JENDELAISLAM.ID – Banyaknya bencana di negeri ini membuat kita kesulitan mencari jawabnya. Ada apa dengan negeri ini, bagaimana bisa terjadi dan kenapa terus terjadi? Hampir tiap tahun, negeri ini terus dirundung bencana.
Semua mengepung negeri ini sehingga membuat Indonesia serasa negeri gudang bencana.
Sesungguhnya bencana-bencana yang melanda Indonesia itu semacam pesan pendek dari Tuhan. Sayangnya, manusia tidak mau membacanya apalagi menjawabnya.
Padahal jika kita mendapatkan WhatshApp (baca: WA) dari teman atau orang penting, begitu cepat kita membalasnya. Anehnya pesan Tuhan, kita begitu lambat membacanya.
Mata kita memang bisa melihat secara kasat mata, tetapi sejatinya belum melihat yang sebenar-benarnya. WA Tuhan yang disampaikan kepada kita melalui peristiwa banjir, puting beliung, tanah longsor, gempa, dan lainnya, mungkin sejauh ini hanya mampu menggerakkan lisan kita bahwa semua ini adalah kuasa Tuhan.
Nyatanya belum mampu menggetarkan hati hingga menyadarkan kita kenapa Tuhan memunculkan bencana dalam bentuk yang beraneka rupa itu.
Lisan kita berkata, tapi hati kita terkunci rapat. Memang saat terjadi bencana, kita seolah baru tersadar dan mencari perlindungan, “Ya Allah, lindungilah kami dari bencana yang Engkau timpakan. Selamatkan harta benda dan keluarga kami!”
Tapi jika bencana sudah lewat, kita kembali ke habitat semula; angkuh, lupa diri dan masa bodoh. Kita sudah lupa pesan singkat itu sehingga pesan itu seolah tak pernah ada.
Seorang anak yang terus-menerus menyepelekan pesan orang tuanya saja bisa membuat orang tuanya marah. Begitu pula dengan pesan Tuhan yang sudah menyampaikan secara terus-menerus dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun.
Bukan tidak mungkin pesan-pesan singkat yang terus kita abaikan akan membuat Tuhan menitipkan pesan yang lebih keras dan dahsyat.
Tuhan mengingatkan, “Janganlah berjalan di muka bumi ini dengan sombong”. Dalam konteks ini, bisa dimaknai pula bahwa seketika setelah Tuhan menyampaikan pesan seyogyanya membuat kita mawas diri dan cepat tanggap meresponnya.
Bukan malah menyombongkan diri. Bukan debat kusir yang tidak berujung pangkal melainkan tindakan kongkrit. Sebab debat panjang atau lafadz-lafadz mulia itu mungkin tak membawa dampak apa-apa bila tabiat dan perilaku kita tetap buruk seperti sebelumnya.
Refleksi dan evaluasi masing-masing individu. Menghitung-hitung kesalahan diri kita untuk selanjutnya menapak ke arah yang lebih baik.
Pastilah ada ketidakberesan dalam diri kita sehingga Tuhan menyampaikan pesan dalam rupa murka alam; apakah itu karena ketidakharmonisan kita kepada Tuhan ataukah karena ketidakharmonisan antar-sesama ataukah ketidakharmonisan kita mengelola alam.
Bukankah Tuhan berjanji akan menambahkan kenikmatan dan anugerah-Nya asal kita pandai bersyukur, sebaliknya memberi warning yang sangat keras bila kita mengacuhkannya apalagi menentang-Nya.
Kalau lisan kita berujar ‘Ampunilah kami, Tuhan. Kami telah lalai” itu sama artinya tidak bakal mengulangi kesalahan lagi dan kesombongan tidak lagi bersemayam dalam diri kita. Jika lisan kita ternyata berbeda dengan perbuatan, Tuhan pastilah punya hitung-hitungan sendiri.***
Sumber Foto: Facebook/Desa Pasir Mijen
