Ramadhan Kita Loyo, Perbaikilah supaya Lebih Bertenaga

JENDELAISLAM.ID – Sebagai umat Islam, puasa Ramadhan tentu kita lakukan. Menahan lapar, dahaga, amarah, serta sabar kita jalani. Bukan itu saja, beberapa kebajikan, seperti: bersedekah, mengaji, shalat tarawih, shalat tahajjud, mendaras al-Qur’an dan sebagainya, mungkin juga tidak jarang kita amalkan.

Semua itu sangat mulia. Sayangnya, kemuliaan selama Ramadhan itu seakan tak berdampak pada sikap dan perilaku kita sesudahnya. Sebab begitu selesai Ramadhan, kita kerap kembali ke kebiasaan semula.

Mushaf yang sering kita baca di bulan Ramadhan tidak kita baca lagi, taklim dan shalat berjamaah yang kita ikuti juga kita tinggalkan. Malah terkadang tidak sedikit di antara kita yang kembali angkuh, suka menipu, mencuri, menindas, korupsi, dan kembali pada sikap buruk lain. Dan rupanya, ”keshalehan ritual” tersebut belum mewujud pada ”keshalehan akhlak” kita. Ini sungguh menyedihkan.

Apa mungkin karena kita menganggap puasa itu rutinitas tahunan belaka, ikut-ikutan atau mungkin agar kita dianggap sebagai seorang Muslim –dengan harapan status sosial terangkat–, atau mungkin parahnya, kita beranggapan bahwa dosa yang kita ’tumpuk’ sekian lama bisa lebur dengan menjalankan amalan di bulan Ramadhan sehingga tak apalah kembali pada kebiasaan semula.

Apabila ini cara pandang kita, tentu sangat naif dan picik. Sebab semestinya kebaikan yang kita tanamkan selama Ramadhan itu bisa berkelanjutan.

Menurut Dr. Syamsul Yakin, penulis buku The Power of Ramadhan, puasa Ramadhan bukanlah bulan kepura-puraan: pura-pura shalat berjamaah, pura-pura bertadarus, pura-pura peduli dhuafa, pura-pura dermawan bahkan pura-pura mencintai Allah dan Rasul-Nya. Puasa yang benar, sudah jelas dinyatakan Allah akan menjadikan seorang menjadi takwa.

Tapi kalau kelakuan kita belum berubah, predikat takwa tentulah tidak layak untuk disandang. Kita harus berkaca, apakah puasa kita punya nilai dan makna atau justru sebaliknya?  Bila merasa belum memberikan perubahan dan perbaikan, pasti ada yang tidak beres dalam diri kita.

Puasa seperti ini dapat dikatakan tidak ada power atau tidak bertenaga. Kita berpusa, namun sejatinya loyo karena ketidaksanggupan kita melawan ”akhlak madzmumah” yang selama ini disadari atau tidak kerap kita peragakan.

Puasa kita masih sebatas rutinitas atau ikut-ikutan. Padahal bertakwa bukan hanya saat berpuasa, tapi kapan pun dan di manapun.

Begitu pula kebaikan yang ditanam di bulan Ramadhan, seyogyanya mampu mengawal kepribadian dan tingkah laku dalam sebelas bulan ke depan. Harusnya kita puasakan juga mata, telinga, hidung, mulut, kaki, tangan, kemaluan, dan hati di setiap waktu.

Mungkin kita harus merenung lebih dalam, kenapa puasa yang kita lakukan selama ini masih terasa hambar, seakan tak punya efek dan masih jauh dari kata ”takwa”.

Tapi ya sudahlah,  yang sudah berlalu biarlah menjadi pelajaran berharga.

Sekarang, teguhkan niat! Kita perbaiki, puasa kita yang masih loyo agar punya ’power’ sehingga berpengaruh baik pada keperibadian kita.

Tak perlu bertanya soal predikat takwa, karena yang terpenting adalah nilai Ramadhan tertanam dan menjadi tuntunan di kehidupan sehari-hari.***

Sumber Foto: Pexels/Pok Rie