Pondok Pesantren  Annuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura: Peduli Lingkungan dan Ekonomi Masyarakat

JENDELAISLAM.ID – Santri belajar ilmu agama sudah biasa, tapi santri memulung sampah-sampah plastik itu hal tak biasa. Tapi inilah yang dilakukan para santri Pondok Pesantren Annuqayah.

Mereka memanfaatkan sampah-sampah plastik yang sulit terurai sebagai kerajinan tangan.  Tidak saja mengurangi sampah di lingkungan sekitar, tetapi lebih dari itu membantu menyelamatkan bumi dari ancaman bahaya sampah plastik yang terus bertambah.

Mereka memilah-milah dan membersihkan lebih dulu sampah plastik sebelum disulap menjadi kriya kerajinan tangan yang cantik dan unik, seperti: tas, tempat pensil, tempat laptop serta dompet.

Demikianlah salah satu kegiatan yang dilakukan santri-santri Annuqayah. Bukan hanya belajar ilmu agama atau pengetahuan saja di lembaga pendidikan formal, tetapi juga punya kepedulian terhadap lingkungan. Sebab dimata mereka, kerusakan bumi ini salah satu penyebabnya, manusia tidak bersahabat dengan alam.

Sebenarnya itu hanyalah bagian kecil dari aktivitas santri Annuqayah. Ada banyak program yang sangat mendukung dan  bermanfaat bagi santri dan masyarakat luas.  Pesantren ini memang punya perhatian lebih terhadap lingkungan dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Ini disadari betul oleh pesantren lantaran kegiatan keberagamaan masyarakat tidak akan efektif bila tidak didukung oleh keadaan ekonomi yang layak.  Oleh karena itu, pesantren bersama masyarakat juga terus mengembangkan teknologi tepat guna;  seperti: filterisasi/penjernihan air, pompa hydram, mesin penetas telur,  atap ijuk semen,  pompa tali, alat pemipil jagung, dan sebagainya.

Sejarah Annuqayah

Pesantren Annuqayah yang berlokasi di desa Guluk-guluk, Kecamatan Guluk-guluk Kabupaten Sumenep ini merupakan pesantren tua. Tahun 1887, pesantren ini lahir. Pendirinya adalah KH. M. Syarqawi, asli dari Kudus Jawa Tengah.              

Sebelum mendirikan pesantren ini, Kyai Syarqawi pernah menuntut ilmu di berbagai pesantren di Madura, Pontianak, Malaysia, Pattani (Thailand Selatan), dan bermukim di Makkah.

Pengembaraan dalam menuntut ilmu tersebut berlangsung dan kurun waktu sekitar 13 tahun lamanya. Dalam kiprahnya menyebarkan ilmu, Kyai Syarqawi mula-mula membuka pengajian al-Qur’an dan kitab-kitab klasik di Prenduan Sumenep. Empat belas tahun kemudian, Kyai Syarqawi, bersama dua isterinya, dan KH. Bukhari(putra dari isteri pertama) pindah ke Guluk-guluk dengan maksud mendirikan sebuah pesantren.

Berkat bantuan saudagar kaya bernama H. Abdul Aziz, beliau diberi sebidang tanah. Di atas tanah itu, beliau mendirikan rumah sebagai tempat tinggal dan sebuah langgar. Di langgar inilah, Kyai Syarqawi mulai mengajar membaca al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama, dan di tempat itu pula cikal-bakal PP Annuqayah bermula. Tempat ini kemudian disebut Dalem Tengnga.

Selain itu, beliau juga membangun tempat tinggal untuk isterinya yang ketiga, Nyai Qamariyah. Letak rumah ini berjarak sekitar 200 meter ke arah barat dari DalemTengnga. Di kemudian hari, kediaman Nyai Qamariyah ini dikenal dengan nama Lubangsa.

Setelah sekitar 23 tahun Kyai Syarqawi memimpin Pesantren Annuqayah, Kyai Syarqawi berpulang ke rahmatullah pada tahun 1911. Tampuk kepemimpinan kemudian berada pada putranya dari isteri pertama, KH. Bukhari, dibantu oleh KH. Moh. Idris dan KH. Imam.

Sejak tahun 1917, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh salah seorang putra Kyai Syarqawi, yakni KH. Moh. Ilyas. Pada masa inilah, Annuqayah mengalami banyak perkembangan, seperti pola pendekatan masyarakat, sistem pendidikan, dan pola hubungan dengan birokrasi/pemerintah.

Perkembangan penting lain yang terjadi adalah ketika Kyai Abdullah Sajjad, saudara Kyai Ilyas, membuka pesantren sendiri pada tahun 1923. Tempat baru itu dikenal dengan nama Latee, letaknya berjarak sekitar 100 meter di sebelah timur kediaman Kyai Ilyas.

