JENDELAISLAM.ID – Dari puluhan pondok yang ada di Mlangi, kebanyakan ibu nyainya berasal dari Pesantren al-Falahiyyah. Sebelumnya memang di Mlangi sudah ada dua pondok pesantren: Pondok Putra al-Miftah dan as-Salafiyah. Tetapi belum ada Pondok Pesantren Putri.
Nah, Pesantren al-Falahiyyah inilah yang menjadi pelopor pertama berdirinya pesantren putri di Mlangi.
“Bapak dulu (KH. Zamruddin red.) nyantri di Lasem, tepatnya di Mbah Kyai H. Maksum. Tahun 1962, pulang ke Purworejo. Karena ibu, Hj. Rubai’ah, adalah orang pertama kali yang hafal Qur’an di kampung sini, maka Tahun 1963, berdirilah pesantren khusus tahfidz,” ujar KH. Rifqi Aziz Makshum, putra KH. Zamruddin, yang kini melanjutkan kepemimpinan al-Falahiyyah.
Pada awalnya, para santri berasal dari kampung Mlangi saja yang belajar Qur’an. Saat itu ada 12 santri, namun belum ada asrama sehingga santri hanya ngalong saja, artinya mereka datang saat mengaji saja.
Tatkala aktivitas ngaji ini dimulai bebarengan dengan masa G30S PKI dan belum ada masyarakat setempat yang berkerudung. Sebab, kampung di sini erat dengan tradisi keraton, belum ada yang hafal Qur’an meskipun yang mengaji sudah banyak. Setelah Hj. Rubai’ah yang hafidzah menetap di Mlangi, mulailah banyak orang yang menitipkan putrinya untuk belajar al-Qur’an sekaligus tahfidz.
Ini berjalan selama hampir 12 tahun. Setelah perkembangannya menunjukkan grafik meningkat dan modal untuk membangun sudah ada, barulah tahun 1975, pesantren membangun asrama putri.
Santri awalnya tinggal di bangunan yang masih sederhana. Pada tahun 1978, santri putra mulai masuk dan kemudian membangun asrama pada tahun 1980 dengan santri 10 orang. Tahun 90-an, ada 50 santri putra.
Sistem pengajian di al-Falahiyyah kala itu masih menggunakan sistem bandongan. Tetapi sejak tahun 1990, berkembang dengan menerapkan sistem klasikal. Kitab-kitab dasar yang menjadi rujukan, di antaranya: Kitab “Jurmiyah”, “Imrithi”, “Taqrib” dan sebagainya. Imbasnya, jumlah santrinya bertambah hingga menembus angka ratusan.
Pelan namun pasti, pada tahun 2009, al-Falahiyyah yang terletak di Jalan Ringroad Barat Mlangi Desa Nogotirto Kec. Gamping Sleman Yogyakarta ini mendirikan pendidikan berbasis formal MI al-Falahiyyah.
Ketentuan Menghafal
Kendati al-Falahiyyah mengedepankan program tahfidz, namun tidak serta-merta semua santri bisa langsung mengambil program ini. Sebab ada ketentuan khusus bagi para santri sebelum mengambil program tahfidz, yang di antaranya untuk santri remaja atau yang sudah besar, sudah mengaji Kitab “Alfiyah Ibn Malik” (kitab nahwu lanjutan), sedangkan bagi santri yang masih kecil harus sudah belajar kitab “Imrithi” dan lulus MI.
Metode tahfidz di al-Falahiyyah menggunakan metode sorogan. Santri bisa menyetor satu halaman atau dua halaman per hari. Namun ada pula santri membaca sekali kemudian beberapa hari kemudian setor 1 juz. Jadi semua itu tergantung kemampuan masing-masing santri.
Jadwal rutin hafalan pun ada waktu tersendiri sehingga tetap berjalan secara terarah. Setoran Qur’an untuk putri jam 07.00-09.00 dan 09.00-10.00 untuk putra. Dan sehabis Maghrib ada setoran Qur’an lagi bagi santri putra maupun putri.
