Shalat Khusyuk Meningkatkan Kualitas Ibadah Kita

JENDELAISLAM.ID – Relakah jika ibadah shalat yang kita lakukan setiap hari tak membekas sama sekali di mata Allah SWT lantaran kita menjalani secara serampangan atau hanya karena terpaksa belaka? Atau bayangkan jika kita menghabiskan siang dan malam untuk beribadah, malam tidak tidur, siang hari berjuang, tapi hasil akhirnya nol, tidak ada manfaat yang kembali pada diri kita?

Kita tentu berharap bahwa ibadah yang sudah kita upayakan punya nilai hingga mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT. Hanya saja, itu tidak mudah.  Memang, shalat bisa kian mendekatkan diri kepada Sang Khaliq bahkan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar. Namun, sudah pasti tidak sembarang shalat, shalat yang bukan sekedar mempraktikkan gerakan-gerakan shalat, bukan hanya melafalkan bacaan-bacaan shalat, atau sekedar menggugurkan kewajiban semata. Kalau hal ini terjadi, maka shalatnya bagaikan jenazah yaitu badan tanpa roh, perbuatan tanpa nilai.

Akan tetapi hanya shalat yang khusyuk. Shalat yang dilakukan dengan gerakan hati dan penyerahan jiwa sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. Shalat yang demikian ini mampu memberikan ketenangan hati, meningkatkan kebahagiaan dan mengundang cinta ilahi.

Pantaslah jika disebutkan bahwa amal yang pertama kali diperhitungkan besok di akherat adalah shalat. Jika shalatnya mendapat nilai plus dimata Allah SWT, maka amalan-amalan yang lain pun diterima. Sebaliknya, jika merah nilai raportnya dimata Allah SWT, seluruh amalan lainnya pun tidak dianggap.  

Jadi, jelas shalat menjadi barometer ibadah-ibadah lain.

Syahid Tsani, penulis buku “Terapi Shalat Khusyuk, Penenang Hati”, mengatakan bahwa kehadiran hati dalam semua ibadah, khususnya shalat adalah sebuah keharusan. Allah mencela orang-orang yang mengerjakan shalat, yang tidak diiringi kehadiran hati dan melalaikannya. Sebab, menurut Syahid Tsani, diterimanya shalat bergantung pada kehadiran hati yang hanya ditujukan pada Allah dan memalingkannya dari selain Allah SWT.  

Jalan untuk menghadirkan hati, lanjut Syahid Tsani, adalah perlawanan yang sungguh-sungguh atas serbuan pikiran yang bermacam-macam yang kadang datang dari dalam diri kita sendiri atau datang dari luar.

Syahid Tsani menekankan, cara mencegahnya adalah dengan melenyapkan faktor-faktor pemicunya serta memaksakan diri untuk memahami makna yang terkandung dalam shalat. Sehingga bagian shalat yang diucapkannya dapat dipahami secara mendalam dan dapat direnungkan dengan baik.***

Foto: HM