JENDELAISLAM.ID – Puasa merupakan sebuah amalan mulia yang biasa dilakoni orang. Entah itu puasa wajib atau pun puasa sunnah. Namun, puasa yang kita kenal ini sejatinya merupakan sebuah ibadah yang telah lama ada dalam masyarakat sebelum Islam datang. Karena turunnya ayat puasa juga menerangkan hal demikian, “… Sebagaimana telah ditetapkan atas orang-orang sebelum kamu” (QS. al-Baqarah: 183).
Perintah puasa Ramadhan ini kemudian turun di akhir Sya’ban tahun yang ke-2 Hijriyah, melalui ayat puasa, yakni QS. al-Baqarah: 183-185, yang mewajibkan puasa atas umat Islam agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa.
Ayat puasa tersebut juga menegaskan bahwa puasa sudah difardhukan atas umat terdahulu. Barulah setelah puasa Ramadhan menjadi sebuah kewajiban, Rasulullah kemudian bersabda sehubungan dengan puasa ‘Asyura, “Barang siapa berkehendak berpuasa ‘Asyura, hendaklah dia berpuasa dan barang siapa hendak berbuka, hendaklah dia berbuka.”
Sabda tersebut menerangkan bahwa puasa ‘Asyura merupakan puasa sunnah, termasuk amalan mulia yang bernilai pahala bila dikerjakan, namun bukan suatu kewajiban. Selama hidupnya. Rasulullah SAW berpuasa Ramadhan sebanyak sembilan kali. Delapan kali dengan 29 hari dan sekali saja yang penuh 30 hari.
Bahkan bila ditilik lebih luas, sebenarnya ajaran puasa itu bukan hanya ada di agama Islam saja, melainkan juga ada di setiap agama.
Dalam buku “Buku Induk Mukjizat Kesehatan Ibadah” karya Dr. Jamal el-Zaky, menyebutkan bahwa bangsa Mesir yang menyembah berhala juga berpuasa. Demikian halnya bangsa Yunani dan bangsa Romawi. Pun orang Hindu terus-menerus mengerjakan puasa hingga sekarang ini.
Disebutkan dalam “Ensiklopedi Britanica”, banyak agama yang mewajibkan puasa kepada umatnya. Puasa dijalankan untuk melatih jiwa, termasuk di luar waktu yang ditetapkan agama. Sebagian orang melakukan puasa semata-mata untuk memenuhi tuntutan alami agar tubuh lebih sehat. Tetapi bagi umat Islam, puasa dilakukan tidak hanya untuk memenuhi metabolisme tubuh, tetapi yang lebih penting adalah memenuhi perintah Allah SWT dan sebagai bentuk ibadah pada-Nya.
Kenapa harus Puasa?
Secara harfiah, puasa punya arti menahan diri dari sesuatu. Muhammad Ali as-Shabuni dalam tafsirnya mengatakan bahwa shaum (puasa) menurut bahasa adalah al-imsak anisy sya’i wat tarku lahu, yang berarti menahan diri dari sesuatu dan meninggalkannya.
Juga berarti al-imsakul muthlaqi (menahan diri secara mutlak dari segala sesuatu). Maka dari itu, orang yang menahan diri dari bicara, juga disebut sebagai orang yang puasa (shaim).
Puasa dalam pengertian menahan diri dari berbicara, dinyatakan dalam firman Allah SWT yang menuturkan kisah Siti Maryam AS, “Sesungguhnya aku telah bernadzar kepada Tuhan untuk berpuasa sehingga hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang pun pada manusia hari ini” (QS. Maryam: 26).
Menurut fuqaha, kalimat shaum dalam ayat tersebut maknanya menahan diri untuk tidak berbicara.
Sedangkan makna puasa secara terminologi adalah menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan segala hal yang membatalkan puasa sehari penuh sejak terbit fajar hingga terbenam matahari untuk menjalankan perintah Allah dan mendekatkan diri pada-Nya.
Dalil yang menunjukkan bahwa puasa bermakna menahan diri dari nafsu makan dan seks adalah firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah: 187, “Dihalalkan bagimu di waktu malam bulan puasa berhubungan dengan isterimu. Mereka adalah pakaianmu dan kamu adalah pakaian mereka. Allah mengetahui bahwa kamu telah berkhianat terhadap dirimu sendiri, maka taubatmu diterima dan kesalahanmu dimaafkan. Sekarang, kamu boleh berhubungan dengan isterimu dan carilah apa-apa yang telah dihalalkan Allah bagimu. Makan dan minumlah sehingga nyata bagimu benang yang putih dari benang yang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam (terbenam matahari).”
Juga hadits qudsi, “Setiap pahala amal ibadah manusia untuk dirinya kecuali puasa, ia untuk-Ku dan aku yang akan memberikan pahalanya. Ia meninggalkan makan dan nafsu seks hanya untuk-Ku” (Muttafaq ‘alaih).
Memang tidak dapat disangkal, bahwa dorongan kebutuhan jasmani, khususnya fa’ali (makan, minum dan hubungan seks), menempati tempat teratas dari segala macam kebutuhan manusia. Daya tariknya sangat kuat sehingga tidak jarang orang terjerumus karenanya.
Nah, seseorang yang mampu mengendalikan diri dalam kebutuhan-kebutuhan yang sangat mendasar itu diharapkan mampu mengontrol diri pada dorongan naluriah atau nafsu lain yang justru berada di peringkat bawah dibandingkan dengan kebutuhan fa’ali tersebut. Dari sini dapat dipahami kenapa syarat sahnya puasa dalam ajaran Islam adalah menahan diri dari makan, minum dan hubungan seksual.
Jadi, berdasar keterangan di atas, puasa bukan cuma menahan lapar dan menahan haus semata. Puasa juga berbeda dengan diet. Sebab, puasa memiliki dimensi kejiwaan, sedang diet hanya dimensi fisik. Diet hanya dibatasi jumlah makan dan minum serta frekuensi mengonsumsinya. Sedang berpuasa punya makna lebih dari itu.
Menurut Agus Mustofa dalam bukunya “Scientific Fasting; Untuk Apa Berpuasa”, puasa merupakan aktivitas yang melibatkan dimensi fisik, jiwa, dan spiritual. Atau dalam bahasa yang sederhana: puasa adalah aktivitas lahir batin. Dengan puasa, seseorang harus menjalani aktivitas mulai dari niat yang bersifat spiritual, menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu –termasuk makan dan minum,– serta memperbanyak komunikasi dengan Tuhan.***
Berbagai Sumber & Foto: Pixabay/milaoktasafitri
