JENDELAISLAM.ID – Sihir sepak bola memang luar biasa. Bagaimana tidak, di setiap kali ada perhelatan sepak bola, terlebih partai big match, banyak orang begitu antusias menyambutnya. Bukan maniak bola saja yang menunggu pertandingan tersebut, orang yang kurang begitu menyukai bola pun ikut-ikutan menonton. Di antara mereka, tak sedikit yang menjadikan tontonan tersebut sebagai ajang pertaruhan.
Demi bola, orang rela mengorbankan jatah istirahatnya. Apapun caranya dilakukan agar mata tetap melek dan bisa menyaksikan pertandingan tersebut; dengan kopi, camilan, rokok dan sebagainya. Kalau pun ada yang ingin beristirahat dulu, alarm disetting sedemikian rupa agar bisa bangun menjelang pertandingan berlangsung. Dan jutaan mata memelototi layar TV saat pertandingan akbar sepak bola berlangsung.
Bagi maniak sepak bola akan merasa rugi bila ketinggalan atau bahkan sama sekali tidak menyaksikan pertandingan sepak bola akbar. Sebab atmosfernya jelas berbeda seseorang yang menonton secara live. Emosi dan fanatisme seseorang membaur menjadi satu hingga menontonnya punya greget tersendiri. Berbeda dengan menonton tayangan tunda, yang biasanya sudah mengetahui skor akhirnya melalui berita atau informasi-informasi lain, wajar jika gregetnya berkurang.
Partai final Liga Eropa antara Spanyol dan Inggris beberapa waktu yang lalu, misalnya, menjadi bukti nyata betapa banyak orang yang tersita perhatiannya pada partai puncak tersebut. Orang begitu enteng (tanpa beban) menghabiskan malam-malamnya (baca: begadang) untuk menunggu dan menyaksikan laga tersebut meski sampai Shubuh menjelang. Padahal banyak di antara mereka yang harus bekerja pada pagi harinya dimana mereka dituntut dalam kondisi fit dan fresh saat bekerja. Dengan begadang semalaman tentu secara tidak langsung berdampak pada kinerja orang pagi harinya.
Pertandingan sepak bola seperti punya magnet yang luar biasa, mengalahkan segalanya. Meski alarm hanya berbunyi sekali saja, orang bisa segera bangkit agar tidak ketinggalan partai tersebut. Tapi anehnya untuk menjalankan shalat tahajjud, begitu malas bangun meski alarm yang disetting sudah berbunyi berulang kali. Paling hanya membiarkan begitu saja atau bangkit untuk mematikan alarm tersebut, bukan untuk berwudhu kemudian bermunajat.
Sungguh pemandangan yang sangat kontras. Untuk sebuah pertandingan bola yang tidak ada nilainya di hadapan Allah, hanya untuk memuaskan dahaga batinnya semata, orang mau berkorban habis-habisan; korban waktu, korban istirahat bahkan korban harta benda.
Sebaliknya untuk menunaikan shalat sunnah tahajjud, yang dampaknya juga sangat positif bagi kesehatan tubuh asalkan dilakukan sesuai dengan anjuran Nabi dan punya nilai plus di hadapan Allah, rasa malas itu menyerang. Mata tertutup rapat-rapat.
Ini jelas memunculkan pertanyaan mendasar, apakah ini bagian dari ulah syetan yang terus memperdaya manusia di bumi agar mau mengikuti jejaknya ataukah hanya kemalasan seseorang semata karena menjalankan shalat tahajjud hanya buang energi saja atau mengganggu tidur kita?
Ya, bila orang berpikir picik bahwa shalat hanyalah untuk menggugurkan kewajiban belaka, bukan menjadi kebutuhan layaknya kebutuhan makan, minum, kesehatan dan sebagainya, tentu mengerjakan shalat apalagi hanya sunnah akan buang-buang waktu dan mengganggu tidur saja.
Sebaliknya bila orang menilai bahwa shalat sudah menjadi kebutuhan pokok, yang bila tidak dipenuhi akan berpengaruh aktivitas keseharian seseorang, maka perkara-perkara sunnah sebagai pelengkap wajib adalah hal yang sangat penting pula.
Analoginya adalah orang sudah bisa makan, minum, dan sudah punya pakaian pula, begitu pula harta, tapi semuanya masih pas-pasan karena sebatas kelangsungan hidup. Makan, minum seadanya, begitu pula pakaian yang dikenakan; lantas tidak inginkah seseorang berpakaian yang lebih baik dari yang sudah ada, tidak inginkah orang bisa membantu orang lain yang membutuhkan?
Shalat tahajjud juga demikian, meski sunnah punya nilai plus. Plus di mata Allah, juga plus bagi kesehatan orang yang mengerjakannya karena buktinya banyak orang yang yang melanggengkan tahajjud secara medis, kesehatannya lebih baik dari sebelum mengerjakannya. Baik jasmaninya, baik rohaninya. Insyaallah!
Sumber Foto: Pexels/RF. Studio