Bukan itu saja, untuk menopang program tahfidz di al-Falahiyyah juga menyelenggarakan berbagai pengajian rutin yang full day. Mulai sehabis Shubuh, mengaji secara bandongan segala usia; Tafsir Jalalain untuk santri yang besar, dan kitab Ta’lim Muta’allim untuk santri yang masih kecil.
Di pesantren ini selain para santri belajar mengaji di pondok, ada juga yang nyambi sekolah/kuliah (di luar pesantren), dan ada yang nyambi kerja. Mereka yang nyambi kerja itu ada yang bercocok tanam, ada pula yang terjun di kerajinan pagar bambu, pembuatan kerupuk rambak dan ada yang bergerak di bidang rental mobil. Keuntungan dari usaha ini dialokasikan untuk operasional pesantren.
Al-Falahiyyah membebaskan para santrinya, tetapi yang paling penting di luar jam sekolah/kuliah dan bekerja, mereka tetap mengaji di pesantren sesuai jadwal yang berlaku.
Namun di al-Falahiyyah sendiri, pendidikan formal MI mulai jam 07.00 hingga 13.00. Sehabis jamaah Dzuhur sampai menjelang Ashar, ada pendidikan anak-anak TPA. Usai jamaah Ashar ada ngaji klasikal, berlanjut jamaah Maghrib dan mengaji al-Qur’an lagi.
Selanjutnya untuk memperdalam kajian kitab, pukul 20.00 hingga 23.00 ada pengajian kitab kuning. Setiap kelas ada dua mata pelajaran. Misalnya jam 20.00-21.30, pelajaran nahwu kemudian setelah itu fiqh.
Pengajian kitab kuning ini seperti madrasah dengan sistem klasikal. Kelas 1 menggunakan kitab dasar; seperti: “Jurmiyah”, “Hadits Arbain”, “Taqrib” dan sebagainya. Kelas 2 menggunakan kitab “Imrithi”, “Jawahirul Kalamiyah”, “Alfiyah Ibn Malik”. Di atas itu, kelas 3 menggunakan kitab “Fathul Mu’in”, “Jauharul Maknun”, “Fathul Wahab”.
Dengan demikian, al-Falahiyyah bukan mengedepankan hafalan semata, namun santri juga harus membekali dirinya dengan ilmu nahwu, sharf, fiqih, tafsir dan sebagainya. Tujuannya agar santri juga memahami makna yang terkandung di dalam setiap ayat yang dibaca maupun dihafalkannya. Tidak hanya sekadar hafal secara tekstual melainkan juga mengerti maksud di balik kalimat yang dilafadzkannya.
Membangun Dusun Binaan
Sebagai sebuah lembaga yang lahir di tengah masyarakat, al-Falahiyyah tetap menjaga hubungan baik dengan berbagai lapisan masyarakat. Pengajian terbuka sebagaimana dirintis di awal berdirinya tetaplah diselenggarakan secara rutin, terutama pada hari Jum’at Pahing dan Ahad Pon.
“Bahkan ada salah satu dusun binaan Bapak (KH. Zamruddin red.) sudah mendirikan pesantren dengan nama Pesantren Zamruddin. Masyarakat setempat yang menginginkan berdirinya dan alhamdulillah sekarang ini jumlah santrinya juga sudah mencapai ratusan,” ujar KH. Rifqi Aziz.
Di samping itu, al-Falahiyyah yang melahirkan para huffadz juga tetap membina tali silaturrahmi yang terwadahi dalam Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz, dimana lebih dari 100 orang anggotanya tersebar di kampung Mlangi. Melalui wadah ini, berbagai kegiatan keagamaan diselenggarakan; biasanya berupa semaan Qur’an 30 juz dan dilanjutkan dengan ceramah agama. Ini dilakukan secara berganti-ganti dari satu tempat ke tempat lain.***
Sumber Foto: Facebook/PP. al-Falahiyyah
