Islam Mendapatkan Tempat meski Ada Kampanye anti-Muslim di Belanda

JENDELAISLAM.ID – Kita tentu pernah mendengar nama Geert Wilders, politikus Belanda, yang mengkampanyekan anti-Islam.  Wilders lantang bersuara agar setiap otoritas di negara Barat, tidak memberikan kelonggaran dan izin terhadap aktivitas kalangan Muslim, termasuk pembangunan masjid. Sebab menurut Wilders, Islam adalah ancaman terhadap Eropa. 

Tidak cukup di situ, Wilders juga mengecam pemerintah Belanda yang masih menghormati toleransi beragama sehingga Muslim di negeri Belanda dijamin kebebasannya dalam menjalankan ajaran-ajarannya. Namun upaya Geert mendiskreditkan Islam, menuai kegagalan menyusul ditolaknya usulan-usulannya ke Parlemen Belanda yang menghendaki pengebirian Islam (voa-islam.com, 09/07/2012).

Kampanye anti-Islam oleh Wilders, bukan saja melalui buku yang ditulisnya, bicara dalam berbagai forum, namun juga melalui pembuatan film. “Fitna” yang dirilis pada tahun 2008, sempat menggegerkan jagat raya. Bagaimana tidak, dalam film tersebut, ia berpandangan bahwa Islam telah mengurangi kebebasan di Belanda dan ajaran Nabi SAW tidak cocok dengan kemoralan Barat.

Walau kampanye anti-Islam yang diprakarsai oleh pemimpin partai sayap kanan Belanda tersebut demikian gencar, kenyataannya tidak menyurutkan gaung Islam di Amsterdam. Bahkan perkembangan Islam di ibu kota negeri kincir angin tersebut semakin menggembirakan.

Di sana Islam bukan saja diterima dengan baik oleh masyarakatnya, tetapi dari waktu ke waktu Islam tumbuh secara signivikan. Ini terbukti dari menjamurnya organisasi keislaman, masjid yang terus berdiri, di samping makin banyak orang yang tertarik pada Islam. Menurut catatan Euromoslim, organisasi Islam yang bermarkas di Amsterdam, rata-rata sebulan sekali ada saja orang yang Belanda atau non-Muslim yang memeluk Islam.

Fenomena ini terjadi lantaran masyarakat di negeri kincir angin tersebut terbuka menerima Islam. Selain itu, ada beberapa elemen yang mendorong perkembangan Islam di sana.

Pertama, di kalangan elit warga ibukota Belanda ternyata banyak yang tidak meyakini satu pun agama.

Kedua, aktivitas kegerejaan mengalami kemunduran, khususnya di Amsterdam, malahan banyak gereja dan aset-asetnya dijual, lantaran semakin merosotnya jumlah jamaahnya (id.wikipedia.org).

Di sisi lain, kalangan Muslim lebih respek terhadap ajaran-ajaran Islam dibandingkan dengan para pemeluk agama lainnya. Faktor lainnya, dakwah Islam gencar merekrut pemeluk-pemeluk baru, khususnya mereka yang berasal dari etnis minoritas Afrika atau yang berasal dari kelompok atheis. 

Islam dan Kaum Imigran

Amsterdam adalah ibu kota dan kota terbesar di Belanda, di Provinsi Belanda Utara. Nama Amsterdam diambil dari kata Amstel dan Dam yang berarti dam yang berada di sungai Amstel.

Selain dikenal  dengan kota kanal, kota kincir angin, kota tulip, Amsterdam juga dikenal dengan kotanya yang ramah lingkungan dan bebas polusi.   Wajar saja bila orang dari luar daerah merasa nyaman dan betah tinggal di kota itu.

Di luar keramahan dan keindahannya, Amsterdam termasuk salah satu dari 11 kota yang tergabung dalam Uni Eropa yang memiliki populasi Muslim besar.  Di kota ini, warga Muslim tersebar di sejumlah tempat, seperti: Distrik De Baarsjes, Geuzeveld atau Slotermeer, Oud West, Oost-Watergraafsmeer, Slotervaart, Bosen Lommer, dan Osdrop. Amsterdam sendiri memiliki 15 distrik.

