JENDELAISLAM.ID – Barang siapa bermain api, maka bisa jadi ia akan terpercik api. Siapa menyebar kebohongan, suatu hari nanti akan menuai hasil kebohongannya.
Inilah pelajaran dari secuil kisah Tukang Binatu dan Tukang Periuk, yang kami kutip dalam “Abu Nawas dan Telur Unta,” karya Imam Musbikin.
***
Di sebuah daerah, ada seorang tukang binatu. Ia tinggal di sebuah rumah dan bertetangga dengan seorang tukang periuk. Rumah keduanya berdampingan namun sifat keduanya jauh berbeda.
Si tukang binatu tergolong shaleh, ramah dan rendah hati, tetapi si tukang periuk punya sikap sebaliknya. Tak heran bila si tukang binatu banyak mempunyai langganan dan disukai kawan-kawannya, sementara si tukang periuk tidak. Dari sini, rupanya diam-diam si tukang periuk kesal dan bermaksud jahat kepada tetangganya itu.
Kebetulan, suatu hari, raja yang memerintah negeri itu sedang mengadakan sayembara. Isi sayembaranya adalah barang siapa yang bisa membersihkan (memandikan) gajah miliknya hingga kulitnya putih bersih, bakal diberikan hadiah besar.
Kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh tukang periuk. Segera saja si tukang periuk menghadap raja. Tujuannya bukan hendak mengikuti sayembara unik tersebut melainkan memberitakan kabar bohong bahwa ada orang di kampungnya yang sanggup membersihkan gajah milik raja hingga kulitnya menjadi putih bersih. Orang yang dimaksudkan si tukang periuk tak lain adalah tukang binatu, tetangganya.
Sang raja tertarik ucapan si tukang periuk ini padahal sebenarnya ia tengah dipermainkan oleh kelicikan si tukang periuk. Kemudian raja segera memerintahkan pengawalnya untuk memanggil tukang binatu menghadap kepadanya.
Kontan saja, wajah tukang binatu pucat pasi begitu mengetahui maksud sang raja. “Maaf baginda, saya tidak bakal sanggup memandikan kulit gajah hingga menjadi putih? Saya hanyalah tukang binatu biasa, yang saya cuci setiap hari cuma pakaian. Saya tak mungkin bisa memenuhi permintaan baginda.”
Raja agaknya sudah termakan hasutan si tukang periuk. Beliau marah besar mendengar jawaban si tukang binatu yang dianggapnya plin-plan.
“Jebloskan dia di penjara!” perintah raja kepada para pengawalnya.
Sembari menangis, si tukang binatu mohon ampun. Tapi raja tak menggubrisnya.
“Ampun baginda…,” pinta tukang binatu.
Pelajaran untuk Tukang Periuk
Di dalam penjara, si tukang binatu memeras otaknya kira-kira siapa yang menghasut sang raja. Menurutnya, mustahil raja memerintahkan kepada dirinya untuk mengerjakan sesuatu yang tidak pernah disanggupinya bila tidak ada orang yang membuat berita bohong mengenai dirinya. Pastilah ada yang memanfaatkan dirinya sehingga fitnah ini mengantarkan dirinya ke dalam penjara.
“Ini pasti ulah si tukang periuk. Sebab kulihat waktu aku memohon ampun kepada raja, dia malah tersenyum-senyum senang,” batin tukang binatu soal kemungkinan siapa dalangnya.
Karena terpaksa dan hanya untuk membela diri, maka si tukang binatu berniat untuk memberi pelajaran kepada tukang periuk. Akhirnya, keesokan harinya, ia menyatakan kesanggupannya untuk memandikan gajah milik raja hingga putih bersih kulitnya.
“Tapi saya mengajukan syarat, baginda,” usul si tukang binatu.
“Katakan, apa syarat yang ingin engkau ajukan!” desak sang raja.
“Saya memerlukan periuk yang besar dan kuat agar mudah mencuci gajah milik baginda.”
Kepandaian si tukang periuk membuat periuk sudah terkenal di seluruh negeri. Karena itu, sang raja segera memintanya untuk membuatkan periuk besar dan kuat agar bisa dimasuki gajahnya.
Dengan sekuat tenaga, si tukang periuk berusaha memenuhi perintah sang raja. Tapi setiap kali membuatnya berakhir dengan kegagalan. Periuk yang dibuatnya tak kuat dimasuki gajah milik sang raja. Keringat dingin pun bercucuran membasahi tubuhnya.
