JENDELAISLAM.ID – Hari demi hari, perempuan semakin menunjukkan eksistensinya. Perannya tidak hanya terbatas pada ranah domestik belaka, sebagai isteri bagi suami dan ibu bagi anak-anak.
Kini, perempuan yang memasuki wilayah publik sudah menjadi pemandangan umum. Kehadiran mereka telah banyak mewarnai di segala lini, baik sosial, politik, budaya, pendidikan, agama dan sebagainya.
Banyak di antara mereka yang meniti karir sebagai karyawan kantor, menelateni wiraswasta, pengusaha bahkan politikus. Hingga kesan bahwa perempuan yang sebelumnya banyak bergantung pada suami dalam memenuhi kebutuhannya, perlahan sirna seiring dengan banyaknya perempuan yang terjun di ranah publik.
Di satu sisi, perkembangan ini tentu menggembirakan karena dengan demikian mereka setara dengan laki-laki, tidak seperti anggapan sebagian masyarakat sebelumnya yang cenderung memposisikan perempuan sebagai kaum inferior. Dalam konteks ini, tentulah karir atau pekerjaan akan menjadi nilai plus tersendiri bagi perempuan.
Akan tetapi di sisi lain, mereka punya kehidupan yang juga lebih penting yakni keluarga. Bagi perempuan yang masih lajang, mungkin perhatian, energi serta pikirannya bisa tercurahkan pada pekerjaan hingga tak menghadapi masalah yang dilematis. Namun tidak bagi perempuan yang sudah berkeluarga karena ia memainkan peran sebagai ibu bagi anak-anaknya sekaligus isteri bagi suaminya.
Dalam kondisi seperti ini, perempuan yang sudah berkeluarga dan berkarir mesti bisa mengelola dengan baik dan penuh tanggung jawab. Jangan sampai gara-gara mengejar karir, keluarga yang menjadi tanggung-jawabnya justru terbengkalai, bahkan kadang menyulut keretakan keluarga karena egoisme semata. Tidak sedikit, keluarga menjadi berantakan lantaran suami bekerja, isteri bekerja pula sehingga perhatian terhadap anak bukan saja berkurang tapi juga terabaikan.
Selagi pekerjaan itu bisa dilakukan di rumah sehingga anak tetap mendapatkan bimbingan dan pengawasan langsung dari orang tuanya, ini mungkin tak jadi soal. Tapi kalau pekerjaan itu menyita banyak waktu di luar sehingga perhatian terhadap keluarga, –suami dan anak– berkurang, tentu dilematis.
Nah, yang terpenting adalah bagaimana seorang perempuan tetap bisa bekerja dan tetap bisa menyelenggarakan urusan rumah tangga dengan baik?
Perempuan Boleh Bekerja
Pada prinsipnya, Islam tidak melarang wanita beraktivitas di luar rumah. Selagi pekerjaan itu boleh menurut tuntunan agama, tidak ada larangan baginya berkiprah di dalamnya.
Hanya saja seorang wanita yang memutuskan untuk berkarir mesti benar motivasinya. Niatnya harus benar-benar demi kebaikan, seperti membantu ekonomi keluarga atau ingin mengabdikan diri pada agama, bangsa dan negara dan sebagainya.
KH. Ali Yafie, dalam buku “Memposisikan Kodrat”, berpendapat sama. Kalau menjadi kepala negara saja boleh, –seperti yang terjadi di Pakistan, Bangladesh dan Turki–, apalagi dalam bidang-bidang yang lebih ringan, menjadi perempuan karir misalnya.
Pada zaman Rasulullah SAW, ada seorang sahabat bernama Abdullah bin Mas’ud dan isterinya bernama Zainab Tsaqafiyah. Mereka memiliki banyak anak sedang kondisi ekonomi mereka sangat sulit. Zainab kemudian memutuskan untuk membantu suaminya dengan cara wiraswasta.
Dengan kesibukan barunya, Zainab tetap dapat mengatur rumah tangga dengan baik dan melaksanakan ibadah secara baik. Ia juga dapat membantu perekonomian orang-orang yang membutuhkan. “Apakah dengan profesi baruku aku mendapatkan pahala di sisi-Nya?” kata Zainab pada suaminya.
Abdullah menyuruh isterinya menghadap Nabi SAW untuk menanyakan hal tersebut. Kemudian Zainab menyampaikan uneg-unegnya kepada Bilal agar mau menanyakan kepada Rasulullah tentang masalah yang dihadapinya.
Sekembalinya dari menemui Rasulullah, kemudian Bilal berkata, “Rasulullah telah bersabda, “Dengan profesi baru tersebut, kalian telah mendapatkan dua pahala. Pertama, pahala karena berinfak di jalan Allah SWT. Kedua, pahala karena membantu keluarga (suami dan anak) yang merupakan salah satu perwujudan silaturahmi”.
