Masjid Merah Panjunan: Tempat Menyusun Strategi Dakwah di Tanah Cirebon

JENDELAISLAM.ID – Masjid ini merupakan salah satu artefak sejarah yang mewarnai perjalanan penyebaran Islam di tanah Cirebon selain Masjid Sang Cipta Rasa, Masjid Jagabayan Karanggetas, dan Masjid Pajlagrahan. Tak ayal, masjid ini pun menarik minat banyak orang. Entah untuk tujuan wisata reliji maupun tujuan penelitian.

Berada di tengah padatnya pemukiman penduduk yang dihuni oleh kebanyakan keturunan Arab serta pesatnya kemajuan jaman tidak menjadikan keberadaan masjid ini tersisih.

Lokasi masjid berada di tengah kota, tepatnya di jalan Kolektoran, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Masjid ini tetap eksis dan terawat dengan rapi.

Sejarah dan Arsitektur Masjid

Sebenarnya nama resmi masjid ini adalah Masjid al-Athiyah. Namun masyarakat Cirebon lebih suka menyebut Masjid Merah Panjunan karena dinding masjid dibangun dari susunan batu-bata merah hingga pagar yang berbentuk seperti benteng juga terbuat dari batu merah.

Sementara nama Panjunan diambilkan dari nama kampung tempat masjid ini berada.

Pembangunan masjid ini tidak bisa dilepaskan dari migrasi keturunan Arab ke Cirebon sekitar abad ke-15. Salah seorang keturunan Arab bernama Syarif Abdurrahman (Pangeran Panjunan) berniat membangun surau di tempat ini, yang waktu itu masih berupa hutan belantara.

Ia meminta izin penguasa Cirebon, Pangeran Cakrabuana, untuk membangun tempat peribadatan di daerah Panjunan. Surau ini kemudian dibangun pada tahun 1480.

Surau yang dibangun 18 tahun sebelum pembangunan Mesjid Agung Sang Cipta Rasa ini kemudian dikenal dengan nama Masjid Merah Panjunan.

Pada masa Sunan Gunung Jati (1479 – 1568), masjid itu sering menjadi tempat pengajian dan perundingan Walisanga untuk mengatur strategi penyebaran agama Islam di Jawa. Dan pada perkembangan selanjutnya, masjid juga menjadi pusat strategi melawan penjajahan.  

Kala penjajah mulai menancapkan cengkeramannya di beberapa wilayah Indonesia, masjid ini –yang diprakarsai para ulama– mengambil peran cukup penting sebagai tempat untuk mengatur strategi.

Adapun arsitektur bangunan Masjid Merah sebenarnya tidak berbeda dengan bangunan-bangunan lain yang kebanyakan masih menganut gaya Hindu dengan atap berbentuk joglo. Semua dindingnya berasal dari batu bata merah tanpa perekat semen dan dicat dengan tanah merah.

Kayu penyangga atap terdiri dari kayu jati yang kini masih tampak kuat dan belakangan dipolitur kembali agar tetap terlihat indah sesuai dengan aslinya. Di sepanjang dinding bagian dalam masjid yang berasal dari batu-bata merah berjajar ornamen-ornamen piring keramik dari China dan Eropa yang coraknya bermacam-macam.

Pintu masjid tergolong rendah, tidak sampai 1,5 m. Ini dimaksudkan agar orang yang masuk ke masjid menundukkan badannya, tanda kerendahan hati.

Awal dibangun hanya berukuran 9 x 7 m.  Setelah mengalami pemugaran, luas masjid menjadi 15 x 12 m. Masjid yang masih kelihatan kental dengan budaya China dan Timur Tengah itu kini tampak masih terjaga keasliannya.

Meski tak lagi digunakan untuk shalat Jum’at, karena kapasitasnya terbatas, namun kegiatan keagamaan untuk memakmurkan masjid tetap berlangsung dengan baik. Shalat berjamaah lima waktu sehari masih dilakukan di masjid ini. Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan pengajian secara rutin berlangsung di sini.

Dinding dan pagar luar masjid berbentuk semacam benteng terbuat dari bata merah juga. Pintu gerbang masuk berbentuk candi bentar dengan pintu panel jati berukir. Akan tetapi bila diperhatikan, dua gapura sebagai pintu masuk masjid ini ternyata berbeda. Satunya mirip dengan gerbang di Kanoman dan satunya lagi mirip dengan gerbang Kasepuhan.

Di sudut kiri depan masjid terletak menara masjid yang dibangun tahun 1978. Lalu kentongan dibuat pada tahun 1963. Atap sirap mengalami penggantian tahun 2001 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar.

Keunikan Lain

Tak hanya keunikan arsitekturnya saja yang bisa kita lihat di masjid ini, akan tetapi Masjid Merah juga memiliki sajian kas yang hanya ada saat bulan puasa yakni kopi arab atau Gahwa yang biasa disuguhkan hanya di bulan Ramadhan.

Gahwa dibuat oleh warga keturunan Arab di Kampung Panjunan.

Hidangan kopi yang dicampur jahe itu memberikan rasa tersendiri bagi peminumnya. Selain ada rasa manis, ada pula rasa kopi dengan cita rasa pahitnya. Selain itu, ada juga rasa jahe dengan kehangatan yang mampu diberikannya. Aroma rempah-rempah dari kopi itu sungguh mengundang selera. Tradisi minum gahwa itu telah berlangsung saat masjid tersebut didirikan pertama kali.

Selain kopi jahe khas Arab, pengurus masjid juga menyediakan minuman teh. Namun, teh itu pun merupakan teh khas Arab, yang berbeda dengan teh yang biasa kita minum sehari-hari. Kedua jenis minuman ini semakin bertambah nikmat karena ditemani dengan sejumlah penganan, seperti tamir (sejenis roti panggang), kurma, kue apem, dan beberapa jenis kue lainnya.

Minuman dan penganan yang tersaji setiap hari selama bulan suci Ramadhan itu, berasal dari sumbangan komunitas Arab, yang sebagian besar memang tinggal di daerah tersebut.  

Meski telah berusia ratusan tahun, masjid ini tak lapuk ditelan zaman dan tak lekang ditelan waktu. Keberadaannya turut memberikan kontribusi penting bagi penyebaran Islam di babad Cirebon.

Mudah-mudahan kesederhanaan serta keasliannya akan terus terpelihara sepanjang masa agar masyarakat bisa meneladani perjuangan para ulama serta terus memakmurkan masjid ini sebagaimana cita-cita para ulama yang mendirikan masjid ini.***