Laporan bertajuk “Muslim di Kota-Kota Uni Eropa” yang ditulis oleh Open Society Foundation menyebutkan pada tahun 2008 di Amsterdam terdapat sekitar 90.000 Muslim atau 12% dari populasi. Umumnya mereka adalah keturunan imigran, terutama dari Maroko dan Turki, sisanya berasal dari komunitas Suriname, Mesir dan Pakistan.

Bila ditelisik, imigran Muslim di Amsterdam terbagi dalam dua gelombang besar. Gelombang pertama dimulai sejak tahun 1960-an dan gelombang kedua pada 1980-an hingga tahun 1990-an. Seperti disebutkan dalam laman www.soros.org pada awalnya yang datang ke Belanda adalah para pekerja migran laki-laki asal Maroko dan Turki (1960-an). Mereka kebanyakan menetap di Amsterdam. Namun seiring dengan perjalanan waktu, para pekerja migran ini membawa serta sanak keluarganya di kota ini.  

Arus imigrasi terus berlangsung. Pada 1980-an, gelombang imigran semakin membesar. Banyak dari mereka menetap di pinggiran kota, salah satunya di kawasan sebelah barat Amsterdam. Salah satu distriknya bernama Slotervaart yang merupakan salah satu kantong Muslim di Amsterdam. Jumlah Muslim di distrik ini hampir 25% dari total populasi Muslim di Amsterdam.

Tak ayal dengan makin banyaknya imigran yang berdomisili di Amsterdam, otomatis anak-anak mereka pun mengenyam pendidikan di sana. Sebagian Muslim di tempat itu mendapatkan pendidikan cukup baik. Tercatat, dari 190 Sekolah Dasar yang ada di Amsterdam, 8 di antaranya adalah SD Islam. Sedang dari 66 sekolah menengah, satu di antaranya sekolah menengah Islam dikenal dengan nama Islamic College of Amsterdam atau Islamitisch College Amsterdam (ICA) yang ada di distrik Slotervaart.

Dan kabar menggembirakan, di awal tahun ajaran 2007, seluruh SD Islam sudah mulai mengakses kurikulum pendidikan Islam untuk anak usia 4-12 tahun. Kurikulum ini adalah  kurikulum Islam pertama di Belanda. Metode pembelajaran diciptakan oleh Foundation for Teaching Methods (SLO) dan Board Islamic Schools Organization (ISBO), organisasi yang menaungi sekolah Muslim di Belanda.

Kendati demikian, ada pula sebagian kaum Muslim di Amsterdam yang pendidikannya kurang memadai. Akibat pendidikan yang minim ini berdampak pada sulitnya mereka memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang memadai. Banyak keluarga Muslim di Amsterdam hidup dengan gaji minim.

Memang pekerjaan kaum Muslim di sana beragam, dari yang bekerja kasar hingga yang bekerja secara profesional. Riset yang dirilis laman www.euro-islam.info, menerangkan bahwa wirausaha adalah jenis pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan bagi komunitas Muslim asal Mesir, Pakistan dan India.  Namun jenis pekerjaan ini masih berskala kecil.

Sedang sebagian besar kaum Muslim lainnya bekerja pada perusahaan milik orang Belanda. Hanya saja, sikap diskriminasi masih mereka terima, terutama dalam standar upah. Besaran upah pekerja Muslim lebih rendah dibandingkan upah warga Belanda non-Muslim. Sebuah studi yang dilakukan Universitas Amsterdam pada 2002 menyatakan bahwa untuk jenis pekerjaan yang sama, pekerja Muslim hanya diberi upah 13.2 euro per jam, sedangkan warga non-Muslim asli Belanda 14,9 euro per jam (Republika.co.id, 14/05/2012).

Salah satu sungai yang membentang di Amsterdam (Foto:  Unsplash/Eirik Skarstein) 

Keterbukaan Warga

Terlepas masih adanya sikap diskriminatif dan sekelompok kecil anti-Islam yang suka mengusik, hal itu tidak menghalangi geliat Islam di Amsterdam. Islam bukannya meredup melainkan semakin eksis. Sekali pun etnis, budaya serta aliran Islam beragam, secara umum warga Amsterdam tidak alergi terhadap Islam. Mereka dapat menerima secara legowo.