Dari sini jelas, tak ada masalah bagi perempuan yang bekerja. Agama menggarisbawahi asalkan tugas utama dalam keluarga tetap berjalan sebagaimana mestinya. Antara keluarga dan karir mesti sejalan beriringan. Dengan bekerja bisa menopang kehidupan rumah tangga lebih baik. Dengan bekerja, perhatian dan kasih sayang terhadap keluarga bertambah mesra. Begitu pula, tak mengurangi komunikasi dan sikap saling memahami antara isteri, suami, dan anak.
Sesibuk apapun seorang ibu harus memperhatikan keadaan di rumah. Seperti soal masakan, kebersihan rumah, perhatian kepada suami dan anak-anak. Bisa saja masalah masakan menjadi pekerjaan pembantu, namun sang isteri tetap bertanggung jawab mengontrol dan tidak menyerahkan sepenuhnya kepada pembantu.
Walau anak masuk di sekolah favorit dengan biaya tinggi, namun ibu tidak serta-merta melepaskan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah. Karena pembantu dan sekolah pada dasarnya hanya membantu saja, bukan penanggung jawab utama. Tanggung jawab utama tetap diemban oleh orang tua.
Bila semua kewajiban dan tanggung jawab itu bisa dijalankan bersama dengan baik, antara suami-isteri, tentu lebih indah. Dengan demikian, pekerjaan perempuan tidak menghambat urusan rumah tangga sehingga tetap berjalan di atas rel-rel kebenaran.
Namun kalau kondisinya justru berbalik. Artinya kalau pekerjaan ibu di luar rumah itu mengakibatkan komunikasi dalam keluarga menjadi renggang, kasih sayang berkurang, atau malah secuil masalah bisa mendatangkan pertengkaran, tentu perlu ada koreksi.
Dalam Islam, tugas utama yang ada di pundak perempuan adalah keluarga, khususnya masalah pendidikan anak. Jika terjadi kontradiksi antara keluarga dengan karirnya, keluargalah yang mesti mendapat prioritas.
Menurut Ust. Aan Rohanah, sebagaimana dilansir eramuslim.com, seorang perempuan harus memahami pentingnya keseimbangan, keseimbangan antara hak dan tugas pribadinya.
Lanjutnya, perempuan harus pandai mengatur waktu, dan mengatur mana kewajiban yang lebih utama, yang lebih bermaslahat, yang lebih banyak pahalanya. Peran wanita yang utama adalah membentuk keluarga yang sakinah. Karena itu, seorang wanita tidak mungkin dapat berkarir dengan baik tanpa dilandasi dengan keluarganya yang harmonis.
Tips Bagi Perempuan Pekerja
Menunaikan dua tugas sekaligus, yakni berperan sebagai ibu rumah tangga dan pekerjaan di luar, tidaklah ringan. menjaga keseimbangan dengan penuh tanggung jawab menjadi keharusan. ini pula yang pernah dicontohkan siti khadijah, seorang pengusaha yang sukses. nabi SAW sendiri pernah bekerja pada Khadijah sebelum menikahinya.
Jasa Khadijah sangat besar terhadap perkembangan Islam, sebab dengan dukungan beliaulah, baik moral maupun materi, Nabi dapat berkonsentrasi melakukan dakwah Islam.
Tak perlu berkecil hati jika mampu menyeimbangkan kedua urusan yang sama-sama penting tersebut.
Berikut beberapa tips yang bisa membantu untuk menyelesaikan problem yang dihadapi oleh perempuan karir:
1. Menjelaskan kepada seluruh keluarga bahwa urusan keluarga dan kerja adalah dua hal yang sama penting. Diskusikan bersama bagaimana caranya agar kepentingan keluarga dan pekerjaan di kantor tak terabaikan. Atur sedemikian rupa agar pekerjaan tak mengganggu kepentingan keluarga.
2. Bekerja secara profesional. Waktu di kantor, maksimalkan untuk bekerja menyelesaikan garapan, waktu di rumah peruntukkan buat keluarga. Boleh saja mengerjakan di rumah, tapi jangan sampai pekerjaan itu benar-benar menyita waktu keluarga karena anggota keluarga pun menantikan kebersamaan dan kehangatan tatkala ada di rumah.
3. Sesekali ajaklah keluarga untuk bermain dan bersantai. Saat ada waktu cukup leluasa, tak ada salahnya mengajak bersama keluarga untuk menikmati kebersamaan mereka di luar rumah. Selain menghidupkan suasana keluarga agar lebih akrab dan harmonis, juga dapat menyegarkan pikiran kembali dari kesibukan pekerjaan di kantor yang tiada habisnya.
4. Jangan menunda-nunda pekerjaan. Efisiensi sehingga masih punya banyak waktu untuk keluarga.***
Sumber Foto: Pixabay/Ben_Kerckx