“Ampun baginda…. Sebenarnya saya…,” kata tukang periuk merengek-rengek minta ampun.
“Diam kau!” potong sang raja.
Tubuh si tukang periuk menggigil. Karena gagal, si tukang periuk itu pun juga dijebloskan ke penjara atas perintah sang raja.
Beberapa hari kemudian, sang raja menengok keduanya di dalam penjara.
“Ketahuilah oleh kalian berdua,” ucap sang raja kepada tukang binatu dan tukang periuk, “Sesungguhnya kalian tidak bersalah. Coba kalian pikir, mungkinkah kulit seekor gajah bisa putih tanpa diberi warna? Begitu juga, mungkinkah ada sebuah periuk yang kuat untuk dimasuki gajah sebesar itu?”
“Oleh karena itu,” lanjut sang raja, “Aku bermaksud membebaskan kalian. Bahkan aku akan memberikan hadiah kepada kalian masing-masing sekantung emas. Tapi sebelumnya aku ingin tahu, akan kalian pergunakan untuk apa emas sebanyak itu?”
Keduanya hanya terdiam. Sang raja pun tahu bahwa keduanya masih bingung akan dipergunakan apa uang sebanyak itu. Karena itu, langsung saja keduanya dikeluarkan dari penjara dan diberi uang emas masing-masing sekantung.
Kebohongan Terbongkar
Seminggu kemudian sang raja memerintahkan keduanya menghadap.
“Aku tak tahu, siapa sebenarnya di antara kalian yang bersalah?” tanya raja.
“Demi Allah, dialah yang bersalah,” kata tukang periuk sambil menunjuk ke arah tukang binatu.
“Allah-lah yang tahu, siapa sebenarnya yang berbohong?” balas si tukang binatu.
“Dan kau, tukang periuk, untuk apa uang yang telah kuberikan itu?” tanya sang raja.
“Uang itu saya pergunakan untuk mengadakan pesta semalam suntuk sebagai tanda rasa syukurku memperoleh hadiah itu apalagi baginda juga sudi mengampuni kesalahan yang telah saya lakukan,” jawab si tukang periuk.
“Lalu untuk kau sendiri?” tanya sang raja kepada tukang binatu.
“Ampun baginda, saya tidak ingin bahagia sendirian karena sudah terbebas dari fitnah. Sebagian besar uang itu saya sedekahkan kepada para fakir miskin dan anak-anak yatim,” jawab si tukang binatu.
“Untuk kau sendiri?” tanya sang raja lagi.
“Hamba cuma membeli peralatan binatu yang lebih baik agar langganan saya puas dengan pekerjaan saya ini,” ujar tukang binatu merendah.
“Cukup!” kata baginda. Lalu raja berpaling ke tukang periuk, “Wahai tukang periuk, dari perkataanmu tadi, aku sekarang sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya yang bersalah selama ini tak lain adalah engkau. Sebab dari perkataanmu tersebut, secara tak langsung engkau juga telah mengakui kesalahan yang telah engkau lakukan. Karena itu, engkau aku beri hadiah lagi.”
“Hadiah apa baginda?” tanya si tukang periuk dengan gembira.
“Hadiah masuk penjara lagi. Sebab engkau telah menipuku dan memberitakan kabar bohong. Engkau mengatakan bahwa tukang binatu ini pernah berkata dirinya sanggup mencuci gajahku hingga kulitnya berwarna putih. Tapi setelah kutanya sendiri beberapa waktu lalu, si tukang binatu tidak pernah menyatakan seperti itu.”
“Ampun baginda. Memang sayalah yang bersalah.”
“Karena perbuatanmu itu, maka kau pantas masuk penjara lagi,” gertak sang raja, “Dan kau tukang binatu, sungguh mulia hatimu telah membantu para fakir miskin maupun yatim piatu. Karena itu, terimalah sekantung emas ini lagi. Aku percaya bahwa nilai emas ini tak sebesar pahala yang kelak akan kau terima dari Allah atas perbuatanmu tersebut,” ujar sang raja tersenyum bijaksana.
Walhasil, si tukang periuk dimasukkan penjara lagi, sementara si tukang binatu pulang membawa sekantung emas yang banyak.
Itulah balasan bagi yang bersalah maupun yang berbuat kebajikan, masing-masing sesuai dengan apa yang mereka perbuat.***
Sumber Foto: Pixabay/RDS2
