Buya Yahya: 3 Hal Penting dalam Pendidikan Keluarga yang Bisa Kita Teladani dari Nabi SAW

JENDELAISLAM.ID – Setidaknya, ada tiga hal penting yang bisa kita teladani dari Baginda Nabi Muhammad SAW dalam soal pendidikan keluarga. Tiga hal tersebut adalah membiasakan bersyukur, bersabar, dan memberikan perhatian.

Hal ini disampaikan oleh Buya Yahya dalam “Maulid dan Silaturrahim Akbar 1446 H” di Lembaga Pendidikan Dakwah Al-Bahjah Jamblang Cirebon, pada Ahad (15/12/2024).

Buya Yahya, panggilan akrab dari pria bernama lengkap Yahya Zainul Ma’arif, menjelaskan bahwa Maulid Nabi SAW harus kita pahami sebagai momen untuk membuat perubahan. Sebab, tidak ada artinya kita menghadiri maulid dimana-mana, keliling sana-sini, tapi tidak membawa perubahan dalam diri kita. Padahal apabila kita mengaku cinta kepada Nabi, maka kita harus mengikuti Rasulullah SAW.

Menurut Buya Yahya, salah satu suri tauladan yang mesti dihadirkan dalam rumah tangga adalah pendidikan Nabi SAW tentang keluarga.

“Selama ini, kita lengah, lupa, membangun kebaikan dalam keluarga kita. Bicara kebaikan di sana-sini, tapi lupa membangun kebaikan dalam keluarga. Padahal membangun keluarga mestinya kita jadikan sumber membangun kebaikan,” terang Buya.

Bukankah sebaik-baik kita adalah yang paling baik terhada keluarga? Buya lantas menukil sabda Nabi Muhammad SAW:

خيرُكُم خيرُكم لأهلِهٍ، وأنا خيرٌكم لأهلي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku” (HR. Tirmidzi)

Menurut Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon ini, setidaknya ada tiga hal yang harus ada dalam rumah tangga:

Pertama, biasakan untuk bersyukur. “Kita harus pandai melihat kebaikan dari pasangan, kebaikan dari anak. Lupakan keburukan-keburukan yang ada. Membiasakan melihat sesuatu dari sisi positif,” ujar Buya.

Selanjutnya, tambah Buya, apabila ada kekurangan, tugas kita untuk menyempurnakannya. Jika tidak memunculkan kelebihan pada pasangan, maka akan mudah tampak kekurangan dan itu awal dari kehancuran rumah tangga. Hilang keindahan dan hilang kemesraan.

“Suami mesti melihat kelebihan isteri. Tidak melihat kekurangan pasangan. Jangan sampai engkau sebut kekurangannya!  Ucapan terima kasih itu penting. Bersyukur itu penting. Ucapkan terima kasih itu sangat perlu. Ini yang harus dihadirkan dalam rumah tangga kita.”

Oleh karena itu, Buya mengingatkan agar orang harus mampu melihat kelebihan pasangannya. “Sejelek-jelek pasangan, pasti ada yang bisa dibanggakan dari pasangan. Orang yang tidak mengetahui kebaikan pasangan, maka itu adalah sejelek-jeleknya orang.”

Kedua, membiasakan bersabar. Kita mesti menyadari bahwa pasangan kita adalah manusia. Pasti ada kekurangan. Karena itu harus sabar, menahan diri agar tidak mudah marah, dengan bersabar.

“Kita harus pandai mengelola permasalahan rumah tangga. Setiap orang punya permasalahan masing-masing.  Karena itu, kesabaran harus dihadirkan. Kesabaran itu penting. Dalam rumah tangga, pasti ada masalah. Insyaallah dengan sabar, akan membawa perubahan lebih baik.”

Buya mencontohkan saat seorang suami yang pulang kerja, mengharapkan disuguhkan makanan minuman, ketika sampai di rumah. Jangan langsung menumpahkan kemarahan saat tidak ada makanan/minuman terhidang di meja. Maka, mesti bersabar. Mungkin ada hal yang membuat isteri belum/tidak bisa menyiapkannya. Jadi, perlu melihat secara positif.  

Ketiga, membiasakan untuk saling memberi perhatian. Ini penting agar pasangan merasa dihargai. Tidak boleh egois. Dengan demikian, akan tumbuh sikap saling menghormati, menghargai, dan akhirnya terbangun suasana indah dalam keluarga.

“Saat suami sudah di rumah, tolong letakkan laptop! Kalau memang harus memegang laptop, izin baik-baik. Letakkan hanphone!  Kasih tahu kalau mau menggunakan HP di rumah! Ajari anak juga untuk peduli! Perhatikan, ini agar komunikasi dalam rumah menjadi hidup! Ini penting agar suasana rumah tangga menjadi indah.  

Dalam acara yang mengusung tema “Satu Hati di Al-Bahjah Jamblang” ini, Buya berharap kepada jamaah agar menjadikan momentum Maulid untuk melakukan perubahan. “Ucapkan selamat inggal pada keburukan di masa lalu, nWaktunya menyesal untuk kemudian berubah menjadi lebih baik lagi,” pungkas Buya.***

Dalam acara “Maulid dan Silaturrahim Akbar 1446 H” di LPD Al-Bahjah Jamblang Cirebon ini, hadir sejumlah ulama yang menyampaikan tausiyah berharga, di antaranya: Abi Arif (Pengasuh Al-Bahjah Jamblang Cirebon), KH. Abdul Kholiq Ibrahim (Ulama dari Lamongan), Syekh Anas as-Syarfawi (Ulama dari Syam – Syria), Syekh Mar’i Hasan ar-Rasyid (Ulama dari Damaskus – Syiria), KH. M. Hasan Jauhari (Pamekasan – Madura), dan Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon).***

Foto: YT Al-Bahjah Jamblang