Masjid Jami’ ‘Pathok Negoro’ Mlangi  Yogyakarta: Simbol Perlawanan Budaya terhadap Penjajah

JENDELAISLAM.ID – Masjid Jami’ Mlangi termasuk salah satu Masjid Pathok Nagari/Negoro yang dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1760-an. Ada embel-embel Pathok Negoro lantaran masjid ini berfungsi sebagai batas negara di wilayah barat Keraton Yogyakarta.

Selain itu, dikatakan Pathok Negoro karena keinginan keraton sebagai simbol perlawanan budaya terhadap penjajahan waktu itu.

Ketiga masjid Pathok Negoro lainnya yang punya fungsi sama dengan Masjid ‘Pathok Negoro’ Mlangi adalah di sebelah timur terletak di desa Babadan, di sebelah utara terletak di desa Ploso Kuning dan di sebelah selatan terletak di desa Dongkelan. Seperti masjid keraton lainnya, Masjid Jami’ Mlangi juga dikelilingi oleh komplek pemakaman.

Lahirnya masjid ini, tak lepas dari ide Mbah Kyai Nur Iman yang mengusulkan kepada Sri Sultan HB I, yang masih kerabatnya sendiri, untuk membangun empat masjid besar yang melengkapi keberadaan Masjid Agung yang ada di Kauman. Masjid-masjid tersebut disarankan oleh Kyai Nur Iman dibangun di empat arah dan diberi nama Masjid Patok Nagari.

Masjid keraton yang pengelolaannya sekarang sudah diserahkan kepada masyarakat ini punya kontribusi yang tidak terkira. Bahkan boleh dibilang salah satu denyut nadi masyarakat Mlangi yang sudah terkenal agamis ada di masjid ini.  

Menelisik Bangunan Masjid

Lokasi Masjid Jami’ Mlangi ada di Dusun Mlangi Nogotirto Kec. Gamping Kab. Sleman.Masjid ini sesungguhnya berdiri di atas tanah Kasultanan seluas 1.000 m2, yang terdiri atas bagian ruang utama 20 x 20 m, serambi masjid 12 x 20 m, ruang perpustakaan 7 x 7 m, dan halaman seluas 500 m2.

Untuk menuju masjid ini, kita harus melalui pintu gapura bercat putih terlebih dahulu. Gapura ini ada di halaman masjid yang diikuti beberapa anak tangga menurun. Di sisi kiri dan halaman masjid terdapat tembok mengelilingi masjid.

Di sisi barat, utara dan timur laut ada komplek pemakaman. Mereka yang dimakamkan di kompleks ini adalah para keluarga keraton. Mbah Kyai Nur Iman sendiri dimakamkan di belakang masjid (sisi barat). Makam tersebut dinamakan Makam Pangeran Bei/Pesareyan Kagungan Dalem Kasultanan, sehingga gapura masuk kompleks Pesareyan pun berciri khas keraton.

Di sebelah utara masjid terdapat makam Pangeran Sedo Kedaton, yaitu Patih Danurejan pada masa Hamengkubuwono II. Di sebelah timur adalah makam keluarga Pangeran Prabuningrat.

Pada mulanya arsitektur Masjid Mlangi sama dengan masjid keraton lainnya. Bentuknya seperti Masjid Pathok Nagari Plosokuning yang hingga kini masih tampak keasliannya. Bangunannya mengikuti gaya arsitektur Jawa dengan penyangga-penyangga kayu. Dulu, soko (pilar) Masjid Mlangi berjumlah 16 buah termasuk empat soko utama.

Di bagian depan, kanan dan kiri masjid dulunya terdapat blumbang (semacam kolam) untuk membersihkan kaki sebelum memasuki masjid. Air blumbang diambil dari bendungan Mlangi di wilayah timur. Namun mengingat apabila air dialirkan untuk mengisi blumbang masjid, sawah-sawah di sekitarnya menjadi kering, akhirnya blumbang ini ditutup supaya tidak mengganggu kepentingan irigasi sawah.

Konstruksi bangunannya diganti dengan pilar-pilar beton. Di sisi depan sebelah utara ditambah menara setinggi 20 m, sesuatu yang tak lazim dalam arsitektur Masjid Kasultanan. Kendati demikian masih ada beberapa bagian masjid masih terjaga kasliannya, seperti mustoko masjid dan mimbar.

Bentuk mustoko ini sama dengan mustoko Masjid Demak. Dan mimbarnya juga masih asli dengan tangga bertingkat, di bagian luar mimbar diberi kain mori putih, seperti mimbar-mimbar di masjid kerajaan Mataram tempo dulu. Sementara beduknya tetap mempertahankan replika aslinya. Diameter beduk ini sama dengan ukuran bedug yang asli, yakni 165 cm.

Dari Keraton Ke Masyarakat

Memang pada saat awal, pengelolaan masjid di bawah Keraton Ngayogyokarto. Namun sejak tahun 1955, kepengurusan masjid oleh Kasultanan resmi diserahkan kepada masyarakat Mlangi. Ini terjadi pada masa pemerintahan Hamengku Buwono IX. Waktu itu, Masjid Mlangi diserahkan kepada masyarakat yang diwakili oleh KH. Zainudin dan KH. Masduki.

Praktis, semenjak masjid ini diserahkan ke masyarakat, pengelolaan masjid semakin longgar meskipun demikian hubungan dengan keraton tetap terjalin dengan baik. Sejak penyerahaan itulah renovasi beberapa kali dilakukan, di antaranya pada tahun 1970 dan 1985.  

Kendati sudah mengalami perubahan, namun masjid ini tetap mempesona. Banyak jamaah yang berdatangan, baik dari kampung Mlangi sendiri maupun dari luar daerah, yang hendak beribadah, mengaji maupun berziarah. Ini disebabkan lantaran masjid ini sangat bersejarah yang selalu terkait dengan tokoh penyebar Islam dari keluarga Keraton Ngayogyokarta, yakni Mbah KH. Nur Iman. 

Pada hari biasa selain hari Jum’at, di masjid ini diselenggarakan pengajian kitab kuning setiap ba’da Shubuh dan ba’da Maghrib. Pematerinya adalah kyai-kyai pimpinan pondok pesantren di Mlangi secara bergiliran. Sedang saat Ramadhan, kegiatan ngaji di masjid ini lebih padat lagi.  Sebab Ramadhan merupakan momentum mulia untuk mendapatkan berkah dan rahmat.***

Foto: Gudeg.net