Misteri Sang Penolong Gubernur

JENDELAISLAM.ID – Pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik, ada seorang lelaki bernama Khuzaimah bin Basyar. Ia dikenal sangat dermawan dan baik budi. Hidupnya makmur dengan kekayaan melimpah. Kawan-kawannya dan kaum fakir miskin selalu datang dan ikut menikmati kekayaannya.

Namun roda terus berputar, hingga suatu waktu sang dermawan jatuh miskin. Penderitaannya semakin bertambah ketika teman-temannya yang dulu sering datang untuk meminta pertolongan padanya malah menjauhi, sama sekali tak mau mengerti.  

“Isteriku, sekarang sudah berubah. Karena itu, aku berniat berdiam diri dalam rumah hingga datang ajalku,” katanya pada sang isteri.

Mulai saat itu, ia menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Untuk memenuhi kebutuhan makannya, ia menghabiskan kekayaannya yang masih tersisa. Kebetulan, Ikrimah al-Fayyadh, Gubernur al-Jazirah (sebutan lama untuk wilayah sebeluh utara Sungai Tigris dan Eufrat) yang sedang berkumpul bersama tokoh masyarakat mendengar nama Khuzaimah disebut-sebut.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Sang Gubernur.

“Sangat menyedihkan. Pintu rumahnya terkunci rapat-rapat dan ia berdiam diri di rumah,” jawab mereka.

“Apakah dia tidak punya teman bergaul dan tidak ada yang memberikan santunan?”

Saat malam tiba, sang gubernur tersebut menyiapkan uang dalam bungkusan sebesar 4 ribu dinar, lalu menunggang kuda menuju rumah Khuzaimah didampingi seorang pelayan.

Sesampai di tempat tujuan, ia mengetuk pintu rumah Khuzaimah. Begitu diterima, ia segera menyerahkan bungkusan berisi ribuan dinar tersebut.

“Semoga dengan ini, Allah memperbaiki keadaanmu,” ucap Sang Gubernur.

“Siapakah engkau? Aku tidak bisa menerima pemberian ini sebelum mengetahui siapa dirimu?”

“Jabir, sang temuan para dermawan.”

“Bisa, tolong jelaskan!”

“Tidak.”

Dengan pikiran gundah sekaligus penasaran, lelaki itu membawa bungkusan sembari menunjukkan pada isterinya. Karena tidak ada lampu, mereka berdua hanya bisa meraba dan ternyata dalam bungkusan itu berupa kepingan mata uang dinar.

Dengan uang itu, Khuzaimah melunasi hutang-hutangnya dan memperbaiki hidupnya. Namun, rasa ingin tahu orang yang memberinya uang masih tetap mengganggu pikirannya. Lalu, ia memutuskan untuk pergi menemui Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.

Khalifah yang sudah mengenal Khuzaimah yang dikenal sebagai dermawan, mempersilahkan tamunya masuk.

“Hai Khuzaimah, apa yang menyebabkan engkau tidak datang ke tempatku?” tanya khalifah.

“Kondisiku yang lemah tidak mungkin datang menemuimu?”

“Lantas apa engkau bergegas ke sini sekarang?”

“Keadaan buruk, Amirul Mukminin. Beberapa waktu yang lalu, ada seorang laki-laki datang ke rumahku membawa bungkusan uang seraya menyerahkan bantuan, itulah yang mendorong aku datang ke sini.”

“Apa engkau mengenalnya?” tanya Amirul Mukminin.

“Tidak, Tuanku. Karena ia menolak memperkenalkan diri. Ia hanya menyebut, Jabir Sang Temuan para Dermawan.”

Mendengar jawabannya itu, Khalifah Sulaiman tampak sedih dan terpukul.

“Seandainya kami tahu niscaya ia kami beri perhatian atas tindakannya. Tolong ambilkan pena dan kertas!” 

Lalu Khalifah memberi jabatan gubernur kepada Khuzaimah atas wilayah al-Jazirah dan menggantikan Ikrimah karena dinilai tidak mampu mengungkap misteri Jabir Sang Temuan Para Dermawan yang telah berkali-kali terjadi.

Dengan bekal cukup, Khalifah memberi perintah agar ia segera berangkat ke al-jazirah. Khuzaiman kemudian berangkat. Setibanya di sana, ia sambut oleh Ikrimah dan warga setempat. Mereka mengantarnya hingga kediaman resmi gubernur. Sejak saat itu, ia mulai menangani urusan rakyat dan memilah-milah permasalahan yang sedang dihadapi hingga suatu hari ditemukan bukti bahwa Ikrimah telah menyalahgunakan keuangan tanpa ada bukti penggunaannya.