Sejak Kyai Abdullah Sajjad membuka pesantren sendiri, pesantren-pesantren daerah di Annuqayah terus berkembang dan bermunculan, sehingga sekarang Annuqayah tampak sebagai “pesantren federasi” (gabungan dari beberapa kepengasuhan).

Setelah Kyai Ilyas wafat tahun 1959, kepemimpinan selanjutnya berbentuk kolektif. Kepemimpinan ini terdiri dari para kyai sepuh seperti: KH. Moh. Amir Ilyas(w. 1996), dan kemudian dilanjutkan oleh KH. Ahmad Basyir AS.

Perkembangan Annuqayah

Tahun 1972, Annuqayah telah terdiri dari lima daerah (kepengasuhan) yang seluruhnya diasuh oleh keturunan dan menantu Kyai Syarqawi, yaitu Lubangsa,  Latee, Nirmala, al-Furqan, Lubangsa Selatan.   

Selain pendidikan formal, pengajaran dengan sistem lama, wetonan dan sorogan, tetap berlangsung.

Selama hampir 20 tahun (sejak tahun 1950), perkembangan Pesantren Annuqayah sangat lambat. Tidak ada perubahan signifikan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Perkembangan Annuqayah kembali pesat setelah periode itu hingga tahun 1980-an akhir (jumlah santri sekitar 3.543 orang dengan 210 ustadz).

Sampai saat ini, Pesantren Annuqayah telah berkembang menjadi 26 daerah (santri 3.888). Pesantren Annuqayah memberikan hak otonom dan kedaulatan kepada daerah-daerah tersebut untuk mengelola sendiri.  

Hanya saja, ada beberapa faktor yang mengikat seluruh daerah menjadi satu kesatuan integral. Pertama, masing-masing daerah dipimpin oleh saudara seketurunan dari pendiri pesantren ini.

Kedua, hampir seluruh santri belajar di sekolah formal yang dikelola secara kolektif, mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi.

Ketiga, semua santri mengikuti program-program yang dilaksanakan oleh Pondok Pesantren Annuqayah.

Keempat, seluruh daerah berada dalam satu kepengurusan (kelembagaan).

Kegiatan-kegiatan Pesantren

Meski lahir sebelum abad 20, namun pendidikan dengan sistem kelas/sekolah di Pesantren Annuqayah baru dimulai pada tahun 1933, pada masa KH. Khazin Ilyas setelah menamatkan studinya di Pesantren Tebuireng Jombang. Saat itu kondisinya masih sederhana dan baru tiga kelas yang kurikulumnya sederajat dengan tingkat madrasah tsanawiyah.

Perubahan ini ditindaklanjuti oleh KH. Moh. Mahfoudh Husaini (menantu KH. Abdullah Sajjad), dengan melakukan perubahan sistem pendidikan di Pondok Pesantren Annuqayah, dari sistem pendidikan madrasah salafi menjadi pendidikan madrasah formal. Maka pada tahun 1951, didirikanlah madrasah tsanawiyah.

Selanjutnya, pada masa KH. M. Amir Ilyas, Madrasah Tsanawiyah diubah menjadi Madrasah Muallimin. Namun akhirnya, untuk menyesuaikan dengan peraturan pemerintah, pada tahun 1979 Madrasah Muallimin diubah menjadi Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Pada tahun itu pula, ada 3 jenjang pendidikan (madrasah) di Annuqayah, yaitu MI, MTs, dan MA.

Untuk melengkapi pendidikan formal yang ada, pada tanggal 13 Oktober 1984, Pondok Pesantren Annuqayah mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dengan satu fakultas, yakni fakultas syariah.

Baru pada tanggal 5 September 1986, PTAI ini diubah menjadi STISA (Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Annuqayah). Kemudian pada tahun berikutnya, Pondok Pesantren Annuqayah membuka satu fakultas baru, yaitu fakultas tarbiyah dengan nama STITA (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Annuqayah).

Penggabungan dua fakultas terjadi pada tahun 1996. Fakultas syariah (STISA) dan fakultas tarbiyah (STITA) dijadikan satu di bawah nama Sekolah Tinggi Agama Islam (STIKA) dengan status terakreditasi pada bulan Nopember 2000.

Pada tahun 1986, semakin lengkaplah jenjang pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Annuqayah dengan didirikannya Taman Kanak-kanak “Bina Anaprasa” dengan bekerjasama dengan Japan International Exchange of Culture (JIEC).

