dalam diri masing-masing bahwa mengelola alam itu mesti seimbang dan memperlakukannya semestinya. Bila tidak, strategi apapun untuk menanggulangi bencana akan berakhir sia-sia.
Maka yang perlu ditanyakan, apakah selama ini kita sudah memperlakukan alam sewajarnya? Jangan-jangan kita terlalu rakus merampok semua yang ada untuk kepentingan materi tanpa mempertimbangkan keseimbangan alam. Kalam Tuhan yang suci yang memperingatkan agar jangan membuat kerusakan alam, harusnya menjadi pedoman kita dalam menjalani kehidupan.
Sabda Nabi SAW bahwa kebersihan adalah bagian dari iman ini sebenarnya mengisyaratkan bahwa kebersihan sebagai salah satu elemen penting dari pemeriharaan lingkungan merupakan bagian dari iman. Makanya, memelihara alam, menanam tetanaman dan menjaganya juga kewajiban. Kerusakan lingkungan tidak boleh didiamkan. Sebab, lingkungan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.
Semua makhluk hidup bergantung pada alam. Karenanya, manusia wajib menjaganya. Alam akan memberikan feedback positif ketika manusia memperlakukannya dengan baik. Sebaliknya, jika manusia berbuat semaunya, alam pun bisa menjadi bumerang bagi manusia (banjir, tanah longsor, kekeringan misalnya). Akhirnya, semua kembali pada manusia, ingin bersahabat atau ingin merusak.***
Foto: Pixabay/j_lloa