Khuzaimah menuntut Ikrimah mengembalikan uang itu, namun ia tidak dapat mengembalikannya. Maka Khuzaimah bin Basyar memberi perintah penahanan terhadap Ikrimah. Dalam keadaan diborgol dan dipenjarakan Ikrimah tetap merahasiakan dirinya, bahkan ia berkata kepara para petugas bahwa dirinya bersedia menerima resiko apapun.

Setelah mengalami penderitaan berat selama satu bulan di penjara, akhirnya isteri Ikrimah mendengar tentang berita keadaan suaminya itu. Ia pun sedih dan cemas. Lalu mengirim utusan pembantunya untuk menemui Khuzaimah bin Basyar, seraya berpesan, “Pergilah ke tempat gubernur baru itu, dan katakan kepadanya bahwa aku punya saran penting untuknya dan hanya dapat disampaikan secara langsung empat mata. Jika ia berkenan, katakan kepadanya, ‘Inikah balasan untuk Jabir Sang Temuan Para Dermawan dari Engkau dengan memenjarakan, memborgol dan menyengsarakannya!”

Pesan ini segera disampaikan kepada Gubernur Khuzaimah. Betapa terkejut dan seolah tidak percaya mendengar kata-kata isteri Ikrimah ini. Lalu ia berkata, “Betapa buruknya aku ini. Jadi, Jabir itu sang pemberi hutang budi padaku.”

Tanpa menunda lagi, Khuzaimah segera bergegas menuju ke penjara bersama para tokoh masyarakat. Ketika masuk dan melihat Ikrimah dalam ruang tahanan dengan raut muka yang telah berubah karena mengalami penderitaan berat, Sang Gubernur itu tersayat hatinya. Sementara Ikrimah tertunduk lesu.

Suasana haru. Khuzaimah memeluk Ikrimah dan mencium keningnya.

“Apa yang membuatmu berbuat demikian?” tanya Ikrimah.

“Kemuliaan perbuatanmu dan keburukan perbuatanku,” jawab Sang Gubernur.

“Semoga Allah mengampuni kita.”

Khuzaimah memerintahkan untuk membuka borgol dan melepas ikatan tangan dan kaki Ikrimah.  Keduanya kemudian keluar menuju rumah Khuzaimah. Setelah itu, Khuzaimah mengantarkan Ikrimah kembali ke rumahnya dengan memberikan uang dalam jumlah banyak. Tak lupa ia meminta maaf sebesar-besarnya atas perbuatan yang ia lakukan.

Setelah itu, Khuzaimah mengajak Ikrimah untuk pergi menemui Amirul Mukminin yang saat itu berada di Ramallah. Kedatangan mereka berdua tanpa memberitahukan sebelumnya membuat khalifah terkejut dan terbetik dalam hatinya, kenapa gubernur al-Jazirah menemuinya begitu mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya, mungkinkah ada masalah besar?

“Apa yang membuatmu ke sini, Khuzaimah?” tanya Sang Khalifah.

“Saya telah berhasil memecahkan teka-teki Jabir Sang Temuan para Dermawan, wahai Khalifah.”

“Jadi, siapa dia?” tanya Khalifah.

“Ikrimah al-Fayyadh, gubernur yang engkau gantikan dengan aku!”

Khalifah tidak sabar ingin bertemu dengannya. Kemudian memerintahkan agar Ikrimah dihadapkan padanya.

“Khuzaimah, kebaikanmu justru menjadi bencana bagimu!”

Setelah berbincang, Ikrimah diberi 10 ribu dinar dan berbagai hadiah lainnya. Ia diangkat lagi menjadi gubernur, tidak saja atas wilayah Jazirah, melainkan juga Armenia dan Azerbaijan. Sementara jabatan Khuzaimah keputusannya diserahkan sepenuhnya kepada Ikrimah, apakah diberhentikan atau tetap menjadi gubernur al-Jazirah.

Ikrimah berkata kepada khalifah, “Ia tetap  menjadi gubernur al-Jazirah, wahai Amirul Mukminin.”

Keduanya kemudian pergi meninggalkan tempat. Selama masa pemerintahan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, mereka masing-masing tetap menjadi gubernur di wilayahnya masing-masing.***

Foto:  Pexels/Isa Sebastiao