Dari semua jenjang pendidikan formal yang ada, sebagian besar menggunakan kurikulum Departemen Agama yang dipadukan dengan kurikulum lokal Pondok Pesantren Annuqayah.  

Sementara pendidikan non-formal, selain mengembangkan tradisi pendidikan wetonan dan sorogan pada jam-jam di luar pendidikan formal, yaitu mengkaji kitab-kitab kuning, juga mengembangkan pendidikan semi-formal dengan digalakkannya Madrasah Diniyah.

Madrasah ini dikembangkan oleh masing-masing daerah yang ada di Pondok Pesantren Annuqayah yang dilaksanakan pada malam hari (dari ba’da Maghrib sampai dengan jam 20.30 WIB) dan diwajibkan bagi semua santri.

Pengelolaan pendidikan bersifat murni, mandiri, dan tanpa menggantungkan pada pihak mana pun, baik pengelolaan hingga dengan kurikulum yang dipakai. Kurikulum rujukan merupakan kurikulum yang dibuat sendiri oleh Pondok Pesantren Annuqayah dengan materi pelajaran khusus keagamaan. Adapun jenjang yang ada selama ini adalah dari tingkat awwaliyah (dasar; 6 tingkat kelas) dan tingkat wustha (menengah; 3 tingkat kelas).

Kegiatan ekstra-kurikuler pun banyak pilihan. Santri bisa menekuni berbagai kegiatan yang diadakan; seperti: kepramukaan, Markaz Dirosah al-Lughah al-Arabiyah (Pengembangan bahasa Arab), English Education (pengembangan bahasa Inggriskerjasama dengan The Asia Foundation dan Volunteers in Asia (VIA), kursus komputer,  tailor, fotografi, Jam’iyyatul Qurra’  (pengembangan bakat santri dalam tilawatil Qur’an serta dapat melatih suara dan seni membaca Qur’an yang baik), serta sanggar seni (untuk menyalurkan potensi dan bakat santri di bidang seni).

Khusus sanggar seni, dari tahun ke tahun bahkan menunjukkan perkembangan yang berarti. Di antara sanggar-sanggar seni yang ada dan tetap bertahan hingga saat ini, antara lain adalah: Andalas, Sanggar Kreasi Seni Islami (SaKSI-putra), (putra), Nurani (putra), Al-Zalzalah (putri), “Pajjer Laggu” (putri) dan Jejak (putri), Bengkel Puisi Annuqayah, Padi, Basmalah, Sabda, Gendewa, dan CTL Pamor.

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pun juga beragam, dari kegiatan-kegiatan pementasan drama/teater, antologi puisi, pertunjukan seni, sampai dengan kegiatan bedah buku dan forum diskusi sastra.

Kegiatan Ekonomi dan Pengembangan Masyarakat

Satu hal yang penting dan dilakukan pesantren adalah kegiatan ekonomi dan pengembangan masyarakat. Sebagai institusi keagamaan, Annuqayah merasa punya tanggung jawab terhadap ekonomi masyarakat.

Upayanya adalah dengan menggiatkan usaha-usaha produktif yang melibatkan masyarakat, di antaranya adalah usaha pertokoan dan jasa,  pertanian/perkebunan, peternakan, industri rumah tangga yang berbasis pada hasil pertanian serta  usaha pertambakan.

Usaha pertokoan, terdiri dari toko alat-alat sekolah, toko kain dan konveksi, dan toko kelontong yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Seluruh usaha pertokoan ini terletak di luar lokasi pesantren dan dioperasikan oleh ustadz pesantren yang telah berkeluarga dan anggota masyarakat binaan pesantren.

Di bidang pertanian, pesantren ini menggarap tanaman-tanaman palawija; seperti: (jagung dan kedelai), tanaman hortikultura (bawang, serta cabe dan merica yang berlokasi di beberapa desa di Kecamatan Guluk-Guluk).

Sedangkan perkebunan, yaitu kebun mente di dua desa, masing-masing kebun Assalam seluas 20 hektar dan 6 hektar.  Di bidang peternakan, ada ternak ayam ras dan buras terdapat di tiga kecamatan di Sumenep. Yang lainnya adalah ternak sapi (sebanyak 28 ekor) dan terletak di tiga dusun di kecamatan Guluk-Guluk.

Begitu banyak hal yang dilakukan oleh PP Annuqayah, tak salah bila pesantren ini memberikan kontribusi besar bagi masyarakat Guluk-guluk Sumenep Madura dan sekitarnya.  Annuqayah membukakan mata hati kita betapa institusi ini berperan penting dalam kehidupan masyarakat, baik dalam lingkungan maupun kesejahteraan masyarakat.***

Sumber Foto: FB/PP Annuqayah