Lagi pula, di negeri kincir angin ini memandang bahwa setiap warga negara, –baik penduduk asli maupun imigran–, memiliki persamaan hak, tidak ada diskriminasi suku, ras, agama dan kepercayaan. Mereka semua memiliki hak dan kewajiban yang sama, seperti: membayar pajak, mengirim anak untuk belajar ke sekolah dan sebagainya. Asalkan tidak mengganggu ketertiban umum atau membuat kegaduhan, setiap orang di sana bebas menjalankan agama dan keyakinannya.

Kebebasan menjalankan agama inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong Islam di sana terus tumbuh. Buktinya, sekitar 44 masjid di penjuru kota tercatat pada tahun 2002. Salah satu masjid paling tua di Amsterdam adalah Masjid El-Tawheed yang didirikan oleh kelompok Salafi. Sayangnya, masjid ini terkena stigma telah mengajarkan ideologi radikal setelah terbunuhnya seorang sutradara film bernama Theo Van Gogh oleh salah satu jamaah Masjid El-Tawheed, Mohammed Bouyeri namanya. Karena itu, masjid ini diawasi secara ketat.

Masjid-masjid di Amsterdam lainnya adalah Masjid Assoenna, Masjid Fatih, Masjid Mevlana dan Masjid Taibah (berdiri tahun 1985). Ada pula masjid khusus perempuan yang dibuka pertama kali pada Maret 2005. Masjid terakhir ini dikelola oleh perempuan. Salah satu tokoh di belakang masjid ini adalah Nawal el-Saadawi, feminis asal Mesir.

Syiar Islam di Amsterdam tambah semarak saat sejumlah gereja justru beralih fungsi menjadi masjid. Gereja-gereja di sana ternyata banyak yang menganggur karena tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Gereja yang sudah tak terurus itu dijual pada masyarakat umum. Dan kebanyakan masyarakat sendiri ternyata lebih nyaman apabila bekas bangunan tersebut dibeli dan disulap menjadi bangunan masjid ketimbang dijadikan tempat hiburan, diskotik misalnya, yang mengajak orang hidup berpoya-poya.   

Sudah barang tentu berbagai kegiatan keagamaan yang terlembaga pun marak seiring dengan tumbuhnya semangat beragama. Di tahun 2000, setidaknya ada 20 organisasi keagamaan Turki di Amsterdam. Di tahun 2001, tercatat pula ada 30 organisasi Muslim Maroko.  

Ada pula organisasi yang dikelola oleh warga Muslim asal Indonesia di Amsterdam. Organisasi ini ada sejak tahun 1970, Euromoslim namanya setelah bermetamorfosis dari klub Gotong Royong dan PPME Amsterdam (Persatuan Pemuda Muslim Eropa).

Aktivis dan anggota organisasi Euromoslim terdiri dari warga keturunan Indonesia, warga asli Belanda dan beberapa pendatang dari keturunan Jawa – Suriname. Hari Jumat dan hari Ahad merupakan puncak kegiatan Euromoslim. Di samping dakwah yang jadi agenda utama, sejumlah kegiatan lain pun diselenggarakan, seperti: bazar,  pernikahan, pengislaman, pembinaan muallaf, manasik haji, daurah (kajian keislaman tahunan selama 2 minggu), tarawih dan Idul Fitri.

Rasanya menilik dari geliat kaum Muslim di Amsterdam, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka beraktivitas secara normal, tenang dan nyaman di antara beragam keyakinan.  Namun satu hal yang harus terus digelorakan oleh kaum Muslim di sana adalah menebarkan Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang mengayomi, santun, toleran dan tidak menampilkan wajah garang.  Biarlah ada yang anti-pati terhadap Islam, toh kebencian itu tidak akan mampu menggusur kebenaran ajaran Islam yang sesungguhnya.***

 Foto: Pixabay/na4ev